Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Era Baru The Fed Dimulai: Kevin Warsh Janjikan Reformasi Besar Saat Pejabat Bank Sentral Mulai Melirik Kenaikan Suku Bunga

    18/06/2026

    Draf Kesepakatan AS-Iran Terungkap: Sanksi Dicabut, Dana Ratusan Miliar Dolar Mengalir, Hormuz Dibuka Kembali

    18/06/2026

    Warga Diminta Menyingkir demi Robot Pengantar? Gelombang Penolakan terhadap Robot Pengiriman Makin Meluas

    18/06/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Era Baru The Fed Dimulai: Kevin Warsh Janjikan Reformasi Besar Saat Pejabat Bank Sentral Mulai Melirik Kenaikan Suku Bunga

      18/06/2026

      Draf Kesepakatan AS-Iran Terungkap: Sanksi Dicabut, Dana Ratusan Miliar Dolar Mengalir, Hormuz Dibuka Kembali

      18/06/2026

      Turis Remaja Tewas dalam Kecelakaan Kereta Kuda di New York, Desakan Larangan Kian Menguat

      18/06/2026

      ChatGPT Mampu Hasilkan Gambar Kekerasan Seksual dan Grafis, Peneliti Ungkap Celah Berbahaya

      18/06/2026

      Apple Bersiap Naikkan Harga Produk, Ledakan AI Bikin Biaya Chip Melonjak

      18/06/2026
    • TEKNOLOGI

      Warga Diminta Menyingkir demi Robot Pengantar? Gelombang Penolakan terhadap Robot Pengiriman Makin Meluas

      18/06/2026

      ChatGPT Mampu Hasilkan Gambar Kekerasan Seksual dan Grafis, Peneliti Ungkap Celah Berbahaya

      18/06/2026

      Apple Bersiap Naikkan Harga Produk, Ledakan AI Bikin Biaya Chip Melonjak

      18/06/2026

      Komisaris Vendor Motor Listrik Program MBG Resmi Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Rp1 Triliun

      13/06/2026

      BYD Ungkap Penyebab Penjualan di Indonesia Merosot Tajam pada Mei 2026

      13/06/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»Kesepakatan AS-Iran Mulai Berlaku, Tapi Persoalan Terbesar Belum Terpecahkan dan Dana Rp4.800 Triliun Jadi Sorotan
    Ekonomi & Pasar

    Kesepakatan AS-Iran Mulai Berlaku, Tapi Persoalan Terbesar Belum Terpecahkan dan Dana Rp4.800 Triliun Jadi Sorotan

    joveBy jove18/06/2026No Comments5 Mins Read0 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Memorandum of understanding atau nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada Rabu pada dasarnya berisi pembukaan kembali Selat Hormuz serta kesepakatan untuk mencoba mencapai perjanjian final mengenai hampir seluruh isu lainnya.

    Presiden Donald Trump menggambarkannya sebagai kemenangan besar bagi Amerika Serikat dalam konferensi pers panjang yang digelarnya pada KTT G7 di Prancis.

    Kedua negara kemudian mengonfirmasi bahwa memorandum tersebut telah ditandatangani secara elektronik pada Rabu dan kini resmi berlaku.

    Namun, rincian baru yang diungkap pejabat AS dalam pengarahan kepada wartawan menunjukkan bahwa kedua negara masih harus menempuh jalan panjang untuk mencapai kesepakatan damai komprehensif yang dapat memenuhi tujuan utama Trump, yakni memastikan Iran tidak pernah mengembangkan senjata nuklir.

    Trump berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan tersebut menjamin Iran tidak akan pernah membeli, mengembangkan, atau memproduksi senjata nuklir. Namun, isi dokumen yang dibacakan oleh para pejabat AS menunjukkan hal yang berbeda.

    Alih-alih memberikan jaminan final, perpanjangan gencatan senjata itu justru memulai perlombaan diplomatik selama 60 hari yang sangat menentukan bagi kedua negara untuk mencapai kesepakatan nuklir jangka panjang.

    Sebagai perbandingan, pemerintahan Barack Obama membutuhkan 20 bulan negosiasi untuk menghasilkan kesepakatan nuklir Iran pada 2015. Kini muncul pertanyaan apakah pemerintahan Trump mampu menyelesaikannya hanya dalam dua bulan.

    Untuk saat ini, teks perjanjian hanya mewajibkan Iran melakukan “pengenceran kembali” terhadap cadangan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi, di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

    Seorang pejabat senior AS menyebut langkah tersebut sebagai “konsesi signifikan” dari Iran. Namun seluruh rincian teknis mengenai mekanisme dan jadwal pelaksanaannya masih harus dirundingkan selama periode negosiasi 60 hari yang dimulai setelah penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat.

    Pertanyaan Besar Mengenai Dana Rekonstruksi 300 Miliar Dolar AS

    Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan memberikan uang kepada Iran.

    Isu ini sangat penting bagi Trump, yang selama bertahun-tahun mengkritik keputusan pemerintahan Obama mencairkan aset Iran senilai 1,7 miliar dolar AS pada 2016.

    Dengan mempertimbangkan warisan politiknya, Trump berusaha menggambarkan kesepakatan dengan Iran kali ini sebagai perjanjian yang lebih baik daripada kesepakatan era Obama. Ia menggunakan isu pendanaan sebagai bukti bahwa dirinya mengambil sikap yang lebih keras terhadap Teheran.

    Namun menurut isi perjanjian, Amerika Serikat akan bekerja sama dengan para mitra regional untuk menyusun rencana rekonstruksi Iran yang disepakati bersama dengan nilai minimal 300 miliar dolar AS.

    Seorang pejabat senior AS menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak mewajibkan Washington membayar “satu sen pun” kepada Iran.

