Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan keputusan untuk keluar dari OPEC dan OPEC+, dengan alasan ingin lebih fokus pada “kepentingan nasional”. Langkah ini menjadi pukulan besar bagi kelompok negara pengekspor minyak, terutama di tengah perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang telah memicu guncangan energi bersejarah dan menggoyang ekonomi global.

Keputusan tersebut, yang akan mulai berlaku pada Jumat, disebut mencerminkan “visi strategis dan ekonomi jangka panjang UEA serta profil energi yang terus berkembang”, menurut pernyataan yang dikutip media pemerintah pada Selasa.

“Selama berada di organisasi ini, kami telah memberikan kontribusi besar dan bahkan pengorbanan yang lebih besar demi kepentingan bersama,” bunyi pernyataan itu. “Namun, saatnya telah tiba untuk memfokuskan upaya pada apa yang menjadi kepentingan nasional kami.”

Keluarnya UEA, anggota lama OPEC, berpotensi menimbulkan kekacauan dan melemahkan kartel minyak tersebut, yang selama ini berupaya menampilkan persatuan meskipun kerap diwarnai perbedaan internal, mulai dari isu geopolitik hingga kuota produksi.

Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, mengatakan keputusan itu diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap strategi energi negara tersebut. Ketika ditanya apakah UEA telah berkonsultasi dengan Arab Saudi—anggota utama OPEC—ia menegaskan bahwa tidak ada pembahasan dengan negara lain.

“Ini adalah keputusan kebijakan. Diambil setelah kajian mendalam terhadap kebijakan saat ini dan masa depan terkait tingkat produksi,” ujarnya kepada Reuters.

Produsen minyak di kawasan Teluk yang tergabung dalam OPEC sebelumnya juga menghadapi kesulitan menyalurkan ekspor melalui Selat Hormuz—jalur sempit antara Iran dan Oman yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. Gangguan ini terjadi akibat ancaman dan serangan terhadap kapal selama konflik berlangsung.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menuduh OPEC “memeras dunia” dengan menaikkan harga minyak. Ia juga mengaitkan dukungan militer AS di kawasan Teluk dengan harga energi, dengan menyatakan bahwa negara-negara anggota OPEC “memanfaatkan perlindungan tersebut dengan menetapkan harga tinggi”.

UEA pertama kali bergabung dengan OPEC melalui emirat Abu Dhabi pada 1967, sebelum menjadi anggota sebagai negara berdaulat pada 1971.

Kartel minyak yang berbasis di Wina itu dalam beberapa tahun terakhir memang mulai kehilangan pengaruh pasar, seiring peningkatan produksi minyak mentah Amerika Serikat.

Selain itu, UEA dan Arab Saudi juga semakin bersaing dalam isu ekonomi dan politik kawasan, terutama di wilayah Laut Merah.

Kedua negara sebelumnya tergabung dalam koalisi yang memerangi pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran sejak 2015. Namun, kerja sama itu merenggang dan berujung saling tuding pada akhir Desember, ketika Arab Saudi membombardir apa yang disebut sebagai pengiriman senjata untuk kelompok separatis Yaman yang didukung UEA.

Perusahaan riset energi Rystad Energy menilai keluarnya UEA sebagai perubahan signifikan bagi kelompok produsen minyak tersebut.

“Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari, serta ambisi untuk meningkatkan produksi, berarti kelompok ini kehilangan salah satu alat pentingnya,” ujar Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.

“Dengan permintaan yang mendekati puncak, perhitungan bagi produsen berbiaya rendah berubah cepat. Menunggu giliran dalam sistem kuota mulai terlihat seperti membuang peluang keuntungan,” lanjutnya.

“Arab Saudi kini harus memikul beban lebih besar dalam menjaga stabilitas harga, dan pasar kehilangan salah satu peredam guncangan yang tersisa.”

Share.
Leave A Reply