Lampu berkilat. Dentuman bass menggema. Penonton bersorak histeris saat para penari membuka formasi, memperlihatkan tujuh sosok di atas panggung dengan latar Istana Gyeongbokgung di Seoul.
Itu adalah konser comeback BTS, mungkin boyband paling terkenal di dunia. Namun, kembalinya mereka yang sangat dinanti pada Maret lalu—hampir empat tahun setelah hiatus karena wajib militer—juga memunculkan pertanyaan penting bagi industri K-pop: ke mana arah selanjutnya?
Genre ini kini terlihat sangat berbeda dibanding saat BTS debut pada 2013. K-pop bukan lagi konsep pinggiran atau sekadar fenomena baru; kini ia menjadi fenomena global sekaligus industri bernilai miliaran dolar, memenangkan penghargaan Grammy dan memperkuat pengaruh budaya Korea Selatan di dunia.
Inilah yang disebut sebagai “generasi kelima” K-pop, menurut Grace Kao, profesor sosiologi di Yale University. Para penggemar sering menggambarkan sejarah industri ini sebagai era-era tidak resmi, masing-masing ditandai tren dan gelombang artis baru.
Generasi kedua, yang dimulai awal 2000-an, melihat K-pop mulai menembus pasar regional seperti China, Jepang, dan Asia Tenggara. Generasi ketiga memperluas jangkauan ke Barat, dengan grup seperti BTS dan Blackpink menembus tangga lagu Billboard dan tampil di acara televisi Amerika.
Kini, generasi terbaru memiliki ambisi yang lebih besar—yang bahkan memunculkan pertanyaan mendasar: apakah K-pop masih harus “berbau” Korea?
Sebagai contoh, mini album terbaru Blackpink berjudul “Deadline” hampir sepenuhnya berbahasa Inggris. Selain itu, grup-grup baru kini debut di berbagai belahan dunia, bahkan dengan anggota yang tidak memiliki hubungan dengan Korea Selatan.
“Ada semakin banyak kolaborasi global dan upaya dalam dunia K-pop untuk menjadi lebih mendunia di setiap generasi,” kata Danny Chung, penulis lagu di balik sejumlah hit Blackpink dan pengisi suara Baby Saja dalam serial Netflix “KPop Demon Hunters.”
Fenomena ini juga terjadi di genre musik lain, seiring media sosial membentuk cara kita mengonsumsi dan memproduksi musik. Namun dalam K-pop, perubahan ini terasa lebih kuat karena sifatnya yang “terus berkembang,” ujar Chung, yang juga bekerja di tim A&R perusahaan rekaman The Black Label.
Para ahli menilai fleksibilitas ini justru bisa menjadi bahan bakar ekspansi industri ke luar batas negara dan kategori yang kaku.
“Sulit untuk terus mendefinisikan K-pop karena targetnya selalu bergerak,” kata Chung.
Sejak Awal Memang Ditujukan untuk Global
Sejak awal kemunculannya, K-pop memang dirancang sebagai produk internasional.
“Salah satu ciri K-pop adalah sejak awal berorientasi ekspor,” kata John Lie, profesor sosiologi di University of California, Berkeley.
Hal ini membedakannya dari musik di banyak negara lain. Pendengar Amerika, misalnya, belum tentu mengenal artis pop besar dari Prancis atau Vietnam karena mereka umumnya menyasar pasar domestik. Sementara K-pop sejak 1990-an sudah aktif membangun basis penggemar di Jepang dan China.
Hal ini terlihat dari nama-nama grup awal seperti H.O.T. dan S.E.S. yang sengaja dibuat mudah diucapkan oleh penutur bahasa Inggris, serta penggunaan judul lagu berbahasa Inggris.
Memasuki 2000-an hingga awal 2010-an, agensi mulai melatih artis untuk menguasai bahasa asing dan merekrut anggota dari berbagai negara. Dalam satu grup, biasanya terdapat penutur asli bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, dan lainnya.
Tren ini terus berkembang. Kini agensi juga merekrut anggota dari Asia Tenggara dan berbagai wilayah lain, menjadikan K-pop sebagai entitas “hibrida.” Bahkan penulis lagu, koreografer, hingga produser K-pop sering berasal dari luar Korea.
“Pada dasarnya ini tidak sepenuhnya Korea—tetapi tidak masalah, karena formulanya bisa direplikasi di seluruh dunia,” ujar Lie.
“Metodologi K-Pop” Jadi Kunci
Salah satu contoh paling jelas dari model hibrida ini adalah Katseye—girl group berbasis di Los Angeles yang didukung oleh HYBE, perusahaan di balik BTS.
