Close Menu

    Subscribe to Updates

    Dapatkan informasi terbaru dari mayoritas.com

    Apa yang Viral?

    Pekerja Teknologi Gaza Bertahan Lewat Ekonomi Digital, Menjadi Secercah Harapan di Tengah Perang

    04/08/2026

    Ariana Grande Lelah Dikomentari Soal Tubuhnya, Sorotan Publik Diperkirakan Tak Akan Mereda

    04/08/2026

    Tiga Singa Betina Mati di Kebun Binatang Tokyo, Jepang Dilanda Gelombang Panas Ekstrem

    04/08/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Home
    • POLITIK
      • Politik Amerika
      • Politik Asia
      • Politik Dunia
      • Politik Eropa
      • Politik Nasional
      • Politik Timur Tengah
    • Nasional

      Pekerja Teknologi Gaza Bertahan Lewat Ekonomi Digital, Menjadi Secercah Harapan di Tengah Perang

      04/08/2026

      Ariana Grande Lelah Dikomentari Soal Tubuhnya, Sorotan Publik Diperkirakan Tak Akan Mereda

      04/08/2026

      Tiga Singa Betina Mati di Kebun Binatang Tokyo, Jepang Dilanda Gelombang Panas Ekstrem

      04/08/2026

      Ketidakpuasan Generasi Muda Jadi Ujian Terbesar bagi PM Narendra Modi

      04/08/2026

      Uni Eropa Desak Penguatan Perbatasan Usai Gelombang Migran Masuk ke Ceuta

      04/08/2026
    • TEKNOLOGI

      Pekerja Teknologi Gaza Bertahan Lewat Ekonomi Digital, Menjadi Secercah Harapan di Tengah Perang

      04/08/2026

      Podcast Jadi Senjata Baru Polisi AS untuk Mengungkap Kasus Pembunuhan yang Belum Terpecahkan

      01/08/2026

      OpenAI Ungkap Kebocoran Uji AI Lebih Parah dari Dugaan, Agen Otonom Diretas Sejumlah Layanan Saat Keluar dari Sandbox

      30/07/2026

      Robot Buatan China Mulai Kuasai Gudang Ritel Inggris, Dorong Revolusi Otomasi Industri

      30/07/2026

      AS Larang Impor Robot Humanoid Baru Buatan China, Pemerintahan Trump Sebut Ada Risiko Keamanan Nasional

      29/07/2026
    • Hiburan
    • Belanja Sekarang
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Mayoritas.com
    Langganan Sekarang
    TOPIK PANAS
    • Olahraga
    • Ekonomi & Pasar
      • Bisnis
      • Ekonomi
      • Keuangan
    • Wisata & Kuliner
    • Belanja Sekarang
    Mayoritas.com
    Home»Ekonomi & Pasar»Dunia Kehilangan 1,15 Miliar Barel Minyak, Pasar Energi Terancam Krisis Meski Selat Hormuz Dibuka Lagi
    Ekonomi & Pasar

    Dunia Kehilangan 1,15 Miliar Barel Minyak, Pasar Energi Terancam Krisis Meski Selat Hormuz Dibuka Lagi

    joveBy jove20/06/2026No Comments5 Mins Read2 Views
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Kabar baiknya, Selat Hormuz kembali dibuka setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani memorandum kesepahaman pekan ini.

    Namun kabar buruknya, langkah itu mungkin sudah terlambat.

    Minyak dari Timur Tengah nyaris tidak mengalir selama hampir empat bulan. Secara total, dunia kehilangan pasokan sekitar 1,15 miliar barel minyak selama perang berlangsung, menurut perusahaan analitik Kpler.

    Situasi tersebut membuat pasar minyak global berada dalam kondisi genting dan mendekati titik kritis. Cadangan strategis minyak milik Badan Energi Internasional kini berada di level terendah sejak 1990. Cadangan darurat Amerika Serikat juga menyentuh titik terendah dalam 43 tahun terakhir. Sementara itu, inventaris komersial telah mencapai tingkat tekanan operasional.

    “Anda ingin melihat kekacauan?” kata Presiden Donald Trump dalam pertemuan G7 di Versailles pada Rabu.

    “Kita akan kehabisan cadangan sekitar empat minggu lagi.”

    Trump mungkin benar. Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz pekan ini belum tentu cukup cepat untuk mengalirkan kembali minyak dari Teluk Persia dan mencegah stok minyak mentah dunia benar-benar habis.

    Akibatnya, harga minyak berpotensi kembali melonjak.

