Militer Israel mulai menghancurkan bangunan milik warga Palestina di kota Hebron setelah dua tentara Israel tewas dalam serangan yang dilakukan dua pria bersenjata Palestina.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan militer akan “menghancurkan” kawasan tempat kedua pelaku berasal. Ia juga menyatakan Israel siap melancarkan “operasi besar-besaran” di Tepi Barat yang diduduki.
Tiga tentara lainnya terluka dalam serangan di sebuah pos pemeriksaan di luar Hebron sebelum kedua pelaku ditembak mati, menurut keterangan sejumlah pejabat.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan, ketika para pemukim Yahudi ekstremis menargetkan warga Palestina selama musim panen zaitun tahunan. Pemilihan umum di Israel juga akan berlangsung empat hari lagi.
Rekaman yang telah diverifikasi memperlihatkan baku tembak sengit antara tentara Israel dan para pelaku. Rekaman lainnya menunjukkan dua pria bersenjata keluar dari sebuah mobil dengan membawa senjata yang tampak seperti pistol dan senapan serbu, lalu melepaskan tembakan ke arah tentara di pos pemeriksaan sebelum mendapat tembakan balasan.
Insiden tersebut mulai memengaruhi kampanye pemilihan umum yang sedang berlangsung. Netanyahu, yang membangun kampanyenya dengan janji menjamin keamanan, mengatakan partainya, Likud, akan membatalkan sejumlah kegiatan kampanye yang dijadwalkan pada Jumat pagi.
Berbicara kemudian dari lokasi kejadian, Netanyahu mengatakan militer akan “menghancurkan tempat ini dan mengubahnya sepenuhnya”. Ia merujuk pada kawasan di Hebron yang disebut sebagai tempat asal kedua pelaku.
Pasukan Israel kerap menghancurkan rumah warga Palestina yang dicurigai melakukan serangan terhadap warga Israel. Praktik tersebut dikritik oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia Israel sebagai bentuk hukuman kolektif.
Netanyahu menyamakan rencana tersebut dengan operasi-operasi sebelumnya di kamp pengungsi di Tepi Barat, ketika bangunan tempat tinggal dihancurkan dan ribuan orang terpaksa mengungsi.
Ia juga mengatakan telah meninjau rencana untuk melancarkan operasi militer terbesar di Tepi Barat dalam beberapa dekade terakhir, meski tidak menyebutkan kapan operasi itu akan dilaksanakan.
Netanyahu menambahkan bahwa ia telah memberlakukan pengepungan dan pembatasan pergerakan di sekitar Hebron, yang berpenduduk sekitar 200.000 jiwa, serta kota Halhul yang berada di dekatnya.
Menteri Keuangan Israel dari sayap kanan ekstrem, Bezalel Smotrich, menyerukan agar Israel melancarkan operasi di Tepi Barat “persis seperti di Gaza atau Lebanon”. Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, yang juga berasal dari sayap kanan ekstrem, menyerukan pembubaran Otoritas Palestina.
Pada Kamis, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz menuduh para pemimpin oposisi melemahkan pemerintah karena mengkritik peringatan Netanyahu mengenai kemungkinan serangan menjelang pemilihan umum. Katz mengatakan mereka akan ikut “bertanggung jawab” jika serangan terhadap Israel terjadi di kemudian hari.
Para pemimpin oposisi, termasuk kandidat yang berada di posisi terdepan, Gadi Eisenkot, dan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga tentara yang tewas serta memuji pihak-pihak yang menewaskan kedua pelaku.
Militer Israel mengatakan telah menemukan sejumlah besar amunisi di dalam kendaraan yang digunakan para pelaku. Militer menduga kedua pria bersenjata itu semula berencana melancarkan serangan yang jauh lebih besar di Jalan Raya 35, yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Namun, setelah bertemu dengan pos pemeriksaan, mereka memutuskan untuk melepaskan tembakan di lokasi tersebut.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sedikitnya 96 warga Palestina telah tewas akibat tindakan pasukan Israel atau pemukim Israel di Tepi Barat sejak awal tahun ini.
Dalam periode yang sama, empat warga Israel, baik anggota pasukan keamanan maupun warga sipil, tewas akibat serangan warga Palestina di wilayah tersebut, menurut PBB. Angka itu tidak termasuk korban tewas dalam serangan pada Jumat.