    Meski demikian, bahasa yang digunakan dalam dokumen dinilai cukup samar dan tampaknya masih membuka peluang bagi AS untuk pada akhirnya melakukan pembayaran tertentu kepada Iran sebagai bagian dari penyelesaian perang yang dinegosiasikan.

    Hal ini berpotensi menjadi masalah politik besar bagi Trump dan Wakil Presiden JD Vance, yang sebelumnya berkampanye dengan janji tidak akan memulai “perang tanpa akhir” yang menguras sumber daya Amerika.

    Basis pendukung MAGA yang cenderung anti-intervensi juga berpotensi menolak pengaturan tersebut, bahkan jika dana yang nantinya diterima Iran tidak berasal langsung dari pemerintah AS.

    Kritik Bermunculan, Termasuk dari Partai Republik

    Gelombang kritik muncul dengan cepat, termasuk dari kalangan Partai Republik sendiri.

    Para anggota Kongres mulai menuntut penjelasan dan pengarahan resmi dari pemerintahan Trump terkait isi kesepakatan serta berbagai ketidakpastian yang masih menyertainya.

    Sejumlah politisi Republik mengaku skeptis terhadap perjanjian tersebut. Salah satu senator Republik terkemuka bahkan mengecamnya secara terbuka dan menilai Trump telah memberikan terlalu banyak konsesi kepada Iran tanpa memperoleh imbalan yang setara.

    “Iran tidak dibatasi ambisi nuklirnya, dan mereka kini belajar bahwa ancaman terhadap Selat Hormuz efektif serta hampir pasti akan digunakan kembali pada masa depan,” tulis Senator Bill Cassidy dari Louisiana dalam unggahan di platform X.

    “Ini adalah kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade,” tambahnya.

    Hezbollah dan Program Rudal Nyaris Tak Tersentuh

    Sejumlah isu penting lainnya juga hanya mendapat porsi sangat kecil dalam dokumen setebal sekitar satu setengah halaman tersebut.

    Ketika perang dimulai, Trump menyatakan bahwa salah satu prioritas utamanya adalah menghentikan pendanaan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan, termasuk Hezbollah.

    Isu tersebut juga menjadi perhatian utama Israel, yang bergabung dengan AS dalam melancarkan perang terhadap Iran dan secara terpisah terlibat konflik dengan kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon.

    Kesepakatan penghentian permusuhan dalam perjanjian awal ini memang mencakup Hezbollah. Namun, kelompok tersebut hampir tidak disebut lebih lanjut dalam dokumen.

    Belum jelas apakah Iran akan ditekan untuk menghentikan dukungannya terhadap Hezbollah maupun kelompok proksi regional lainnya dalam putaran negosiasi berikutnya.

    Dokumen yang dirilis pada Rabu itu juga tidak membahas secara rinci program rudal Iran, yang sebelumnya disebut sebagai salah satu prioritas utama oleh Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika perang dimulai.

    Ancaman Serangan Militer Masih Membayangi

    Masih belum pasti apakah kesepakatan yang ditandatangani di Jenewa pekan ini akan benar-benar menghasilkan perjanjian final.

    Teks perjanjian memberikan tenggat waktu 60 hari kepada kedua pihak untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas. Namun, terdapat klausul yang memungkinkan perpanjangan waktu apabila diperlukan.

    Ketentuan tersebut mengindikasikan bahwa kedua negara mungkin tidak sepenuhnya optimistis mampu mencapai kesepakatan komprehensif dalam jangka waktu yang ditetapkan.

    Dalam konferensi persnya di KTT G7, Trump sendiri terdengar tidak terlalu yakin mengenai peluang terciptanya perdamaian permanen dengan Iran.

    “Jika tidak selesai dalam 60 hari, tidak masalah,” kata Trump.

    “Kami akan kembali melakukan pemboman.”

    amerika iran militer minyak perang perdamaian
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Ekonomi & Pasar

    Era Baru The Fed Dimulai: Kevin Warsh Janjikan Reformasi Besar Saat Pejabat Bank Sentral Mulai Melirik Kenaikan Suku Bunga

    18/06/2026
    Ekonomi & Pasar

    Draf Kesepakatan AS-Iran Terungkap: Sanksi Dicabut, Dana Ratusan Miliar Dolar Mengalir, Hormuz Dibuka Kembali

    18/06/2026
    Gadget

    Warga Diminta Menyingkir demi Robot Pengantar? Gelombang Penolakan terhadap Robot Pengiriman Makin Meluas

    18/06/2026
    Hiburan

    Turis Remaja Tewas dalam Kecelakaan Kereta Kuda di New York, Desakan Larangan Kian Menguat

    18/06/2026
    Gadget

    ChatGPT Mampu Hasilkan Gambar Kekerasan Seksual dan Grafis, Peneliti Ungkap Celah Berbahaya

    18/06/2026
    Bisnis

    Apple Bersiap Naikkan Harga Produk, Ledakan AI Bikin Biaya Chip Melonjak

    18/06/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Era Baru The Fed Dimulai: Kevin Warsh Janjikan Reformasi Besar Saat Pejabat Bank Sentral Mulai Melirik Kenaikan Suku Bunga

    18/06/2026

    Draf Kesepakatan AS-Iran Terungkap: Sanksi Dicabut, Dana Ratusan Miliar Dolar Mengalir, Hormuz Dibuka Kembali

    18/06/2026

    Warga Diminta Menyingkir demi Robot Pengantar? Gelombang Penolakan terhadap Robot Pengiriman Makin Meluas

    18/06/2026

    Turis Remaja Tewas dalam Kecelakaan Kereta Kuda di New York, Desakan Larangan Kian Menguat

    18/06/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.