Bagi para tetangga dan teman-temannya, Hilary Nathan adalah perempuan religius yang pendiam dan mengelola sekolah berkuda di Pulau Burray, salah satu pulau kecil di Orkney, Skotlandia.
Namun, kematiannya di sebuah panti perawatan di pulau tersebut pekan lalu, pada usia 88 tahun, mengakhiri perjalanan hidup luar biasa yang bermula 70 tahun silam di belahan dunia lain, ketika sebuah kasus pembunuhan menghebohkan pengadilan.
Saat berusia 16 tahun dan masih menggunakan nama lahirnya, Pauline Parker, ia dinyatakan bersalah bersama teman sekolahnya, Juliet Hulme, atas pembunuhan ibunya, Honora Parker.
Kasus tersebut mengguncang Selandia Baru dan menarik perhatian dunia.
Dalam persidangan, terungkap bahwa Parker dan Hulme menjadi sangat dekat saat bersekolah di Christchurch Girls’ High School. Khawatir akan terpisah setelah orang tua Hulme bercerai dan keluarganya berencana pindah ke Afrika Selatan, keduanya menyusun rencana untuk membunuh Ny. Parker, yang mereka anggap menghalangi hubungan mereka.
Mereka memancing ibu Parker ke sebuah taman, kemudian memukulinya hingga tewas menggunakan batu bata yang dibungkus di dalam kaus kaki.
Ketika sutradara Sir Peter Jackson lahir pada 1961, kedua perempuan tersebut telah menjalani hukuman penjara selama lima tahun, dibebaskan dengan identitas baru, dan meninggalkan Selandia Baru untuk selamanya.
“Kasus ini dikenal karena aspek sensasionalnya di media tabloid. Saya tahu banyak tabloid Inggris terbang ke Christchurch, Selandia Baru, untuk meliput kasus ‘siswi pembunuh yang jahat’ ini,” kata Jackson
“Mengulang cerita seperti itu tentu mudah, tetapi bukan itu yang ingin kami lakukan. Kami ingin memahami lebih jauh Pauline Parker dan Juliet Hulme, serta apa yang membuat mereka menjalin persahabatan.”
Film Jackson berjudul Heavenly Creatures dibintangi Kate Winslet sebagai Hulme dan Melanie Lynskey sebagai Parker. Film tersebut menggambarkan bagaimana persahabatan intens keduanya berkembang menjadi kehidupan fantasi bersama yang tidak biasa, hingga akhirnya berujung pada pembunuhan brutal.
Pihak pembela mengajukan alasan gangguan jiwa. Namun, keduanya dinyatakan bersalah atas pembunuhan dan hanya terhindar dari hukuman mati karena masih berusia muda.
Pada 1960, setelah menjalani hukuman selama lima tahun di penjara yang berbeda, mereka memperoleh identitas baru dan pindah meninggalkan Selandia Baru.
Pengadilan memerintahkan keduanya agar tidak pernah bertemu lagi. Meski demikian, dalam perjalanan hidup mereka, keduanya sempat tinggal di lokasi yang hanya berjarak sekitar 129 kilometer.
Ketika Heavenly Creatures dirilis pada 1995, Juliet telah tinggal di Portmahomack, Ross-shire, Skotlandia. Ia dikenal sebagai penulis novel kriminal dengan nama barunya, Anne Perry.
Dalam wawancara dengan Late Show, Perry mengatakan tidak berencana menonton film tersebut.
“Rasanya akan sangat menyakitkan,” katanya. “Bagian yang mendekati kenyataan akan membuat saya tertekan, sedangkan bagian yang jauh dari kenyataan justru akan lebih menyakitkan.”
“Rasanya seperti ditelanjangi di jalan utama agar semua orang bisa melihat, mengamati, dan mengusik kita. Saya lebih memilih mengenakan pakaian kembali dan pulang, terima kasih.”
Selama proses pembuatan film, Kate Winslet mengatakan dirinya tidak mengetahui keberadaan kedua perempuan tersebut. Setelah identitas Anne Perry terungkap, sang aktris berharap Pauline Parker tetap dapat mempertahankan anonimitasnya.
“Kedua perempuan ini telah menghabiskan 40 tahun terakhir untuk mengatasi begitu banyak hal agar dapat melanjutkan hidup dan sekadar bertahan,” kata Winslet.