    Titik Kritis Pasar Minyak

    Pasar minyak tampaknya percaya waktu yang dipilih Trump sangat tepat. Harga minyak memang anjlok dalam beberapa hari terakhir seiring tercapainya kesepakatan dengan Iran.

    Harga minyak mentah Brent mulai turun setelah pengumuman gencatan senjata pertengahan April, dari puncak perang di level 126,41 dolar AS per barel menjadi di bawah 80 dolar AS per barel saat ini.

    Penurunan harga itu awalnya ditopang oleh kondisi kelebihan pasokan minyak global sebelum perang, yang sempat melindungi dunia dari guncangan pasokan terbesar dalam sejarah. Namun, kelebihan pasokan tersebut kini menghilang dan berubah menjadi defisit yang mengkhawatirkan.

    Cadangan minyak dunia telah menyusut tajam sekitar 190 juta barel dalam beberapa bulan terakhir.

    Pusat distribusi minyak utama di Cushing, Oklahoma, yang menyalurkan bahan bakar ke seluruh Amerika Serikat, bahkan telah mencapai tingkat tekanan operasional. Kondisi itu diibaratkan seperti kopi di dispenser yang tinggal sedikit di dasar wadah sehingga harus dimiringkan untuk mengambil sisa ampas terakhir.

    Sebagian besar endapan di dasar tangki minyak merupakan material yang tidak dapat digunakan, sehingga menyulitkan pemeliharaan tekanan pipa untuk mengalirkan minyak ke pelanggan.

    Kondisi serupa tidak hanya terjadi di Cushing. Fasilitas penyimpanan di berbagai belahan dunia juga mendekati titik kritis.

    “Akan ada masa ketika Anda tidak bisa mendapatkan minyak,” ujar Trump pada Rabu, seraya memperingatkan ancaman “bencana ekonomi” jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

    Ia bahkan mengatakan situasi tersebut bisa membuat dirinya dibandingkan dengan Herbert Hoover, presiden AS yang memimpin pada awal Depresi Besar.

    Harga Minyak Diperkirakan Naik Lagi

    Pembukaan kembali Selat Hormuz tidak serta-merta menyelesaikan masalah inventaris minyak global. Langkah itu baru menjadi awal proses normalisasi aliran minyak.

    Selat tersebut masih harus dibersihkan dari ranjau, kapal tanker kosong harus kembali masuk ke kawasan, produksi perlu dimulai ulang, dan minyak harus menempuh perjalanan panjang menuju tujuan akhirnya.

    Industri minyak memperkirakan proses tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan sebelum aliran minyak kembali mendekati kondisi normal.

    Selama pasar belum benar-benar stabil, dunia masih harus bergantung pada cadangan minyak yang tersisa.

    Karena itu, sejumlah analis industri menilai harga minyak saat ini justru terlalu rendah dan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko kehabisan pasokan sebelum tangki penyimpanan kembali terisi.

    “Pasar melompat tujuh langkah lebih cepat dari kondisi sebenarnya saat ini,” kata Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft.

    “Semua orang menganggap ini sudah selesai. Padahal ada tantangan logistik besar untuk kembali ke posisi semula.”

    Setelah euforia pembukaan kembali Selat Hormuz mereda, fundamental pasar diperkirakan kembali mengambil alih dan mendorong harga minyak naik lagi.

    “Apa pun yang terjadi dalam beberapa pekan ke depan di Selat Hormuz, konsumen Amerika akan menghadapi harga yang lebih tinggi selama musim panas,” kata analis Kpler, Matt Smith.

    “Belum terlihat sekarang karena optimisme terhadap kesepakatan. Tapi kekuatan pasar pada akhirnya akan berlaku.”

    Secara hitungan matematis, bahkan jika pasar minyak global memproduksi hampir lima juta barel lebih banyak dari kebutuhan harian dunia, seperti proyeksi Badan Energi Internasional, dunia tetap membutuhkan sekitar satu tahun untuk mengganti kehilangan 1,15 miliar barel pasokan tersebut.

    “Pada akhirnya, barel fisik benar-benar penting,” kata Dan Pickering.

    “Jika pasokan itu hilang, dampaknya nyata.”

    Namun Harga Bisa Saja Turun

    Meski demikian, pasar tidak selalu bergerak logis.

    Para trader melihat gelombang pasokan minyak yang diperkirakan segera kembali ke pasar, terutama dari negara-negara anggota OPEC yang mengalami tekanan keuangan dan ingin meningkatkan produksi.

