Setelah tiga tahun perang regional, Israel kini menghadapi pertarungan politik yang sejak lama diperkirakan akan terjadi.
Pemilihan umum pada Selasa berlangsung di tengah perpecahan mendalam di masyarakat Israel dan meningkatnya ketegangan politik.
Jajak pendapat yang dirilis pada Jumat menunjukkan koalisi pemerintahan dan blok oposisi utama bersaing ketat. Sekitar 500.000 pemilih pemula diperkirakan akan memberikan suara, sementara sekitar 70.000 warga Israel dilaporkan terbang dari luar negeri khusus untuk mengikuti pemilu.
Pada Sabtu malam, kerumunan besar pendukung oposisi berkumpul di pusat Tel Aviv untuk menuntut pergantian pemerintahan.
“Kami optimistis,” kata Omri, 21 tahun, kepada saya. “Saya menginginkan perdamaian, keamanan, mengakhiri korupsi, dan menyingkirkan kelompok fanatik agama dari pemerintahan.”
Kampanye pemilu kali ini semakin dinamis berkat penggunaan strategi baru, termasuk video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk menarik perhatian media, serta kemunculan sosok baru dalam persaingan politik.
Gadi Eisenkot mungkin bukan sosok yang diperkirakan banyak orang akan menantang gaya politik Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel yang paling lama menjabat dan dikenal dengan penampilan mencolok, sikap agresif, serta kemampuannya memanfaatkan media.
Bagaimana sistem pemilu Israel bekerja dan siapa kandidat utamanya?
Kelompok sayap kanan Israel menemukan dukungan di kalangan pemilih pemula
Perselisihan mengenai wajib militer yang dapat menentukan masa depan Israel
Eisenkot relatif baru terjun ke dunia politik. Ia berasal dari keluarga kelas pekerja keturunan Maroko dan merupakan mantan kepala staf militer Israel yang dikenal tenang serta menghindari drama politik. Sejumlah pihak bahkan menjulukinya sebagai sosok “nonpolitisi”.
Namun, dalam sejumlah jajak pendapat terbaru, Eisenkot dan partai berhaluan tengah yang dipimpinnya, Yashar, secara konsisten mengungguli Netanyahu dan Partai Likud. Jajak pendapat terakhir dirilis pada Jumat, sesuai dengan ketentuan hukum pemilu Israel.
Politik Israel lebih ditentukan oleh kemampuan membentuk koalisi daripada kemenangan satu partai secara mandiri. Namun, karena persaingan diperkirakan berlangsung sangat ketat, meningkatnya popularitas Eisenkot semakin mempertajam pertarungan yang oleh banyak warga Israel dipandang menentukan masa depan negara mereka.
Pekan lalu, saya melihat Eisenkot melewati kerumunan kamera di sebuah pusat komunitas Yahudi Ethiopia di kota Ramle, di antara sejumlah petugas keamanan dan penasihatnya.
Salah seorang yang datang untuk mendengarkan pidatonya adalah David, pria berpakaian rapi dengan kemeja yang baru disetrika dan jaket biru tua. Ia mengatakan pernah bertemu Eisenkot sebelumnya.
“Dia menatap mata Anda, tidak seperti seorang pemimpin yang memandang rendah orang lain,” kata David kepada saya. “Dia juga mendengarkan. Dia sangat memahami orang lain.”
Daya tarik Eisenkot kerap dikaitkan dengan kepribadian dan latar belakangnya. Mantan perwira militer yang berbicara dengan lembut itu kehilangan putranya dalam perang Gaza. Ia menggambarkan dirinya berasal dari “daerah pinggiran”, bukan dari kalangan elite perkotaan Israel yang kaya.
Latar belakang Marokonya menjadi sorotan dalam pemberitaan pemilu awal bulan ini setelah seorang pembicara yang mendukung Netanyahu menggunakan hinaan bernuansa rasial terhadap Eisenkot dalam sebuah debat televisi, dengan menyebutnya “monyet” Maroko.
