Pemimpin Serbia yang telah lama berkuasa, Aleksandar Vučić, mengakui kekalahan dari gerakan protes yang dipimpin mahasiswa dalam pemilihan parlemen dini.
“Kami masih belum memiliki hasil akhir … tetapi jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilu ini,” kata pemimpin populis sayap kanan tersebut saat mengakui kekalahan pada Minggu malam.
Data sementara dari komisi pemilihan umum Serbia menunjukkan tingkat partisipasi pemilih mencapai rekor tertinggi. Sejumlah pengamat sebelumnya menilai tingginya partisipasi tersebut akan menguntungkan gerakan mahasiswa. Perayaan pun pecah setelah Vučić mengakui kekalahannya.
Vučić menggelar pemilu dini setelah dua tahun berlangsungnya aksi protes yang dipicu oleh runtuhnya kanopi stasiun kereta di kota Novi Sad. Insiden tersebut menewaskan 16 orang dan dipandang sebagai simbol korupsi serta kelalaian.
Vučić telah menjalani dua masa jabatan sebagai presiden sehingga tidak dapat mencalonkan diri untuk periode ketiga. Karena itu, ia memimpin Partai Progresif Serbia (SNS) dalam pemilu tersebut dengan tujuan kembali menduduki jabatan perdana menteri, posisi yang ditinggalkannya pada 2017.
Ilija Srdanović, kandidat unggulan dari Daftar Mahasiswa (Student List), mengatakan “Ini akan menjadi negara yang bebas.”
Ia mengatakan gerakan antikorupsi tersebut, yang berhasil menarik dukungan para pemilih ant pemerintah dari berbagai wilayah Serbia, berharap dapat “membebaskan negara ini dari tirani”.
Perayaan berlangsung di jalan-jalan kota. Warga menari dan meneriakkan kata “kemenangan”, sementara suara klakson mobil dan kembang api turut memeriahkan suasana.
“Serbia sudah bebas,” kata seorang mahasiswa. “Ini seperti keajaiban.”
Dalam pidato perayaan, kandidat Student List, Radomir Saicic, mengatakan rakyat Serbia telah menunjukkan bahwa “tidak ada rintangan yang lebih besar daripada tekad mereka”, seperti dilaporkan Reuters.
“Tidak ada kekuatan yang bisa selamanya menundukkan rakyat yang telah memutuskan untuk mengambil nasib mereka sendiri ke tangan mereka,” tambahnya.
Di tengah suasana perayaan dengan warga menari di jalan-jalan Beograd, Selena Lebovic menyebut hasil pemilu tersebut “sungguh luar biasa”.
“Kami semua menangis. Saya tidak tahu harus berkata apa. Kami tidak percaya semuanya bisa semudah ini,” ujarnya kepada Reuters.
Vučić menyampaikan pengumuman kekalahannya di markas Partai Progresif Serbia (SNS) di ibu kota Beograd.
Pusat kota Novi Sad, kota di wilayah utara Serbia yang menjadi pemicu gelombang protes mahasiswa, dipadati warga. David Vasić, salah seorang yang ikut merayakan hasil pemilu, mengatakan, “Semuanya akan menjadi lebih baik sekarang.”
Student List, gerakan yang tidak memiliki pemimpin utama yang jelas dan beranggotakan orang-orang yang belum terbiasa terjun ke dunia politik, berhasil menarik dukungan pemilih ant pemerintah dari berbagai wilayah Serbia.
Gerakan tersebut memutuskan untuk mengajukan kandidat bagi 250 kursi parlemen dari berbagai latar belakang masyarakat Serbia, termasuk dokter, aktor, akademisi, dan tokoh olahraga.
Dalam kampanyenya, gerakan antikorupsi tersebut mengusung sejumlah agenda, antara lain membersihkan pemerintahan dari pejabat yang melanggar aturan dalam tindakan keras terhadap demonstran, mencegah loyalis partai memimpin perusahaan milik negara, serta membebaskan lembaga penyiaran publik dari kendali politik.
Vučić dan Partai SNS berulang kali membantah tuduhan korupsi.
Vučić mendukung upaya Serbia untuk bergabung dengan Uni Eropa, tetapi menolak menjatuhkan sanksi terhadap Rusia atas invasi skala penuh ke Ukraina. Dalam kampanyenya, ia berjanji menaikkan pensiun dan gaji pegawai sektor publik, serta meningkatkan investasi pada layanan kesehatan milik negara.
Data sementara yang dirilis komisi pemilihan umum Serbia menunjukkan tingkat partisipasi pemilih mencapai rekor tertinggi. Sebanyak 64,9 persen pemilih telah memberikan suara hingga pukul 18.00 waktu setempat atau pukul 17.00 GMT, dua jam sebelum tempat pemungutan suara dijadwalkan tutup.
Sejak pagi, antrean panjang terlihat di luar tempat pemungutan suara di berbagai kota dan kawasan permukiman di Serbia.
Antrean serupa juga terlihat di tempat pemungutan suara di sejumlah negara yang memiliki komunitas warga Serbia dalam jumlah besar, termasuk Ljubljana, ibu kota Slovenia, Munich di Jerman, serta Los Angeles dan Chicago di Amerika Serikat.
Di Prancis, para pemilih Serbia mengantre di Paris meskipun hujan deras mengguyur kota tersebut.
Pemilu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di seluruh Serbia. Polisi menutup sejumlah jalan di sekitar Komisi Pemilihan Umum Republik (RIK) di Beograd.