    Kondisi baru itu dinilai akan menyulitkan perubahan arah pasar minyak, menurut CEO Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield.

    Selain itu, dunia sebenarnya masih memiliki bantalan pasokan cukup besar sebelum perang dimulai, sehingga dampak penyusutan inventaris belum sepenuhnya terasa.

    “Kita sebelumnya punya bantalan besar, dan sekarang bantalan itu mulai habis,” kata analis energi Macquarie Group, Vikas Dwivedi.

    “Kita memang berada di bawah level tahun lalu, tapi tidak terlalu jauh.”

    Sebagai contoh, stok diesel Amerika Serikat kini berada di level terendah sejak 2003, tetapi hanya turun 12,4 persen dibanding rata-rata lima tahun terakhir. Sementara stok bensin AS hanya turun sekitar 5 persen dibanding tahun lalu.

    Menurut Dwivedi, risiko inventaris memang nyata, tetapi para investor yang optimistis terhadap kenaikan harga minyak mungkin terlalu membesar-besarkan masalah tersebut.

    “Jika Anda seorang trader minyak di kilang, selama krisis Anda mungkin harus menelepon 10 pihak untuk mendapatkan minyak. Sekarang cukup menelepon lima atau enam pihak,” katanya.

    “Dalam beberapa minggu ke depan, justru para penjual yang akan datang menawarkan, ‘Hei, saya punya minyak, mau beli?’”

    ekonomi minyak selat hormuz
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    jove
    • Website

    Related Posts

    Ekonomi & Pasar

    Pekerja Teknologi Gaza Bertahan Lewat Ekonomi Digital, Menjadi Secercah Harapan di Tengah Perang

    04/08/2026
    Bencana

    Tiga Singa Betina Mati di Kebun Binatang Tokyo, Jepang Dilanda Gelombang Panas Ekstrem

    04/08/2026
    Ekonomi & Pasar

    Sebanyak 25 Negara Bagian AS Gugat Tarif Baru Trump yang Berdampak pada Puluhan Negara

    04/08/2026
    Ekonomi & Pasar

    Ketidakpuasan Generasi Muda Jadi Ujian Terbesar bagi PM Narendra Modi

    04/08/2026
    Hiburan

    Uni Eropa Desak Penguatan Perbatasan Usai Gelombang Migran Masuk ke Ceuta

    04/08/2026
    Hiburan

    Massive Attack Dilarang Masuk Singapura Setelah Kibarkan Bendera Palestina di Atas Panggung

    01/08/2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Langganan Berita

    Dapatkan berita olahraga terkini dari NewsSite tentang dunia, olahraga, dan politik.

    Pilihan Editor

    Pekerja Teknologi Gaza Bertahan Lewat Ekonomi Digital, Menjadi Secercah Harapan di Tengah Perang

    04/08/2026

    Ariana Grande Lelah Dikomentari Soal Tubuhnya, Sorotan Publik Diperkirakan Tak Akan Mereda

    04/08/2026

    Tiga Singa Betina Mati di Kebun Binatang Tokyo, Jepang Dilanda Gelombang Panas Ekstrem

    04/08/2026

    Sebanyak 25 Negara Bagian AS Gugat Tarif Baru Trump yang Berdampak pada Puluhan Negara

    04/08/2026
    Info Terbaru

    Apa Itu Lifestyle Sedentary? Menimbulkan Banyak Penyakit Hingga Dapat Terkena Kanker

    20/01/2021

    Pebasket Zhang Ziyu Setinggi 220M Menarik Perhatian Usai Mengalahkan Tim U-18 Indonesia

    15/01/2021

    Kronologi Atlet Bulu Tangkis China Zhang Zhi Jie Meninggal Di Ajang AJC 2024

    15/01/2021
    Advertisement
    LOGO_FOOTER_MAYORITAS
    Facebook X (Twitter) Pinterest Vimeo WhatsApp TikTok Instagram

    News

    • Ekonomi & Pasar
    • Olahraga
    • Opini
    • Otomotif
    • Wisata Kuliner
    • Video Unggulan
    • Kesehatan

    Company

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Hak Cipta
    • Disclaimer
    • Iklan
    • Privacy Policy
    • Panduan Kebijakan

    Layanan

    • Toko
    • Customer Support
    • Karir
    • Tentang kami
    • Hubungi Kami
    • Akses login

    Langganan Updates

    Dapatkan informasi terkinni seputar fakta informasi dunia, anda bisa berlangganan melalui email anda

    © 2026 Mayoritas.com
    • Privacy Policy
    • Term of Service
    • Contact us

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.