Seorang pilot dan 11 penumpang tewas setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh sesaat setelah lepas landas dari sebuah bandara di negara bagian Missouri, Amerika Serikat, pada Minggu. Insiden ini menjadi salah satu kecelakaan pesawat terjun payung paling mematikan di Amerika Serikat dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA), pesawat tersebut baru saja lepas landas dari Bandara Memorial Butler sekitar pukul 11.35 waktu setempat ketika mengalami masalah saat memperoleh ketinggian visual. Pesawat kemudian berbelok tajam ke kiri sebelum jatuh sekitar 300 yard atau sekitar 274 meter dari landasan pacu.
Penjelasan itu disampaikan oleh Dennis Jacobs, pelaksana tugas manajer bandara sekaligus direktur manajemen darurat Bates County.
Pesawat jatuh di sebuah ladang yang berada di dekat bandara dan kemudian dilalap api, kata Sersan Justin Ewing dari Patroli Jalan Raya Missouri kepada Associated Press.
Jacobs mengatakan ia meyakini pesawat mengalami kehilangan tenaga mesin.
Menurutnya, pilot berusaha mengarahkan pesawat menuju jalan raya untuk melakukan pendaratan darurat. Namun pesawat kehilangan daya angkat dan jatuh dengan posisi hidung terlebih dahulu menghantam tanah.
Penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua tahun untuk menentukan penyebabnya.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa tim penyelidik dijadwalkan tiba di lokasi pada Senin.
Analis keselamatan penerbangan , David Soucie, sependapat dengan dugaan Jacobs bahwa pesawat kemungkinan mengalami kehilangan tenaga. Namun ia menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan penyebabnya.
Menurut Soucie, jenis mesin yang digunakan pesawat tersebut dikenal cukup andal. Ia memperkirakan masalah dapat disebabkan oleh adanya air dalam bahan bakar atau gangguan pada filter bahan bakar, bukan karena perawatan yang buruk maupun kurangnya pengalaman pilot.
Pesawat bermesin turboprop tunggal itu dioperasikan oleh Skydive Kansas City, perusahaan yang telah beroperasi sejak 1998 dan memiliki perusahaan afiliasi penyedia layanan terjun payung di Indianapolis serta Wisconsin.
“Ini adalah kehilangan yang sangat besar bagi semua pihak yang terkait dengan Skydive Kansas City dan komunitas terjun payung secara luas,” kata perusahaan tersebut dalam pernyataan kepada stasiun televisi KCTV
“Saat ini fokus manajemen dan pemilik perusahaan adalah membantu proses penyelidikan serta mendukung staf dan komunitas terjun payung yang terdampak. Seluruh tim masih dalam keadaan syok dan komunitas ini sangat erat satu sama lain.”
Petugas melakukan penyisiran lokasi kecelakaan baik secara langsung maupun menggunakan drone untuk memastikan apakah ada penumpang yang sempat melompat keluar dari pesawat sebelum jatuh.
Sebagian Korban Merupakan Penerjun Payung Berpengalaman
Pejabat setempat mengatakan sembilan korban merupakan penerjun payung berpengalaman, sementara dua lainnya berencana melakukan lompatan tandem atau terjun payung bersama instruktur.
Travis Phippen, yang mengaku kehilangan beberapa sahabat dalam kecelakaan tersebut, menggambarkan peristiwa itu sebagai sesuatu yang “sangat memilukan”.
“Komunitas terjun payung sangat erat. Beberapa orang yang berada di pesawat itu memberikan pengaruh besar bagi banyak orang, termasuk saya sendiri,” katanya.
“Kami semua memahami dan menerima bahwa olahraga ini memiliki risiko bawaan. Namun kehilangan begitu banyak teman dan anggota komunitas yang dihormati dalam satu peristiwa sekaligus benar-benar menghancurkan.”
Hingga kini identitas para korban belum diumumkan kepada publik.
Pejabat juga mengungkapkan bahwa sejumlah anggota keluarga korban menyaksikan langsung kecelakaan tersebut.
