Israel dan Hezbollah telah menyepakati gencatan senjata, menurut seorang pejabat Amerika Serikat, setelah gelombang serangan udara Israel di Lebanon selatan menewaskan 47 orang.
Kesepakatan terbaru ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa bentrokan yang terus berlangsung, termasuk serangan Hezbollah yang menewaskan empat tentara Israel di Lebanon, dapat menggagalkan upaya mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa gencatan senjata mulai berlaku. Namun, beberapa waktu kemudian, juru bicara militer mengatakan pasukan Israel akan “terus menghilangkan ancaman langsung”.
Hingga kini Hezbollah belum secara resmi mengonfirmasi gencatan senjata tersebut. Meski demikian, sekretaris jenderalnya, Sheikh Naim Qassem, menyatakan: “Proyek untuk melenyapkan Hezbollah telah gagal.”
Petugas penyelamat di kota Nabatieh mengatakan bahwa sedikitnya terjadi 12 serangan udara sejak gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 16.00 waktu setempat atau 13.00 GMT.
Eskalasi mematikan terbaru ini menjadi sinyal lain bahwa Donald Trump belum tentu sepenuhnya mampu mengendalikan nasib kesepakatannya dengan Iran.
Nota kesepahaman yang diumumkan sebelumnya mencakup gencatan senjata di Lebanon sekaligus antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda, sehingga Teheran menuduh Trump gagal menahan Israel.
Trump sendiri turut memicu tudingan tersebut melalui serangkaian kritik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sekutunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menuding Netanyahu secara tidak masuk akal membunuh warga sipil dalam perangnya melawan Hezbollah.
Peningkatan konflik semalam di Lebanon selatan menambah persoalan baru.
Saat Gedung Putih bersikeras bahwa gencatan senjata tetap berlaku, Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan sayap kanan, Itamar Ben Gvir, menanggapi kematian tentara Israel dengan mengatakan: “Lebanon harus terbakar. Untuk setiap air mata ibu Israel, 1.000 ibu Lebanon harus menangis.”
Sebagai respons, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Israel menginginkan “perang permanen” dan menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap komitmen dalam nota kesepahaman “akan dianggap sebagai tanggung jawab Amerika Serikat”.
Kesepakatan yang digagas Trump bergantung pada kemampuan masing-masing pihak menahan kelompok garis keras dan menunjukkan sikap menahan diri. Namun, sejauh ini hampir tidak ada tanda-tanda ke arah itu.
Netanyahu menghadapi tekanan domestik untuk melanjutkan operasi militer terhadap Hezbollah, sementara kelompok yang didukung Iran itu menegaskan akan terus melancarkan serangan selama invasi Israel di Lebanon selatan masih berlangsung.
Setelah pengumuman gencatan senjata terbaru, juru bicara militer Israel Effie Defrin mengatakan Israel akan “terus menghilangkan ancaman langsung, merespons pelanggaran Hezbollah, dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi warga sipil kami”.
Sementara itu, sekretaris jenderal Hezbollah, Sheikh Naim Qassem, pada Jumat menyatakan: “Proyek untuk melenyapkan Hezbollah telah gagal, dan Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami.”
Bentrokan pecah ketika Hezbollah mengklaim telah menyergap pasukan Israel di Lebanon selatan dengan menghancurkan tiga tank menggunakan rudal berpemandu serta menyerang pasukan dengan roket dan tembakan artileri. Seorang komandan batalion termasuk di antara empat tentara yang tewas.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan udara Israel menewaskan 47 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai 97 lainnya.
Di distrik Nabatieh, sembilan orang tewas di Harouf, tujuh di Haboush, dan enam di al-Duweir, termasuk seorang anak, menurut kementerian tersebut.
Kantor berita pemerintah Lebanon sebelumnya menggambarkan bombardir semalam di seluruh distrik Nabatieh pada Kamis sebagai salah satu yang paling intens sepanjang perang berlangsung.
Kabar mengenai gencatan senjata disambut skeptis oleh warga Lebanon yang mengungsi. Mereka meragukan Israel akan mematuhi kesepakatan damai.
Seorang pria mengatakan kepada kantor berita Reuters: “Kesepakatan ini bagus, dan kita semua menginginkan kesepakatan, tetapi Israel tidak mematuhinya.
“Berapa kali mereka membuat kesepakatan? Sudah lebih dari sekali, dan mereka tidak pernah berkomitmen.”
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan pembicaraan langsung antara pemerintah Lebanon dan Israel akan kembali digelar di Washington pekan depan dengan tujuan mencapai “perdamaian yang langgeng”.
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa “gencatan senjata menyeluruh” yang mengakhiri “serangan Israel di wilayah Lebanon” diperlukan agar pembicaraan di Washington dapat berlanjut, menurut kepresidenan Lebanon.
Lebanon terseret ke dalam perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran tidak lama setelah konflik dimulai, ketika Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.
Israel kemudian merespons dengan melancarkan kampanye pengeboman di seluruh Lebanon dan menduduki sekitar 5 persen wilayah negara itu di bagian selatan dengan tujuan mendorong mundur pejuang Hezbollah dari perbatasan utaranya.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.900 orang telah tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, serta lebih dari 11.600 lainnya terluka sejak konflik terbaru dimulai.
Sekitar satu juta orang masih mengungsi, sementara puluhan komunitas di wilayah selatan telah hancur total.