Sejak debut pada 2024, grup ini memicu perdebatan sengit, terutama di kalangan penggemar internasional, tentang apakah mereka bisa dikategorikan sebagai K-pop. Mereka menyanyi hampir sepenuhnya dalam bahasa Inggris dan memiliki latar belakang etnis beragam, dari Swiss hingga India-Amerika dan Venezuela-Kuba-Amerika.
Namun, mereka dibentuk melalui ajang kompetisi realitas dengan sistem seleksi dan pelatihan ketat khas K-pop.
Di media sosial, perdebatan pun mencuat. Ada yang menyebut Katseye tetap K-pop karena menggunakan sistem tersebut, sementara yang lain menolak karena dianggap tidak cukup “Korea.”
Katseye sendiri menyebut diri sebagai “grup global yang dibentuk dengan metodologi pengembangan artis K-pop.” Pendekatan ini sejalan dengan visi HYBE yang semakin mendunia.
Perusahaan tersebut telah membuka anak usaha dan audisi di berbagai negara, termasuk India, China, Jepang, Amerika Latin, dan AS—dengan tujuan membawa K-pop ke audiens global sekaligus menerapkan sistem K-pop pada musisi lokal.
Artinya, mereka tidak mengubah musik Latin menjadi K-pop, tetapi mengembangkan artis Latin dengan sistem K-pop.
Sistem ini memang kerap dikritik karena ketat dan berdampak pada kesehatan mental artis. Idol sering menghadapi jadwal padat dan aturan ketat, termasuk dalam kehidupan pribadi.
Meski kerap disebut terlalu “terpola,” Chung menilai anggapan itu tidak adil. Baginya, sistem pengembangan artis inilah yang justru mendefinisikan K-pop, bukan sekadar bahasa atau kewarganegaraan.
Lebih dari sekadar pelatihan, K-pop juga mencakup identitas visual yang terkurasi, konsep estetika, pesan dalam lagu, hingga interaksi intens dengan penggemar melalui berbagai platform dan merchandise fisik.
“Tidak banyak genre lain yang membangun dunia seperti ini—yang membuat penggemar merasa menjadi bagian dari sesuatu yang setengah fantasi, setengah pelarian,” ujarnya.
Masa Depan: Lebih Cepat, Lebih Global, Lebih Kompetitif
Ke depan, K-pop diperkirakan akan semakin dipengaruhi gaya “hyperpop”—tempo cepat dengan potongan lirik atau koreografi yang mudah viral di media sosial.
Persaingan juga semakin ketat seiring meningkatnya perhatian global.
Meski demikian, ruang pertumbuhan masih terbuka. Namun, kesuksesan BTS akan sulit ditiru karena kombinasi momentum unik—mulai dari pemanfaatan awal media sosial hingga penetrasi pasar Barat saat pandemi.
Bahkan BTS pun menghadapi tantangan baru. Konser comeback gratis mereka dilaporkan tidak menarik massa sebesar yang diperkirakan di area publik, meski tiket resmi dan siaran langsung tetap sukses besar.
Di sisi lain, industri K-pop tetap sangat menguntungkan. Pendapatan gabungan empat agensi besar—HYBE, YG, SM, dan JYP—hampir tiga kali lipat antara 2019 hingga 2024, mencapai sekitar 3 miliar dolar AS.
Keempat perusahaan tersebut bahkan tengah merencanakan acara besar bernama “Fanomenon,” yang oleh pengguna media sosial dijuluki “K-chella,” merujuk festival Coachella.
Identitas yang Dipertanyakan
Perdebatan tentang apa itu K-pop tampaknya akan terus berlanjut.
Sebagian penggemar Korea mungkin tidak menganggap grup seperti Katseye sebagai K-pop. Sementara bagi banyak penggemar global, daya tarik utama K-pop justru terletak pada unsur “Korea”-nya.
Bagi diaspora Asia di Barat, misalnya, K-pop memberi representasi yang jarang mereka lihat—artis Asia yang menjadi bintang global.
Bagi penonton lain, K-pop membuka pintu ke budaya baru, mendorong wisata ke Seoul dan memperkuat gelombang budaya Korea atau “Hallyu,” yang juga mencakup K-drama, K-beauty, dan kuliner Korea.
Pertanyaannya, jika unsur Korea dihilangkan, apakah penggemar akan tetap bertahan?
John Lie meyakini jawabannya ya. Banyak genre hiburan mencapai puncak dalam satu generasi, namun K-pop adalah “mesin inovasi” yang mampu memperpanjang umur popularitasnya.
Danny Chung pun memahami kekhawatiran penggemar, membandingkannya dengan hip-hop era 1990-an yang kini telah berubah.
“Pada saat yang sama, evolusi tidak bisa dihentikan,” ujarnya. “Perubahan ini membuat K-pop lebih mudah diakses dan bisa dieksekusi secara global. Saya justru penasaran melihat bagaimana dunia akan membawanya ke tahap berikutnya.”
