Hal pertama yang dipelajari Mohammad Junaid tentang pendidikan adalah bahwa pendidikan mampu mengubah nasib seseorang.
Kedua orang tuanya tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Mereka menggarap sebidang kecil lahan pertanian di pinggiran Ghaziabad, India utara, dan sama-sama tidak bisa membaca maupun menulis. Meski demikian, mereka selalu berbicara tentang ilm, kata dalam bahasa Urdu yang berarti ilmu pengetahuan, dengan penuh penghormatan. Apa pun yang terjadi, mereka selalu berpesan kepada anak-anaknya agar terus belajar. Pendidikan adalah satu-satunya hadiah berharga yang mampu mereka berikan.
Itulah sebabnya mahasiswa hukum berusia 24 tahun itu mengatakan dirinya akhirnya terlibat dalam penyelenggaraan salah satu aksi protes mahasiswa terbesar di India dalam beberapa tahun terakhir.
Kini, Junaid mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung India dengan tuduhan bahwa dirinya ditahan secara tidak sah karena perannya dalam aksi tersebut.
Junaid mengaku ditahan polisi sehari sebelum aksi unjuk rasa yang digelar Cockroach Janta Party (CJP) berakhir. Menurutnya, ia diinterogasi sepanjang malam sebelum akhirnya dibebaskan keesokan harinya. Hingga kini, permohonannya masih menunggu untuk disidangkan.
Dugaan tindakan terhadap dirinya memicu kritik dari politisi oposisi dan kelompok pegiat kebebasan sipil. Sementara itu, para pemimpin CJP menuduh aparat sengaja menyasar para relawan.
Permohonan hukum yang diajukan Junaid muncul di tengah tuduhan adanya operasi penindakan yang lebih luas oleh kepolisian. Para demonstran di Delhi dan sejumlah negara bagian lain menuduh polisi melakukan penahanan secara sewenang-wenang. Mahkamah Agung India telah memerintahkan pihak berwenang untuk tidak mengambil tindakan koersif terhadap para demonstran yang tidak memiliki catatan kriminal selama perkara ini masih diproses. CJP juga memperingatkan akan melanjutkan aksi mogok jika seluruh perkara hukum terhadap para peserta aksi tidak dicabut.
Junaid mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang aktivis.
Saat CJP pertama kali mengajak mahasiswa berkumpul di kawasan Jantar Mantar, Delhi, pada Juni lalu untuk memprotes dugaan penyimpangan dalam ujian masuk fakultas kedokteran, ia hanya membawa perlengkapan secukupnya karena mengira akan berada di sana selama sehari.
Namun, ia justru bertahan selama enam minggu.
Ketika aksi berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk menuntut akuntabilitas, Junaid menjadi bagian dari sekelompok kecil relawan yang menjaga agar demonstrasi tetap berjalan.
Meski bukan pemimpin gerakan, kehadirannya yang hampir tidak pernah absen, mengatur distribusi makanan, air minum, dan tempat berteduh, membuat wajahnya dikenal luas di kalangan para demonstran.
“Sekarang saya ingin menghabiskan hidup saya untuk memperjuangkan hal itu. Saya tidak akan berhenti,” ujarnya.
Pada malam pertama aksi berlangsung, menurut Junaid, ratusan mahasiswa memutuskan tetap bertahan di lokasi demonstrasi. Saat itu hampir tidak ada air minum, tidak tersedia tempat tidur, dan belum ada rencana jelas mengenai langkah berikutnya.
Ia pun mulai menggalang donasi untuk membeli air minum dalam kemasan, kemudian makanan ringan dan hidangan siap santap. Keesokan harinya, ia mulai mencari selimut dan tempat beristirahat bagi mahasiswa yang kelelahan.
Junaid pernah menjadi relawan saat aksi protes petani di India pada 2020, dan pengalaman itu sangat membantunya.
“Orang-orang CJP dipenuhi semangat. Mereka membawa tekad. Saya membawa sedikit keteraturan,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, aksi tersebut mulai memiliki ritme tersendiri. Para petani datang membawa sayuran. Gurdwara mengirimkan makanan siap saji. Banyak orang berdatangan membawa obat-obatan, air minum kemasan, hingga kotak-kotak berisi buah.
Pada suatu titik, para relawan bahkan tidak lagi bertanya ke mana bantuan harus disalurkan.
“Mereka hanya berkata, ‘Serahkan saja ke Junaid’,” kenangnya.
Pekerjaan itu nyaris tanpa henti. Menurut perkiraannya, ia hanya tidur beberapa jam hampir setiap malam. Namun, yang paling membekas baginya adalah kisah-kisah yang didengarnya.
Banyak orang tua datang dari berbagai penjuru India membawa map berisi lembar soal ujian, kartu peserta, dan berbagai dokumen lainnya. Sebagian menceritakan pinjaman yang mereka ambil demi membayar biaya bimbingan belajar anak-anak mereka.
