Ketika Vladimir Putin datang untuk berpidato di hadapan parlemen Rusia pada Rabu, sambutan hangat sudah pasti menantinya.
“Operasi Pemilu Khusus”, begitu sebuah surat kabar Rusia menjuluki pemungutan suara legislatif bulan lalu, menghasilkan Duma Negara yang lebih pro-Putin dibandingkan sebelumnya.
Partai yang berkuasa, United Russia, kini memiliki lebih banyak anggota parlemen dibandingkan sebelumnya.
Hal itu memungkinkan Kremlin mengklaim telah memperoleh mandat besar dari rakyat Rusia.
Namun, untuk apa mandat tersebut? Bagaimana Putin akan menggunakannya?
Adakah tanda-tanda bahwa dia siap menghentikan apa yang disebutnya sebagai operasi militer khusus? Atau haruskah kita bersiap menghadapi eskalasi lebih lanjut di Ukraina dan meningkatnya ketegangan dengan Eropa?
Pada Kamis, saya akan memperhatikan apakah pemimpin Rusia itu memberikan petunjuk mengenai rencananya saat tampil di Valdai Discussion Club di Moskow. Secara tradisional, pidato presiden dalam forum kebijakan luar negeri tahunan tersebut memberikan gambaran mengenai pandangan Putin terhadap dunia.
Saat ini, segala sesuatu mengarah pada kemungkinan Putin melanjutkan invasi skala penuh Rusia ke Ukraina, meski negaranya telah mengalami kerugian besar di medan perang dan perekonomiannya terus terdampak.
Pidato dan pernyataan Putin menunjukkan bahwa dia tetap yakin Rusia dapat meraih kemenangan militer.
Berdasarkan laporan media Rusia, Moskow terdorong oleh kekurangan rudal pertahanan udara di Ukraina, serta perkiraan bahwa serangan Rusia pada musim dingin ini akan semakin meningkatkan tekanan terhadap warga Ukraina. Kyiv mengatakan mereka mengalami kesulitan menembak jatuh rudal balistik Rusia dan drone bertenaga jet jenis baru yang setiap hari menargetkan Ukraina.
Lalu, bagaimana dengan wilayah di luar Ukraina?
Kremlin tidak merahasiakan keinginannya agar negara-negara Eropa memangkas dukungan militer dan keuangan mereka untuk Ukraina. Moskow menyebut dukungan tersebut sebagai faktor yang memperpanjang perang, atau lebih tepatnya, menghambat kemenangan Rusia.
Untuk mencapai tujuan itu, para pejabat Barat meyakini Rusia telah mengirimkan sinyal yang semakin jelas.
Mereka menuduh Moskow melancarkan perang hibrida yang semakin intensif terhadap negara-negara Eropa melalui serangan siber, aksi sabotase, serta pelanggaran wilayah udara Eropa oleh drone Rusia. Di Jerman, sebuah drone yang membawa alat peledak ditemukan di dekat pesawat kargo Ukraina di Bandara Leipzig.
Ini merupakan kampanye rahasia di “zona abu-abu”, ruang antara perdamaian dan perang.
Pekan ini saya bertanya kepada Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov apakah dia mengakui bahwa negaranya sedang melancarkan perang hibrida terhadap negara-negara Eropa.
“Apakah yang Anda maksud ketika kami menghancurkan drone dan rudal yang dipasok Inggris dan Eropa daratan kepada Ukraina, yang digunakan untuk menyerang kami?” jawab Lavrov.
“Jika Anda mengakui senjata Anda digunakan untuk menyerang kami dan kami menghancurkannya, sebut saja apa pun yang Anda mau. Namun, saya tidak meragukan bahwa ini adalah perang yang dilancarkan Eropa terhadap kami. Kami sudah mengatakan hal itu sejak lama.”
Itu memang telah menjadi posisi resmi Rusia selama beberapa waktu, bahwa apa yang terjadi di Ukraina merupakan perang Eropa terhadap Rusia. Narasi tersebut mengabaikan fakta bahwa pada 2022 Kremlin melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina dan Rusia hingga kini masih terus berperang di sana.