“Saya berharap dia tidak pernah ditemukan.”
Namun, pada 2011, Parker ditemukan oleh pengacara sekaligus penulis kisah kriminal nyata Peter Graham. Ia sebelumnya menulis buku tentang kasus tersebut berjudul So Brilliantly Clever, yang diambil dari catatan harian Parker dan digunakan sebagai barang bukti dalam persidangan.
Seperti Hulme, Parker juga pindah ke Inggris. Ia menetap di sebuah desa kecil di pedesaan Kent dan membuka sekolah berkuda. Pada 2011, ketika telah menggunakan nama Hilary Nathan, ia pindah ke Orkney dan kembali mengelola sekolah berkuda.
Bagi kedua perempuan tersebut, agama dan komunitas kecil yang erat menjadi tempat berlindung. Menurut wawancara dengan saudara perempuannya yang dimuat New Zealand Women’s Weekly, Nathan adalah penganut Katolik yang taat dan menjalani kehidupan tertutup.
Sementara itu, Perry merupakan penganut Mormon. Ia mendapat dukungan dari komunitasnya sendiri ketika para wartawan mulai berdatangan setelah Heavenly Creatures dirilis.
Ia mengatakan, “Media berbondong-bondong mendatangi Portmahomack. Saya sangat terkejut, terutama karena ibu saya tinggal di desa itu. Bukan hanya orang-orang yang menjadi subjek film yang terdampak, tetapi juga semua orang di sekitar mereka. Saya khawatir hal itu akan menghancurkan keluarga saya.”
Meskipun buku-bukunya meraih kesuksesan besar di Amerika Serikat, Perry tidak pernah benar-benar mendapatkan ketenaran yang sepadan di Inggris. Salah satu penyebabnya adalah keengganannya melakukan promosi.
Lynda La Plante, kreator serial Prime Suspect, pernah menyatakan ketertarikannya untuk mengadaptasi buku-buku Perry menjadi serial televisi. Namun, sang penulis menolak rencana tersebut dengan alasan yang sama.
Pada 2001, saya mengunjungi Perry di Portmahomack untuk sebuah wawancara langka dengan program Newsnight Scotland. Saat itu, ia merupakan penulis yang tampil glamor dengan deretan buku yang telah terjual sebanyak 15 juta eksemplar di seluruh dunia.
“Saya pikir, setelah 51 tahun, kita bisa membiarkannya berlalu,” katanya kepada saya. “Itu bukan lagi diri saya sekarang. Selama puluhan tahun, itu juga bukan lagi diri saya.”
Kami tidak membicarakan pembunuhan tersebut secara langsung. Namun, gambaran tentang kejadian itu dan bagaimana kehidupan Perry berkembang dapat ditemukan dalam karya-karyanya.
Tokoh detektif ciptaannya, William Monk, seorang polisi era Victoria, menderita amnesia dan terkadang mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.
“Monk memandang dirinya sebagai dirinya sendiri. Namun, karena kehilangan ingatan, ia harus menghadapi kemungkinan bahwa dirinya sebenarnya adalah orang lain. Hal itu berasal dari perasaan saya sendiri bahwa orang lain memandang saya sebagai monster,” ungkap Perry.
“Tentu saja, pengalaman itu memengaruhi tulisan saya. Saya memiliki jauh lebih banyak belas kasih dan pemahaman terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan dibandingkan jika saya tidak pernah berada dalam posisi tersebut.”
“Persoalan benar dan salah, belas kasih, serta pengampunan menjadi hal yang sangat berarti bagi saya dengan cara yang mungkin tidak akan terjadi seandainya saya tidak menjalani kehidupan seperti yang saya alami.”
Anne Perry meninggal dunia di Los Angeles pada 2023, dalam usia 84 tahun.
Kematian Hilary Nathan pekan lalu mengakhiri kisah luar biasa keduanya, tentang bagaimana mereka membangun kembali kehidupan setelah menjadi sasaran pemberitaan paling keras di dunia dan menemukan kesempatan untuk menebus masa lalu di komunitas kecil Skotlandia.
“Saya akan mengatakan, jika Anda memiliki sesuatu yang menghantui atau membuat Anda merasa malu, jangan pernah menyerah,” kata Anne kepada saya.
“Pengampunan, pemahaman, dan bantuan yang tersedia jauh lebih banyak daripada yang mungkin Anda bayangkan.”