“Pemilu ini menyangkut banyak hal,” kata Eisenkot kepada kerumunan di pusat komunitas Ramle. “Ini menyangkut keamanan, ekonomi, pendidikan, tetapi yang paling utama adalah identitas Negara Israel dan Israel seperti apa yang ingin kita lihat. Negara Yahudi, negara demokratis, negara liberal, toleran, dan egaliter.”
Pernyataan itu mendapat sambutan dari kalangan oposisi. Mereka menilai pemerintahan Benjamin Netanyahu mengancam demokrasi Israel, dengan menunjuk pada upayanya membatasi kewenangan lembaga peradilan serta penolakannya membentuk komisi penyelidikan negara untuk mengusut serangan 7 Oktober 2023. Netanyahu beralasan Mahkamah Agung negara itu akan bersikap bias terhadap dirinya.
Bersama sejumlah pemimpin oposisi lainnya, Eisenkot berusaha menarik pemilih dari Partai Likud yang berhaluan kanan dengan menjanjikan pembentukan komisi penyelidikan negara. Sebuah survei terbaru menunjukkan lebih dari 70 persen warga Yahudi Israel mendukung langkah tersebut.
Ia juga berjanji akan menegakkan putusan pengadilan mengenai kewajiban warga Yahudi ultra-Ortodoks menjalani dinas militer nasional. Kebijakan ini mendapat dukungan dari pemilih sayap kanan maupun oposisi.
Benjamin Netanyahu membalas tantangan tersebut dengan kampanye yang berfokus pada keamanan Israel, dengan slogan utama “Tidak Menyerah”.
Ia berulang kali menggambarkan para pesaingnya sebagai pihak yang lemah dalam urusan keamanan. Netanyahu juga memanfaatkan kekhawatiran sebagian pemilih sayap kanan bahwa partai-partai oposisi Yahudi mungkin bersekutu dengan partai-partai Arab Israel untuk memperoleh mayoritas di parlemen. Menurutnya, langkah tersebut dapat membahayakan keamanan nasional.
Sekitar seperlima penduduk Israel merupakan warga Arab. Banyak di antara mereka mengidentifikasi diri sebagai warga Palestina yang berkewarganegaraan Israel.
Pemilu ini merupakan yang pertama sejak serangan 7 Oktober, ketika kelompok bersenjata pimpinan Hamas menerobos pagar perbatasan Gaza, menewaskan hampir 1.200 orang dan menyandera 251 orang.
Serangan tersebut menjadi kegagalan keamanan terburuk Israel. Namun, tiga tahun kemudian, perdana menterinya kembali mencalonkan diri dengan menampilkan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang mampu menjaga keamanan negara.
“Jika militer membangunkannya tepat waktu, kejadian itu tidak akan terjadi,” kata Shlomi Bashar kepada saya. Ia merupakan salah satu pendukung setia Netanyahu yang sedang minum di sebuah kafe bawah tanah di pasar Mahane Yehuda, Yerusalem.
“Dia memang memiliki tanggung jawab tertentu. Namun, setelah 7 Oktober, dia mengubah seluruh Timur Tengah,” tambahnya.
Netanyahu terus menekankan bahwa perang Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran pada tahun-tahun setelah serangan 7 Oktober telah mengurangi ancaman eksistensial terhadap negaranya.
“Kami membutuhkan dia terpilih kembali agar bisa menyelesaikan pekerjaan ini,” kata Shlomi. “Menurut saya, dia adalah salah satu pemimpin terbaik di dunia. Sebagian besar dunia mencintai dan menghormatinya karena dia orang yang kuat dan gagasannya benar.”
Netanyahu secara tradisional mengandalkan basis pemilih sayap kanan yang solid. Namun, dukungannya diperkirakan menyusut dalam pemilu kali ini. Sebagian pemilih mungkin beralih ke partai oposisi seperti yang dipimpin Eisenkot. Sementara itu, sejumlah pemilih Likud yang tetap setia kepada Netanyahu mengatakan serangan 7 Oktober justru mendorong mereka mendukung partai-partai yang lebih kanan.
