Jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat melonjak tajam pada April dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, menurut data yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada Selasa.
Namun, gambaran terbaru mengenai dinamika pasar tenaga kerja juga menunjukkan bahwa banyak lowongan tersebut belum berujung pada perekrutan karyawan baru. Pasar kerja AS masih terjebak dalam kondisi “perekrutan rendah, pemutusan hubungan kerja rendah”.
Berdasarkan survei Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), jumlah posisi yang tersedia meningkat menjadi sekitar 7,62 juta pada akhir April, naik dari 6,89 juta pada Maret dan membalikkan tren penurunan yang terjadi selama dua bulan sebelumnya.
Di saat yang sama, jumlah perekrutan baru dan pemutusan hubungan kerja justru turun setelah sempat meningkat tajam pada Maret.
Sementara itu, jumlah pekerja yang secara sukarela mengundurkan diri turun ke level terendah dalam hampir enam tahun terakhir, sebuah sinyal bahwa kepercayaan pekerja terhadap pasar tenaga kerja mulai melemah.
Banyak Lowongan, Sedikit Perekrutan
Menurut Kepala Ekonom American Staffing Association, Noah Yosif, kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja perusahaan dan jumlah karyawan yang benar-benar direkrut sebagian disebabkan oleh meningkatnya biaya tenaga kerja serta ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi.
“Kesalahan merekrut orang yang tidak tepat bisa menjadi sangat mahal bagi perusahaan. Karena itu, pemberi kerja benar-benar meluangkan waktu untuk memastikan mereka mengisi posisi dengan kandidat yang tepat,” kata Yosif
Dengan kata lain, perusahaan masih membuka banyak posisi, tetapi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan perekrutan.
Sinyal Positif bagi Pencari Kerja
Meski demikian, data terbaru ini dianggap memberikan secercah harapan.
Para ekonom mengingatkan bahwa data bulanan sering kali berfluktuasi dan angka April masih dapat direvisi ketika laporan JOLTS untuk Mei diterbitkan. Selain itu, tingkat respons survei yang rendah juga menjadi tantangan dalam berbagai laporan ekonomi belakangan ini.
Namun jika lonjakan lowongan kerja tersebut bukan sekadar anomali sementara, hal itu bisa menjadi indikasi bahwa pasar tenaga kerja AS tidak hanya stabil, tetapi mulai kembali berkembang.
Untuk pertama kalinya sejak Juni tahun lalu, jumlah lowongan pekerjaan kini lebih banyak dibandingkan jumlah pencari kerja.
“Ini merupakan tonggak penting yang dapat memberikan harapan bagi para pencari kerja,” kata Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long.
Kondisi ini dinilai dapat menjadi kabar baik bagi pekerja kantoran yang selama ini menghadapi perlambatan di sektor mereka, serta bagi mereka yang khawatir kehilangan pekerjaan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Sektor Profesional Jadi Motor Utama
Data BLS menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen kenaikan lowongan pekerjaan pada April berasal dari sektor jasa profesional dan layanan bisnis.
Menurut Yosif, hal ini turut menantang anggapan bahwa AI akan menjadi penghancur lapangan kerja dalam skala besar.
“Memang satu laporan belum cukup untuk membentuk tren, tetapi data ini jelas menepis narasi yang selama ini mengkhawatirkan banyak pihak, yakni bahwa kecerdasan buatan akan menjadi pembunuh lapangan kerja,” ujarnya.
“Perusahaan menemukan cara untuk tetap melibatkan manusia, meskipun tanggung jawab pekerjaan kemungkinan akan terus berubah seiring semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut di pasar tenaga kerja.”
Kabar Baik bagi Lulusan Baru
Kepala Ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams, mengatakan peningkatan lowongan pekerjaan di sektor profesional dapat menjadi kabar menggembirakan bagi para lulusan perguruan tinggi yang baru memasuki dunia kerja.
“Secara keseluruhan, lonjakan lowongan pekerjaan pada April merupakan sinyal yang menggembirakan bagi para pencari kerja yang lulus tahun ini. Namun data ini tidak boleh dianggap lebih penting daripada indikator pasar tenaga kerja lainnya,” tulis Adams dalam catatannya kepada investor.
Menurutnya, berbagai data terbaru menunjukkan bahwa lapangan kerja di AS masih bertambah, meskipun pertumbuhannya relatif moderat. Namun laju pertumbuhan pekerjaan tetap lebih cepat dibandingkan pertambahan jumlah pencari kerja.
Ancaman Perang dan Krisis Energi Masih Membayangi
Perputaran tenaga kerja di AS—baik pekerja yang masuk maupun keluar dari pasar kerja—telah melambat secara signifikan dalam dua tahun terakhir.
Para ekonom menilai hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk penuaan tenaga kerja dan gelombang pensiun, normalisasi perekrutan pascapandemi, kemunculan teknologi baru, meningkatnya ketidakpastian ekonomi, serta penurunan tajam imigrasi.
Selain itu, perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta gangguan pasokan energi global juga dikhawatirkan dapat menekan aktivitas perekrutan di masa mendatang.
Yosif mengatakan kekhawatiran tersebut masih relevan, meskipun penggunaan cadangan strategis minyak oleh AS sejauh ini membantu meredam dampak gangguan pasokan energi akibat konflik.
“Baik Amerika Serikat maupun Iran berupaya menunjukkan bahwa kedua pihak sedang bergerak menuju kesepakatan, tetapi kondisi seperti ini tidak bisa dipertahankan selamanya,” katanya.
“Pada akhirnya pasokan minyak akan menipis. Pada akhirnya investor akan menuntut kepastian yang lebih konkret mengenai kapan Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya.”
Ia memperingatkan bahwa apabila ketidakpastian tersebut terus berlanjut, peningkatan pasar tenaga kerja yang terlihat pada awal tahun ini bisa saja berbalik arah.
“Di titik itulah kita mungkin akan mulai melihat pembalikan dari pertumbuhan lapangan kerja yang telah terjadi sejak awal tahun,” ujarnya.
