Penulis novel Normal People, Sally Rooney, mengatakan buku-bukunya tidak akan lagi dipasok ke toko buku di Inggris menyusul dukungannya terhadap Palestine Action, organisasi yang ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah Inggris.
Novelis asal Irlandia itu sebelumnya menyatakan pada tahun lalu bahwa ia akan terus menggunakan pendapatan royalti dari penjualan bukunya untuk mendukung kelompok tersebut, yang masuk dalam daftar organisasi terlarang terkait terorisme di Inggris.
Dalam pernyataan, Rooney mengatakan penerbitan lebih lanjut atas karyanya di Inggris berpotensi menjadi “pelanggaran pidana serius”. Karena itu, ia sepakat dengan penerbitnya, Faber, untuk menghentikan pemasokan buku-bukunya di negara tersebut.
“Saya telah berupaya semaksimal mungkin untuk bersikap jujur kepada publik mengenai keyakinan dan niat saya, dan saya sepenuhnya siap menerima konsekuensinya,” kata Rooney.
Versi buku elektronik karya Rooney telah lebih dahulu ditarik dari penjualan di Inggris. Namun, sejumlah toko buku masih memiliki persediaan buku cetak yang sebelumnya telah mereka terima.
Waterstones mengonfirmasi bahwa Faber telah menyampaikan tidak ada pembatasan bagi toko buku untuk tetap memajang dan menjual stok buku yang sudah mereka miliki.
Menurut NielsenIQ BookData, Rooney telah menjual lebih dari enam juta buku di seluruh dunia, termasuk 2,3 juta eksemplar di Inggris.
Novel Normal People terbit pada 2018 dan diadaptasi menjadi serial televisi populer dua tahun kemudian. Serial tersebut turut melambungkan karier akting Paul Mescal dan Daisy Edgar-Jones.
Novel Rooney lainnya meliputi Intermezzo, Conversations With Friends, serta Beautiful World, Where Are You.
Penerbit Faber mengatakan bahwa undang-undang yang berlaku di Inggris telah menciptakan situasi yang membuat perusahaan tersebut tidak dapat meneruskan pendapatan dari penjualan karya Rooney di Inggris kepada sang penulis.
“Menjual karya seorang penulis tetapi tidak dapat meneruskan pendapatannya merupakan situasi yang tidak dapat diterima bagi sebuah penerbit,” kata Faber.
“Oleh karena itu, dengan persetujuan penuh Sally, kami memutuskan bahwa kami tidak lagi dapat memasok karya-karyanya di Inggris dalam format apa pun.”
Faber menambahkan bahwa pihaknya tetap bangga menerbitkan karya-karya Rooney dan akan terus menjualnya di wilayah lain.
Pemerintah Inggris menetapkan Palestine Action sebagai organisasi teroris pada 2025 dengan alasan kelompok tersebut memiliki “riwayat panjang” melakukan perusakan properti secara kriminal.
Aktivitas kelompok itu antara lain mencakup aksi terhadap perusahaan persenjataan yang memiliki keterkaitan dengan perang Israel di Gaza.
Dalam pernyataannya pada Rabu, Rooney mengatakan bahwa kelompok aksi langsung Palestine Action ditetapkan sebagai organisasi teroris yang dilarang di Inggris pada Juli 2025.
“Pada bulan berikutnya, saya menulis artikel opini yang menyatakan niat saya untuk terus mendukung Palestine Action, yang tidak termasuk kelompok terlarang atau kelompok lain yang dilarang di Republik Irlandia,” ujarnya.
Dalam artikel yang diterbitkan surat kabar The Irish Times pada Agustus tahun lalu, Rooney menyatakan akan terus menggunakan pendapatan dari karya-karyanya untuk mendukung kelompok tersebut, meskipun tindakan itu dapat dianggap sebagai pelanggaran di Inggris. Ia juga membatalkan perjalanan ke Inggris untuk menerima sebuah penghargaan karena khawatir akan ditangkap.
Rooney melanjutkan bahwa pemenuhan kontrak penerbitan karyanya di Inggris kini berpotensi menjadi pelanggaran pidana serius.
“Setelah melalui proses konsultasi dan pertimbangan, serta dengan persetujuan penuh saya, penerbit saya, Faber, memutuskan bahwa mereka tidak lagi dapat memasok karya-karya saya di Inggris,” katanya.
Salah satu pendiri Palestine Action, Huda Ammori, mengatakan Rooney telah mengambil “sikap berani dan berprinsip sejak rencana pelarangan Palestine Action diumumkan”.
Ammori menilai penarikan karya-karya Rooney menandai “titik terendah baru dalam serangan yang semakin meningkat terhadap kebebasan berbicara akibat pelarangan Palestine Action”.
Lebih dari 3.700 orang diperkirakan telah ditangkap di Inggris atas dugaan memberikan dukungan kepada Palestine Action.
Sekitar 2.500 orang di antaranya telah didakwa. Namun, belum ada satu pun perkara yang disidangkan karena gugatan hukum terhadap penetapan kelompok tersebut sebagai organisasi terlarang masih berlangsung. Perkara itu dijadwalkan akan didengar oleh Mahkamah Agung Inggris pada bulan depan.