Letnan Kolonel Eyal Hajbi, perwira cadangan yang memimpin unit pertahanan sipil regional di Sderot, basis dukungan Netanyahu yang terletak tepat di perbatasan Gaza, kehilangan sejumlah teman dan kolega dalam serangan tersebut. Ia menyalakan lilin untuk mengenang mereka setiap hari di kantornya dan mengatakan akan memikirkan mereka saat memberikan suara pada Selasa.
Berdiri di sebuah punggung bukit yang menghadap reruntuhan Gaza utara, ia menunjuk ke hamparan kehancuran tempat militer Israel meratakan kawasan permukiman Beit Lahia dan Beit Hanoun.
“Bagi saya, setelah 7 Oktober, kita seharusnya memusnahkan mereka semua,” katanya. “Pandangan saya terhadap Gaza telah berubah. Sebelumnya, saya tidak akan mengatakan bahwa kita harus menghancurkannya.”
Ia mengatakan dirinya dan keluarganya selalu memilih Likud. Namun, kali ini ia akan memberikan suara kepada partai sayap kanan ekstrem Jewish Power yang dipimpin Itamar Ben Gvir.
“Keluarga saya menjadi jauh lebih ekstrem dibandingkan sebelumnya,” katanya. “Jika dulu kami masih mempertimbangkannya, sekarang kami tidak berpikir dua kali. Kami langsung memilih.”
Jajak pendapat menunjukkan kurang dari 10 persen warga Israel belum menentukan pilihan. Hanya sedikit dari kelompok tersebut yang mempertimbangkan untuk berpindah antara partai-partai pemerintah dan oposisi.
Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional dalam koalisi Netanyahu, berusaha menjangkau pemilih muda melalui kampanye media sosial yang dirancang untuk menarik perhatian luas.
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan untuk salah satu surat kabar terkemuka Israel, Yedioth Ahronoth, dan diterbitkan pada 9 Oktober menunjukkan lebih dari 16 persen pemilih pemula di Israel akan memilih partai-partai sayap kanan ekstrem seperti partai yang dipimpin Ben Gvir.
Di Sderot, sekelompok pemuda berusia 18 tahun dari sebuah sekolah tinggi keagamaan Yahudi di dekat kota itu mengatakan kepada saya bahwa serangan 7 Oktober lebih banyak memengaruhi pandangan politik mereka dibandingkan orang tua mereka. Keempat remaja tersebut berencana memilih partai sayap kanan ekstrem lainnya, Religious Zionism, yang dipimpin Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
“Sekarang, seluruh generasi muda memahami bahwa jalan damai tidak akan berhasil,” kata Aviad Elmahach, salah seorang remaja tersebut. “Orang-orang dewasa yang lebih tua dan sudah terpaku pada pola pikir tertentu lebih sulit berubah. Namun, kaum muda memahami bahwa kita harus menunjukkan kekuatan dan bertindak dengan tangan besi. Itulah satu-satunya cara untuk menang.”
Menurutnya, pelajaran dari serangan 7 Oktober adalah Israel harus mengambil sikap sekeras mungkin dalam hubungannya dengan warga Palestina. Sejak serangan itu, lebih dari 74.000 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Angka-angka tersebut dinilai dapat dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Generasi muda memiliki sudut pandang baru yang belum mengakar dalam politik. Mereka sangat memahami alasan kami memilih Smotrich. Artinya, mempertahankan wilayah dengan kekuatan dan tidak memberikan apa pun kepada warga Palestina melalui langkah-langkah damai,” katanya.
Lebih jauh ke selatan di sepanjang perbatasan Gaza terdapat sejumlah kibbutz, komunitas permukiman kolektif Israel, yang diserbu kelompok bersenjata dalam serangan Hamas. Selama puluhan tahun, kawasan tersebut dikenal sebagai basis kuat kelompok kiri Israel.
Salah satunya adalah Nir Oz, tempat 47 orang tewas dan 76 lainnya disandera pada hari serangan tersebut.