Seberapa jauh Rusia akan bertindak untuk memutus dukungan Eropa terhadap Kyiv?
Apakah Moskow, misalnya, secara aktif mempersiapkan diri untuk memulai konflik militer di Eropa dengan negara anggota NATO? Hal itu tampaknya tidak mungkin. Setelah lebih dari empat setengah tahun perang, militer Rusia bahkan belum berhasil menduduki seluruh wilayah Donbas timur Ukraina yang berbatasan langsung dengan Rusia.
Melawan Eropa mungkin bukan rencananya. Namun, menakut-nakuti Eropa untuk mengurangi dukungannya terhadap Kyiv bisa jadi merupakan tujuannya.
Perhatikan pesan yang disampaikan.
“Jika mereka melanjutkan perang ini, perang Eropa dengan bantuan Amerika melawan Rusia di wilayah Ukraina, cepat atau lambat kami akan merasa perlu melakukan eskalasi,” kata ahli strategi kebijakan luar negeri Rusia yang berpengaruh, Sergei Karaganov, yang juga merupakan ketua kehormatan Council for Foreign and Defence Policy Rusia.
“Menurut skenario saya, serangkaian serangan pertama akan bersifat konvensional,” katanya kepada saya. “Namun, jika Eropa tidak menyerah, sayangnya kami harus menggunakan senjata nuklir. Beberapa negara Eropa tidak akan tersisa.”
Namun, jika Rusia menggunakan senjata nuklir, Eropa akan merespons dan Rusia juga tidak akan tersisa, saya mengatakan kepadanya.
“Tidak, Eropa tidak akan merespons,” kata Karaganov. “Apa, Inggris akan menyerang Rusia dengan senjata nuklir? Saya harap Anda tidak segila itu. Saya yakin Amerika juga tidak segila itu.”
Saya bertanya apakah dia setuju bahwa empat setengah tahun terakhir merupakan bencana bagi Rusia, baik dari sisi jumlah korban maupun memburuknya situasi keamanan dan ekonomi.
“Kami kehilangan banyak orang, ya,” akunya, “dan saya mengkritik pemerintah saya karena tidak cukup keras. Namun sekarang kami sudah cukup keras di Ukraina. Kami sedang menghilangkan Ukraina sebagai negara yang layak untuk bertahan.”
Jika “menghilangkan Ukraina sebagai negara yang layak untuk bertahan” merupakan tujuan Moskow, sulit membayangkan perang tersebut akan berakhir dalam waktu dekat.
Sementara itu, Rusia terus mengecam apa yang dianggapnya sebagai standar ganda Barat. Dalam pidato terbarunya di Sidang Umum PBB, Sergei Lavrov menuduh Barat menggunakan “kekuatan brutal” di berbagai penjuru dunia.
“Apa yang mereka lakukan di Venezuela, apakah itu kekuatan lunak atau kekuatan brutal?” tanya Menteri Luar Negeri Rusia tersebut kepada saya pekan ini. Dia merujuk pada operasi militer Amerika Serikat di Caracas untuk menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada Januari.
“Fakta bahwa [AS] membom dan menghancurkan kepemimpinan Iran, bersama keluarga mereka, termasuk anak-anak, bukankah itu kekuatan brutal?”
Namun, bukankah Rusia juga menggunakan kekuatan brutal setiap hari di Ukraina? saya bertanya.
“Jika yang Anda maksud adalah penghancuran infrastruktur yang digunakan rezim Nazi yang didukung Barat untuk berperang melawan Federasi Rusia, maka kami menggunakan kekuatan brutal untuk menghilangkan ancaman langsung tersebut terhadap kami.”
Pernyataan itu bukan hanya bagian lain dari narasi resmi Rusia yang menggambarkan Ukraina sebagai negara neo-Nazi, sekaligus menciptakan dalih palsu untuk membenarkan tindakan Rusia.
Pengakuan Rusia menggunakan “kekuatan brutal” di Ukraina juga menjadi bukti lebih lanjut bahwa Moskow tidak menunjukkan keinginan untuk menghentikan pertempuran.
