Sebanyak 55 asosiasi anggota UEFA sepakat akan memboikot seluruh ajang Piala Dunia apabila badan sepak bola dunia, FIFA, tetap melanjutkan rencana menjual sebagian kepemilikan kompetisinya kepada investor swasta.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat darurat yang digelar untuk membahas proposal yang diumumkan FIFA pada awal pekan ini.
Di sisi lain, Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf), yang menaungi 41 asosiasi anggota dan menjadi penyelenggara Piala Dunia tahun ini, menyatakan seluruh anggotanya telah “menolak” proposal yang diajukan Presiden FIFA Gianni Infantino setelah menggelar pertemuan pada Kamis waktu setempat.
Sejumlah sumber menyebut negara-negara anggota Concacaf juga mulai kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.
UEFA sebelumnya telah menyatakan penolakannya melalui dua pernyataan keras, dan sikap tersebut kini ditegaskan kembali.
“Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi,” demikian pernyataan UEFA pada Kamis.
“Turnamen ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar dalam sejarah sepak bola. Piala Dunia dibangun selama beberapa generasi oleh para pemain, tim nasional, dan suporter dari seluruh dunia. Tidak ada satu pun bagian dari kompetisi ini yang boleh diserahkan kepada investor swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual.”
Ancaman boikot UEFA akan mencakup seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia putra, Piala Dunia putri, hingga Piala Dunia Antarklub, jika proposal Gianni Infantino disetujui melalui pemungutan suara oleh asosiasi anggota FIFA.
Ujian pertama terhadap sikap tersebut diperkirakan terjadi pada Oktober mendatang, ketika babak play-off Piala Dunia Putri dijadwalkan berlangsung.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, dan Chief Executive Mark Bullingham disebut menjadi salah satu tokoh yang menyampaikan pandangannya dalam rapat UEFA. Suasana pertemuan digambarkan berlangsung sangat panas karena kuatnya penolakan terhadap proposal tersebut.
Meski menjabat sebagai salah satu dari delapan wakil presiden FIFA, Hewitt disebut sama sekali tidak mengetahui pembahasan yang dilakukan Infantino terkait proposal tersebut.
Apa Isi Rencana Gianni Infantino?
FIFA berencana membentuk anak perusahaan komersial yang akan mengelola seluruh kompetisi utamanya, termasuk Piala Dunia. Melalui perusahaan tersebut, investor eksternal dapat membeli sebagian saham.
FIFA menyatakan akan “mengundang pihak ketiga untuk melakukan investasi minoritas tanpa hak kendali” pada perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Rencana tersebut harus disetujui melalui pemungutan suara oleh 211 asosiasi anggota FIFA.
Infantino membutuhkan sedikitnya 106 suara agar proposal itu lolos. Sementara itu, anggota UEFA dan Concacaf secara keseluruhan berjumlah 96 asosiasi dan diperkirakan akan memberikan suara penolakan.
Dalam surat yang dikirim kepada seluruh anggota FIFA, Infantino menjanjikan dana sebesar US$40 juta (sekitar Rp652 miliar) bagi setiap federasi yang mendukung proposal tersebut.
Ia juga menetapkan batas waktu hingga 19 September bagi federasi yang ingin menerima tahap awal dana sebesar US$20 juta (sekitar Rp326 miliar).
Dalam sebuah video yang dirilis FIFA pada Rabu, Infantino membela rencana tersebut dan menyebutnya sebagai “sebuah tawaran, bukan kewajiban.”
Jika proposal disetujui, FIFA menyebut perusahaan investasi Thrive Eternal diperkirakan akan memimpin kelompok investor untuk FFE.
Thrive merupakan perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat yang didirikan Joshua Kushner, adik dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sumber internal FIFA mengatakan bahwa tidak pernah ada pembahasan mengenai kemungkinan Infantino maupun pihak lain menjadi Chief Executive Officer FFE.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan belum memiliki tanggapan atas proposal yang diajukan Infantino.
UEFA: FIFA Gagal Memimpin Sepak Bola Dunia
Dalam pernyataan setelah rapat virtual yang dipimpin Presiden UEFA Aleksander Ceferin pada Kamis, UEFA menegaskan bahwa seluruh 55 anggotanya “bersatu.”
