Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut, demikian pernyataan militer AS, ketika kedua negara terus bersaing memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan serangan tersebut bertujuan untuk “semakin melemahkan kemampuan militer Iran”. Centcom juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menaiki sebuah kapal sebagai bagian dari blokade terhadap Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran melaporkan rudal-rudal AS menghantam wilayah dekat Pulau Qeshm yang berada di sekitar Selat Hormuz, serta menyerang Bandar Abbas dan Bushehr, lokasi berdirinya sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir.
Dalam eskalasi yang tampak semakin meningkat, media Iran juga melaporkan dua jembatan di Provinsi Hormozgan menjadi sasaran serangan. memverifikasi adanya serangan terhadap salah satu jembatan di sebelah barat Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan.
Pada awal pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran apabila negara tersebut tidak kembali ke meja perundingan.
Setelah Trump pada April lalu menyatakan bahwa AS akan membombardir infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Türk, menegaskan bahwa “menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil secara sengaja merupakan kejahatan perang.”
Konvensi Jenewa 1949 tentang hukum humaniter internasional melarang serangan terhadap lokasi-lokasi yang dianggap vital bagi kehidupan masyarakat sipil.
Centcom juga menyatakan pasukan marinir AS telah menaiki sebuah kapal tanker minyak di Teluk Oman sebagai bagian dari blokade baru terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang dimulai pada Selasa malam waktu setempat.
Centcom menambahkan pihaknya telah “mengalihkan tiga kapal komersial yang mencoba menerobos blokade.”
Menurut Centcom, dalam blokade sebelumnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada periode 13 April hingga 18 Juni, pasukan AS melumpuhkan sembilan kapal dan mengalihkan lebih dari 140 kapal lainnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan yang semakin membebani kesepakatan awal untuk mengakhiri perang, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada Kamis mengatakan bahwa Trump tetap membuka peluang untuk melakukan pembicaraan dengan Iran.
“Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari pernyataan yang telah mereka sampaikan kepada Amerika Serikat. Namun, pada saat yang sama beliau selalu terbuka terhadap jalur diplomasi,” ujar Leavitt kepada wartawan.
Ia mengatakan Iran telah menyampaikan masih ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
“Kami sedang berbicara dengan mereka. Namun sekali lagi, presiden tidak akan membiarkan mereka menyerang kapal-kapal di selat itu tanpa menerima konsekuensinya,” kata Leavitt.
Di tengah meningkatnya serangan, Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di lepas pantai Iran yang secara efektif ditutup Teheran sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel, hingga kini masih belum dibuka kembali.
Sebelumnya pada Kamis, Teheran mengklaim telah menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan gelombang serangan selama enam jam terhadap sejumlah lokasi di kawasan Selat Hormuz.
Rangkaian aksi tersebut terjadi setelah Trump memperingatkan Iran agar “bersikap baik” atau menghadapi tindakan militer lebih lanjut apabila tidak kembali ke meja perundingan.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan kepada media pemerintah bahwa Teheran “tidak memiliki alasan” untuk mematuhi kesepakatan apa pun yang tidak memberikan manfaat bagi negara tersebut.
Ia menambahkan bahwa keamanan nasional Iran bergantung pada tetap dipertahankannya apa yang ia sebut sebagai “pengaturan Iran” di Selat Hormuz.
Sementara itu, pada Rabu, Trump memuji Iran karena telah membebaskan Dena Karari, seorang warga negara Amerika Serikat yang menurutnya “ditahan secara tidak sah” sejak Desember 2024.
“Amerika Serikat menghargai isyarat niat baik dari Iran ini!” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Pengacara Karari, Jared Genser, mengatakan kliennya sedang dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat.
Namun, pada Kamis, lembaga peradilan Iran membantah adanya pembebasan ataupun pertukaran tahanan warga negara Amerika Serikat dari penjara-penjara di negara itu, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
