Seorang perawat kesehatan mental mengakui di hadapan penyelidikan publik bahwa ia membuat kesalahan dalam pencatatan medis seorang pasien gangguan jiwa sebelum pasien tersebut kemudian membunuh tiga orang dalam serangkaian serangan.

Pelaku, Valdo Calocane, yang didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid, menusuk hingga tewas Barnaby Webber, Grace O’Malley-Kumar, dan Ian Coates, serta berupaya membunuh tiga orang lainnya dalam insiden di Nottingham pada 13 Juni 2023.

Calocane berada dalam perawatan Nottinghamshire Healthcare NHS Foundation Trust sejak 2020, namun dipulangkan sembilan bulan sebelum serangan karena kurangnya keterlibatan dalam perawatan.

Dalam sidang Nottingham Inquiry pada Senin, perawat kesehatan mental Busayo Ajewole mengakui bahwa catatan yang dibuatnya terkadang tidak lengkap, mengandung salinan-tempel, dan bahkan keliru secara mendasar.

Riwayat Gangguan dan Kesalahan Penilaian Risiko

Calocane pertama kali menjalani perawatan pada Mei 2020 setelah menunjukkan gejala psikosis, usai membobol apartemen tetangganya di kawasan Radford, Nottingham. Antara periode tersebut hingga Februari 2022, ia menjalani enam kali penilaian berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Mental, yang berujung pada empat kali rawat inap.

Dalam dokumen yang diperlihatkan kepada penyelidikan, ditemukan sejumlah informasi yang tidak akurat dalam formulir penilaian risiko. Salah satunya mencatat bahwa Calocane “tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan mental” serta “tidak memiliki riwayat kekerasan dan agresi”.

Menanggapi hal itu, penasihat penyelidikan Julian Blake menyebut catatan tersebut bukan hanya kurang rinci, tetapi juga salah. Ajewole mengakui kesalahan tersebut dan menyatakan bahwa seharusnya riwayat kekerasan dan agresi tercantum dalam penilaian.

Catatan lain juga menyebut Calocane sebagai “pemuda yang sopan, lembut, dan mudah bergaul”, namun Ajewole tidak dapat menjelaskan asal-usul pernyataan tersebut.

Insiden Kekerasan yang Tak Tercatat

Pada September 2020, Calocane kembali ditahan setelah menyerang petugas kepolisian saat proses penilaian kesehatan mental. Ia menyerang petugas dengan sundulan kepala dan pukulan berulang hingga akhirnya dilumpuhkan menggunakan taser.

Meski insiden tersebut diketahui dalam proses serah terima informasi antarpetugas, Ajewole tidak mencantumkannya dalam formulir penilaian risiko. Sebaliknya, ia hanya menuliskan insiden sebelumnya yang melibatkan tetangga pelaku.

Ia mengakui tidak mengetahui alasan kelalaian tersebut, dan menyatakan bahwa kejadian itu seharusnya dimasukkan. Bahkan, dalam dokumen yang sama juga tercantum pernyataan “tidak ada insiden kekerasan lanjutan”, padahal saat itu telah terjadi beberapa insiden.

Kesalahan serupa juga ditemukan dalam surat yang dikirim ke dokter umum (GP), yang mengulang informasi yang tidak akurat terkait tingkat risiko pelaku.

Kritik terhadap Sistem dan Evaluasi Internal

Ajewole mengakui bahwa kesalahan tersebut merupakan masalah serius, meski ia menilai hal itu bersifat individual dan tidak dapat memastikan apakah kesalahan serupa sering terjadi di lembaganya. Ia juga menyatakan telah mengubah praktik kerjanya dengan memastikan verifikasi ulang dokumentasi dan membuat formulir baru, alih-alih memperbarui data lama.

Dokter Omar Manzar, yang terlibat dalam beberapa penilaian Calocane, juga memberikan kesaksian. Ia menyebut sebagai hal yang “mengejutkan” bahwa University of Nottingham tidak diberi tahu mengenai riwayat kekerasan pelaku, termasuk serangan terhadap polisi dan insiden dengan tetangga.

Calocane diketahui menempuh pendidikan di universitas tersebut antara 2017 hingga 2022 dan sempat dijadwalkan kembali kuliah pada September 2021 setelah jeda karena kondisi mentalnya.

Informasi Penting Tidak Dibagikan

Penyelidikan juga mengungkap adanya pesan teks yang dikirim Calocane kepada saudaranya, yang berisi pikiran kekerasan. Pesan tersebut diterima oleh psikiaternya, Faizal Seedat, namun tidak dibagikan kepada tenaga medis lain atau instansi terkait.

Dr. Manzar menyatakan bahwa jika ia melihat pesan tersebut, penilaian risikonya terhadap Calocane akan meningkat secara signifikan.

Dalam pernyataan tertulisnya, Manzar juga menyebut bahwa dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, penahanan berdasarkan pasal 3 Undang-Undang Kesehatan Mental yang memungkinkan perawatan lebih lama dan pengawasan setelah keluar mungkin akan lebih tepat. Namun ia menegaskan bahwa penilaian saat itu tidak dapat sepenuhnya dinilai dengan sudut pandang setelah kejadian.

Status Hukum Pelaku

Kini berusia 34 tahun, Calocane menjalani perintah perawatan tanpa batas waktu di fasilitas keamanan tinggi setelah mengaku bersalah atas tiga dakwaan pembunuhan tidak disengaja dengan tanggung jawab terbatas, serta tiga dakwaan percobaan pembunuhan.

Proses penyelidikan masih terus berlangsung.

Share.
Leave A Reply