Ketua SK Group, Chey Tae-won, diperintahkan pengadilan Korea Selatan untuk membayar 944 miliar won Korea Selatan (sekitar £483 juta atau US$644 juta) kepada mantan istrinya, Roh Soh-yeong, dalam perkara yang oleh media lokal dijuluki sebagai “perceraian abad ini”.
Nilai tersebut masih harus melalui proses finalisasi dan lebih rendah dibandingkan putusan sebelumnya pada 2024, yang memerintahkan Chey membayar 1,38 triliun won kepada Roh.
Putusan itu keluar lebih dari satu dekade setelah rumah tangga Chey dan Roh, putri mantan Presiden Korea Selatan, runtuh menyusul terungkapnya fakta bahwa Chey memiliki seorang anak dari hubungan dengan perempuan lain.
SK Group merupakan induk perusahaan yang menaungi SK Hynix, raksasa semikonduktor pemasok chip bagi Nvidia, yang baru-baru ini mencatat debut bersejarah di bursa saham Amerika Serikat.
Melalui kuasa hukumnya, Chey menyampaikan permohonan maaf.
“Ketua Chey Tae-won sangat menyesalkan bahwa proses perceraian ini sejauh ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pihak. Kami akan menyampaikan tanggapan lebih lanjut setelah mempelajari putusan pengadilan secara menyeluruh,” demikian pernyataan tim kuasa hukumnya.
SK Group merupakan salah satu chaebol Korea Selatan, yaitu konglomerasi keluarga yang memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian negara tersebut.
Putusan terbaru ini merupakan hasil dari proses panjang mengenai pembagian harta antara Roh dan Chey, yang telah menjalani pernikahan selama 35 tahun.
Dalam persidangan sebelumnya pada 2024, tim hukum Roh berhasil meyakinkan pengadilan bahwa Chey memperoleh dukungan finansial yang signifikan dari ayah mantan istrinya, Roh Tae-woo, yang menjabat sebagai Presiden Korea Selatan pada periode 1988 hingga 1993.
Saat itu, pengadilan menyatakan Roh Tae-woo telah memberikan dana sebesar 30 miliar won kepada Chey pada 1991 dari dana gelap miliknya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Chey diperintahkan membayar 1,38 triliun won kepada Roh.
Namun, Mahkamah Agung kemudian membatalkan putusan tersebut pada tahun lalu. Pengadilan tertinggi menyatakan dana gelap itu diperoleh secara ilegal sehingga tidak dapat dihitung sebagai bagian dari harta bersama pasangan tersebut.
Kasus yang Menarik Perhatian Nasional
Perkara perceraian ini menjadi sorotan luas di Korea Selatan.
SK Group didirikan sebagai perusahaan tekstil pada 1953, sebelum berkembang pesat ke berbagai sektor industri hingga menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Korea Selatan.
Saat ini, SK Group merupakan chaebol terbesar kedua setelah Samsung Group. Masyarakat Korea Selatan menggunakan layanan seluler SK Telecom dan mengisi bahan bakar kendaraan mereka di jaringan SPBU SK.
Nama SK Group semakin dikenal di tingkat global setelah anak usahanya, SK Hynix, menjadi salah satu pemain utama dalam ledakan industri kecerdasan buatan (AI). Pada Mei lalu, nilai kapitalisasi pasar perusahaan pembuat chip tersebut melampaui US$1 triliun (sekitar £750 miliar) di bursa saham Korea Selatan.
Seiring melonjaknya nilai SK Hynix, posisi dan pengaruh SK Group serta Ketua Chey Tae-won juga ikut meningkat.
Bulan lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bahkan memuji Chey saat peluncuran rencana investasi besar di sektor AI. Ia menyebut Chey dan Ketua Samsung, JY Lee, sebagai “pahlawan rakyat Korea”.
SK Group juga berhasil menghimpun dana sebesar US$26,5 miliar melalui penawaran sahamnya di New York, yang menjadi pencatatan saham terbesar yang pernah dilakukan perusahaan asing di Amerika Serikat.