“Kami secara bulat dan tanpa keraguan menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta.”
Sehari sebelumnya, UEFA telah menuduh FIFA menggunakan sepak bola “untuk memperkaya diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.”
Nada pernyataan pada Kamis bahkan jauh lebih keras.
UEFA menyebut sangat “tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dibenarkan” bahwa proposal sebesar itu disusun secara tertutup tanpa konsultasi yang berarti dengan pihak-pihak yang selama ini mengelola sepak bola.
“Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan yang serius, melainkan bentuk pengabaian tanggung jawab FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia.”
“Seluruh asosiasi nasional kini dihadapkan pada ultimatum, menerima pengambilalihan permanen terhadap kompetisi terbesar sepak bola atau menanggung konsekuensinya.”
“Ini bukan keputusan demokratis, melainkan tata kelola melalui intimidasi, sebuah bentuk pemaksaan yang tidak pantas dilakukan oleh lembaga yang dipercaya mengelola sepak bola dunia.”
Meski hanya mewakili sekitar seperempat anggota FIFA, UEFA menaungi sebagian besar negara dengan prestasi terbaik di sepak bola dunia.
Pada Piala Dunia musim panas tahun ini, enam dari delapan tim perempat final berasal dari Eropa, termasuk juara turnamen, Spanyol.
Pada edisi 2022 dan 2018, masing-masing terdapat lima dan enam tim Eropa di babak delapan besar.
Dari total 23 edisi Piala Dunia yang telah digelar, 13 di antaranya dimenangkan negara-negara Eropa, sedangkan 10 sisanya menjadi milik negara-negara Amerika Selatan.
Wakil Presiden UEFA Laura McAllister menyebut proposal FIFA sebagai “ancaman nyata terhadap keberlangsungan sepak bola.”
Mantan pemain tim nasional Wales itu mengatakan bahwa ia berharap boikot tidak benar-benar terjadi.
“Saya optimistis itu tidak akan terjadi karena kenyataannya pusat kekuatan sepak bola dunia berada di Eropa.”
McAllister mengatakan terdapat “persatuan yang sangat kuat” di antara anggota UEFA serta kesepakatan penuh untuk mengambil langkah paling tegas menghadapi ancaman tersebut.
“Faktanya kami tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan ancaman yang sepadan dengan proposal mengerikan dan berpotensi menjadi bencana ini, yang dipaksakan tanpa kajian mendalam, tanpa tata kelola yang baik, dan tanpa konsultasi.”
Dukungan Terhadap Sikap UEFA Terus Mengalir
Juru bicara Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengatakan Inggris berdiri “bahu-membahu” bersama rekan-rekan mereka di Eropa.
“Kami menolak rencana FIFA. Piala Dunia adalah milik sepak bola dan akan selalu demikian.”
Asosiasi Sepak Bola Skotlandia juga menyatakan dukungan penuh. Dewan organisasi itu menilai proposal tersebut diterbitkan tanpa konsultasi menyeluruh maupun pertimbangan terhadap prinsip tata kelola yang baik.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Skotlandia Mike Mulraney juga menjabat sebagai Ketua Komite Keuangan FIFA.
Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy mengatakan keputusan UEFA merupakan sikap yang berdasarkan prinsip.
“Sepak bola adalah milik para penggemar, bukan investor miliarder. Sudah cukup. Saatnya mengambil sikap untuk melindungi olahraga kita.”
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga mengkritik proposal tersebut beberapa hari sebelumnya dengan mengatakan bahwa FIFA akan “menjual” sepak bola apabila tetap menjalankan rencana itu.
Concacaf menyatakan seluruh anggotanya menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap tidak adanya proses yang semestinya serta tenggat waktu yang dinilai terlalu singkat.
Konfederasi tersebut juga mempertanyakan alasan FIFA mencari investor swasta setelah badan itu mengklaim baru saja menyelenggarakan Piala Dunia paling menguntungkan sepanjang sejarah.
Concacaf meminta para anggota Dewan FIFA dari kawasan tersebut berdialog dengan FIFA mengenai pemanfaatan cadangan dana yang sudah dimiliki untuk mendukung pembangunan sepak bola di kawasan mereka, sekaligus mendesak Infantino menjalankan tata kelola yang sesuai.