“Ini sangat berat,” kata anggota DPR Amerika Serikat dari Missouri, Mark Alford.
“Hari ini sebenarnya cuacanya indah. Langit biru, rumput hijau, orang-orang sedang menikmati aktivitas mereka. Beberapa dari korban kemungkinan adalah peserta yang baru pertama kali akan mencoba terjun payung tandem.”
Aparat penegak hukum tingkat lokal dan negara bagian dikerahkan ke lokasi kejadian. Tim konselor krisis dari Behavioral Health Strike Team milik Departemen Kesehatan Mental Missouri juga diterjunkan untuk membantu keluarga korban dan para saksi.
Gubernur Missouri, Mike Kehoe, menyampaikan belasungkawa atas tragedi tersebut.
“Hati kami bersama keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta dalam kecelakaan tragis pesawat terjun payung di dekat Bandara Memorial Butler hari ini,” tulisnya.
Bandara Memorial Butler merupakan bandara kecil di wilayah pedesaan Missouri yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Kansas City. Bandara tersebut tidak melayani penerbangan komersial terjadwal.
Bandara hanya memiliki satu landasan pacu sepanjang hampir 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer dan tidak dilengkapi menara pengawas. Para pilot menggunakan frekuensi komunikasi bersama untuk mengumumkan pergerakan penerbangan mereka.
Pihak berwenang menyatakan bandara akan ditutup untuk waktu yang belum ditentukan.
Regulasi Pesawat Terjun Payung Kembali Disorot
Menurut data Asosiasi Parasut Amerika Serikat (USPA), dalam satu dekade terakhir terdapat delapan kecelakaan pesawat yang terkait dengan aktivitas terjun payung dan menyebabkan total 25 korban jiwa.
Di dekat bandara yang sama pada Mei 2024, seorang pilot dan enam penumpang berhasil melompat keluar dari pesawat sesaat sebelum pesawat tersebut jatuh. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Pesawat yang digunakan untuk kegiatan terjun payung di Amerika Serikat diatur berdasarkan Bagian 91 regulasi FAA, aturan yang juga berlaku bagi pesawat kecil penerbangan umum yang diterbangkan pilot pribadi.
Regulasi ini jauh lebih longgar dibandingkan aturan Bagian 121 yang mengatur sebagian besar pesawat komersial penumpang.
Dalam konferensi pers tahun 2019 terkait kecelakaan pesawat terjun payung di Hawaii yang menewaskan 11 orang, anggota Dewan NTSB, Jennifer Homendy, mengatakan FAA telah mengabaikan banyak rekomendasi untuk memperketat regulasi keselamatan operator pesawat terjun payung.
Sebelum insiden di Missouri, kecelakaan di Hawaii tersebut merupakan kecelakaan pesawat terjun payung paling mematikan sejak 1995.
“Aktivitas terjun payung memang memiliki risiko bawaan dan ada berbagai langkah untuk mengurangi risiko tersebut. Namun penumpang yang membayar berhak mendapatkan pesawat yang layak terbang, pilot yang terlatih dengan baik, operator yang aman, serta pengawasan federal yang memadai,” kata Homendy saat itu.
Pesawat yang jatuh pada Minggu merupakan tipe Pacific Aerospace 750XL yang diproduksi pada 2010, menurut catatan FAA.
Pesawat tersebut cukup populer untuk aktivitas terjun payung, tetapi juga digunakan untuk berbagai keperluan lain seperti pengangkutan kargo, survei udara, dan evakuasi medis.
Pesawat mampu mengangkut hingga 17 penerjun payung serta dapat lepas landas dan mendarat di landasan pendek.
Data situs pelacak penerbangan FlightAware menunjukkan pesawat itu telah menyelesaikan dua penerbangan singkat pada Minggu pagi, masing-masing sekitar pukul 09.20 dan 10.32 waktu setempat, sebelum akhirnya mengalami kecelakaan fatal.
Catatan FAA menunjukkan pesawat tersebut terdaftar atas nama perusahaan SkyHi Aero yang berbasis di Tennessee.