Junaid masih mengingat sepasang suami istri yang datang ke lokasi aksi tepat pada hari yang seharusnya menjadi ulang tahun putri mereka. Mereka mengatakan putrinya meninggal karena bunuh diri setelah soal ujian bocor. Hari itu mereka membagikan makanan kepada para demonstran sebagai bentuk penghormatan terhadap putri mereka.
Setiap kisah mengingatkannya pada rumah dan kedua orang tuanya yang selalu percaya bahwa pendidikan akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Kini Junaid mengaku sering memberikan nasihat yang sama kepada adiknya, agar rajin membaca, belajar dengan sungguh-sungguh, dan tidak pernah menganggap remeh arti pendidikan.
“Setelah mendengar semua kisah itu, saya sadar bahwa perjuangan ini bukan lagi hanya tentang diri saya.”
Kemudian tibalah 20 Juli.
Ribuan demonstran menentang larangan kepolisian dan berbaris menuju gedung parlemen. Namun mereka dihadang gas air mata, pentungan polisi, serta penangkapan massal.
Junaid menghabiskan waktu berjam-jam mencari mahasiswa yang hilang dari rombongan, menyediakan air minum, merawat mereka yang terluka, serta membantu para demonstran yang ketakutan kembali ke lokasi perkemahan.
Menurutnya, melihat mahasiswa yang datang hanya membawa harapan pulang dalam keadaan lebam, batuk-batuk akibat gas air mata, dan dipenuhi rasa takut menjadi pengalaman yang sangat mengguncang.
“Hari itu menghancurkan sesuatu dalam diri saya. Sejak saat itu saya tahu saya tidak bisa begitu saja meninggalkan perjuangan ini.”
Lima hari kemudian, setelah Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri, CJP menyatakan kemenangan dan mengakhiri aksi protes.
Para relawan mulai membereskan perlengkapan terakhir, saling berpelukan, lalu bersiap kembali ke daerah masing-masing.
Namun kisah Junaid justru mengambil arah berbeda.
Beberapa jam sebelum aksi resmi berakhir, ia mengaku ditahan setelah keluar dari rumah sakit tempat ia menjalani perawatan akibat digigit anjing liar. Menurutnya, polisi menginterogasi dirinya secara rinci mengenai perannya dalam demonstrasi tersebut.
Dalam permohonannya ke Mahkamah Agung, Junaid juga menuduh polisi menutup matanya selama perjalanan menuju kantor polisi.
Permohonan itu juga menyebut polisi menyasar keluarganya. Ayahnya disebut dijemput dari rumah mereka di Ghaziabad pada 23 Juli dan diperiksa selama berjam-jam sebelum polisi menggeledah rumah keesokan harinya. Junaid menuduh penggeledahan itu menyebabkan sejumlah perabot rusak, sementara polisi juga meminta dokumen identitas serta data rekening bank milik anggota keluarganya.
Kepolisian Ghaziabad membantah tuduhan tersebut. mereka hanya mengakui telah meminta keterangan dari ayah Junaid tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Di saat berbagai video para pendukung yang merayakan berakhirnya aksi memenuhi media sosial, sebuah rekaman lain justru menjadi viral, yaitu video Junaid yang menangis saat diwawancarai.
Pengalaman itu, menurutnya, membuat dirinya mulai mempertanyakan hal lain.
Selama aksi berlangsung, isu agama nyaris tidak pernah muncul.
“Tidak ada yang bertanya apakah Anda Hindu atau Muslim. Kami hanya mahasiswa dan relawan.”
Baru setelah penahanan itu, katanya, ia mulai bertanya-tanya apakah nama Muslim yang dimilikinya memengaruhi cara dirinya diperlakukan. Ia mengakui tidak memiliki bukti bahwa hal tersebut benar terjadi, tetapi pikiran itu terus menghantuinya. meminta tanggapan dari pihak kepolisian.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menghadapi kritik dari kelompok hak asasi manusia dan partai oposisi yang menilai umat Muslim, kelompok minoritas agama terbesar di India, semakin mengalami marginalisasi. Pemerintah India berulang kali membantah tuduhan tersebut.
Ketika Junaid pulang ke rumah keesokan harinya, kedua orang tuanya memintanya agar tidak kembali jika aksi mahasiswa kembali digelar.
Selama hidup, mereka selalu percaya bahwa pendidikan akan mengubah masa depan putra mereka. Namun menurut Junaid, justru pendidikan itulah yang membawanya berurusan dengan polisi.
Meski demikian, ia menganggap semua yang dialaminya sebagai “pengorbanan kecil” dalam perjuangan yang lebih besar.
Jika para mahasiswa kembali turun ke jalan, katanya, ia juga akan kembali bergabung.