Tiga tahun kemudian, warga mulai kembali ke kawasan itu. Gal Pauker, 26 tahun, membuka kafe anggur setiap Jumat di tepi kebun anggur kecil miliknya yang berdekatan dengan perbatasan Gaza. Sejumlah meja kayu ditempatkan di bawah lembaran kanvas berwarna krem untuk melindungi pengunjung dari terik matahari gurun. Kakeknya, Gideon, tewas dalam serangan 7 Oktober.
Saya bertanya kepada Gal dan ibunya, Galia, apakah serangan tersebut telah mengubah pandangan politik mereka.
“Kita membutuhkan perubahan. Kita tidak bisa lagi hidup dengan pemerintahan ini,” kata Galia. “Dan saya tidak sedang membicarakan keamanan. Hal pertama yang saya bicarakan adalah kemanusiaan.”
Galia, yang sebelumnya memilih partai-partai berhaluan tengah, mengatakan telah memutuskan untuk memilih Eisenkot kali ini karena “dia orang biasa dan saya berharap dia akan terus bertindak sesuai dengan apa yang dia sampaikan”.
Sementara itu, putranya, Gal, masih mempertimbangkan antara Eisenkot dan Partai Demokrat yang berhaluan kiri-tengah, yang dipimpin mantan jenderal militer Yair Golan.
“Saya tidak naif. Saya tahu ada banyak suara yang lebih militan dari generasi muda,” katanya. “Saya tidak tahu apakah Eisenkot akan lebih baik daripada Golan dalam hal keamanan. Namun, menurut saya, kita memiliki masalah yang lebih besar, yaitu ekonomi, persoalan sosial, pendidikan, dan kesehatan. Kita tidak mendapatkan tetangga baru pada 7 Oktober. Itu memang peristiwa besar, tetapi tidak mengubah cara kita memandang diri sendiri.”
Ancaman terhadap keamanan versus ancaman terhadap demokrasi merupakan dua poros lama yang membentuk pilihan politik warga Israel. Serangan 7 Oktober dan empat tahun pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel semakin memperdalam perpecahan tersebut.
Namun, dalam sejumlah persoalan internasional yang paling penting, perbedaan antara pemerintah dan oposisi tidak sebesar yang terlihat.
Gadi Eisenkot berjanji mengakhiri pemerintahan Hamas di Gaza dalam waktu 18 bulan, baik melalui rencana perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat maupun melalui “kemampuan militer dan operasional”.
Seluruh pemimpin utama oposisi menyatakan dukungan terhadap suatu bentuk permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Permukiman tersebut berkembang pesat di bawah pemerintahan saat ini dan dinyatakan ilegal menurut hukum internasional.
Tidak satu pun dari mereka secara terbuka berkomitmen mendukung pembentukan negara Palestina yang berdaulat sepenuhnya, sebuah gagasan yang telah berulang kali ditolak Netanyahu. Eisenkot berbicara mengenai penciptaan kondisi bagi “otonomi atau negara dengan kedaulatan terbatas”, yang tetap berada di bawah kendali keamanan Israel secara menyeluruh.
Pemungutan suara pada Selasa berpotensi berakhir tanpa pemenang yang mampu membentuk pemerintahan mayoritas. Baik koalisi pemerintah maupun oposisi mungkin membutuhkan dukungan partai-partai Arab, yang menurut jajak pendapat diperkirakan memperoleh cukup kursi untuk menjadi penentu pembentukan pemerintahan.
Sejauh ini, semua partai oposisi Yahudi di Israel kecuali satu menolak bekerja sama dengan salah satu dari dua blok partai Arab.
Di tengah meningkatnya peringatan Netanyahu mengenai ancaman baru dari Iran, pernyataan kubu oposisi tentang kemungkinan gangguan terhadap pemungutan suara, serta peringatan aktivis hak asasi manusia Israel mengenai potensi lonjakan kekerasan oleh para pemukim di Tepi Barat yang diduduki, ketidakstabilan politik dalam negeri dapat membuat warga Israel menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni ujian baru bagi demokrasi dan ancaman keamanan yang kembali meningkat.