Direktur Eksekutif Football Supporters’ Europe, Ronan Evain, menyebut sikap UEFA sebagai “langkah yang sangat mengesankan” sekaligus “demonstrasi kekuatan yang sesungguhnya.”
“Ini adalah respons yang dibutuhkan sepak bola dan respons yang layak diterima Gianni Infantino.”
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan kecewa karena tidak diajak berkonsultasi sebelum proposal dipublikasikan.
Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengumumkan Presiden Patrice Motsepe akan menggelar rapat komite eksekutif pekan depan guna mengevaluasi proposal tersebut.
World Leagues Association (WLA) juga meminta FIFA membatalkan rencana tersebut, dan Liga Primer Inggris, yang merupakan anggota WLA, menyatakan sepenuhnya mendukung sikap tersebut.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Untuk saat ini masih banyak ketidakpastian.
FIFA telah dimintai tanggapan atas pernyataan UEFA, namun belum diketahui bagaimana respons organisasi tersebut maupun Gianni Infantino.
Belum jelas pula bagaimana dampaknya terhadap Piala Dunia Putri U-20 yang dijadwalkan berlangsung di Polandia mulai 5 September, sebelum batas waktu 19 September bagi asosiasi yang ingin memperoleh pembayaran awal sebesar US$20 juta.
Belum diketahui pula apakah FIFA masih dapat memenuhi target memperoleh gelombang pertama investasi swasta pada akhir Oktober.
Mantan Ketua FA David Bernstein mengatakan bahwa menurutnya Infantino pada akhirnya harus mundur dari rencana tersebut.
“Kesepakatan ini tidak bisa diterima. Jika FIFA ingin mencari pendanaan, masih banyak cara lain yang jauh lebih baik.”
“Dalam organisasi yang normal, kegagalan sebesar ini mungkin akan membuat pemimpinnya kehilangan jabatan.”
“Namun FIFA bukan organisasi yang normal. Jika Infantino tetap mendapat dukungan cukup dari asosiasi nasional, ia akan tetap bertahan.”
Tanpa adanya penyelesaian, UEFA berpotensi berada di luar struktur tata kelola sepak bola dunia.
Meski demikian, Bernstein tidak yakin situasi akan sampai sejauh itu.
“Saya tidak percaya dalam jangka panjang akan terjadi perpecahan permanen karena semua pihak akan sama-sama dirugikan.”
“FIFA tidak mampu menyelenggarakan kompetisinya tanpa negara-negara Eropa. Sebaliknya, Eropa juga pada akhirnya membutuhkan FIFA.”
Analisis: Krisis Ini Disebut Sebesar Kontroversi European Super League
Koresponden utama sepak bola, Simon Stone, menilai polemik ini merupakan salah satu krisis terbesar dalam sejarah sepak bola modern, setara dengan kontroversi European Super League.
Menurutnya, isu ini jauh melampaui sekadar persoalan transfer pemain karena menyangkut fondasi utama tata kelola sepak bola dunia.
Stone menilai masuknya investor swasta ke dalam kompetisi FIFA pada akhirnya berpotensi mendorong penambahan jumlah turnamen maupun frekuensi penyelenggaraannya.
Akibatnya, kalender pertandingan akan semakin padat dan berdampak hingga ke seluruh struktur kompetisi domestik di berbagai negara.
UEFA, yang selama ini juga sempat dikritik karena memperluas kompetisi antarklubnya, diyakini memiliki kekuatan untuk menggagalkan rencana FIFA.
Tanpa keikutsertaan negara-negara Eropa, Piala Dunia akan kehilangan tiga dari empat semifinalis edisi musim panas tahun ini serta enam dari delapan peserta perempat final. Pada Piala Dunia Putri terakhir, tiga dari empat semifinalis juga berasal dari Eropa. Begitu pula pada Piala Dunia Antarklub tahun lalu, tiga dari empat semifinalis merupakan wakil Eropa.
Tanpa tim-tim Eropa, sangat sulit membayangkan FIFA mampu menghasilkan pendapatan komersial sebesar yang dibutuhkan untuk memenuhi nilai investasi yang dijanjikannya.
Menurut Stone, besarnya dampak persoalan ini terhadap masa depan sepak bola dunia hampir tidak bisa dilebih-lebihkan.
