Peringatan: Artikel ini memuat detail kekerasan yang dapat mengganggu sebagian pembaca.
Lebih dari 80 orang tewas antara Oktober 2025 hingga Juli tahun ini akibat tuduhan palsu mengenai apa yang disebut sebagai “pencurian alat kelamin”, menurut temuan Global Disinformation Unit setelah mengumpulkan data dari kepolisian di enam negara Afrika.
Kematian tersebut berkaitan dengan desas-desus bahwa sentuhan sederhana di bahu dapat menyebabkan alat kelamin seorang pria menyusut atau menghilang. Informasi yang salah itu diperkuat oleh misinformasi yang tersebar luas di media sosial.
“Mereka berteriak bahwa kami telah mencuri alat kelamin seseorang dan kami tidak punya cara untuk melarikan diri karena ada kerumunan yang sangat besar,” kata mekanik asal Tanzania, Boniface Mgala, mengenai kejadian yang dialaminya pada April, ketika ia dipukuli hingga mengalami luka serius oleh orang-orang yang yakin bahwa dirinya adalah pencuri alat kelamin.
Pengalaman Mgala serupa dengan kejadian yang terlihat dalam sejumlah video. Dalam rekaman tersebut, sejumlah pria mengaku alat kelamin mereka, termasuk penis dan testis, telah hilang atau menyusut setelah bersentuhan dengan orang asing. Massa kemudian menuntut orang-orang yang dituduh sebagai pelaku mengembalikan apa yang diyakini telah mereka curi.
Klaim semacam itu berakar pada ketakutan dan takhayul yang telah berlangsung lama dan bukan hal baru di benua Afrika, khususnya di komunitas yang kepercayaannya terhadap ilmu sihir masih kuat. Media sosial memperkuat ketakutan tersebut.
Gelombang desas-desus terbaru tampaknya bermula tahun lalu di Republik Demokratik Kongo, tempat klaim serupa pernah muncul pada 2008.
Desas-desus itu kemudian menyebar secara bertahap ke sejumlah negara di kawasan tersebut, termasuk Burundi, Zambia, Tanzania, Mozambik, Angola, Malawi, dan Kenya.
Di Zambia, kabar bohong mengenai alat kelamin yang menghilang mulai mendapat perhatian luas pada Maret, ketika seorang perempuan dianiaya hingga tewas oleh massa. Desas-desus itu kemudian menyebar dan memicu kepanikan di Tanzania.
Di rumahnya di Mpemba, dekat Tunduma, sebuah kota perdagangan yang sibuk di Tanzania di perbatasan dengan Zambia, Mgala mengusap jari di sepanjang bekas luka berbentuk sabit yang membentang di sisi kanan kepalanya sambil mengingat pengalaman traumatis tersebut.
“Kalau saya tahu betapa dekatnya saya dengan kematian hari itu, saya tidak akan masuk ke restoran tersebut untuk makan. Hanya saja, kita tidak pernah tahu seberapa dekat kita dengan kematian,” kata mekanik tersebut.
Pada 1 April, ia dan seorang temannya pergi ke Tunduma untuk bertemu seorang klien terkait penjualan mobil dan memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Mereka baru saja duduk di restoran ketika diseret keluar oleh massa.
Dua bekas luka kecil di dagu dan satu giginya yang hilang menjadi tanda lain yang terlihat dari kejadian tersebut.
Dalam pemukulan itu, Mgala kehilangan kesadaran. Ia baru sadar kembali di rumah sakit dua hari kemudian dan mendapat kabar bahwa temannya telah tewas.
Kini, di rumah tempat ia tinggal bersama istri dan keempat anaknya, Mgala berjalan terpincang-pincang dan mengatakan dirinya juga mengalami sakit kepala terus-menerus.
Ia belum dapat kembali bekerja di bengkel mekaniknya, tetapi mengatakan tetangga dan teman-temannya membantu menanggung biaya sejumlah obat yang dibutuhkannya.
Pada hari yang sama ketika Mgala dan temannya diserang, fotografer komersial sekaligus pengusaha Michael Silavwe mengatakan dirinya menyaksikan serangan serupa di Tunduma. Menurutnya, kecemasan mulai meningkat setelah video mengenai pencurian alat kelamin beredar di TikTok.
Di luar tokonya, ia melihat orang-orang berlarian. Ia kemudian mengetahui bahwa seorang pria telah dituduh di sekitar lokasi dan dipukuli, sebelum akhirnya dibakar hidup-hidup.
“Setelah mereka membakarnya, polisi tiba di lokasi dan semua orang berpencar lalu melarikan diri,” kata pria berusia 23 tahun itu
Dalam sebuah video serangan yang telah diverifikasi Global Disinformation Unit dan ditonton lebih dari 100.000 kali di TikTok dan Facebook, terlihat sekelompok orang memukuli seorang pria sambil menuntut agar dia mengembalikan alat kelamin korban yang dituduh telah dicurinya.
“Insiden-insiden itu terus meningkat dan semakin banyak orang dipukuli,” kata Silavwe. Ia menambahkan bahwa pada saat itu anak-anak muda seperti dirinya memang merasa takut, tetapi kini ia memahami bahwa tidak ada kebenaran di balik desas-desus tersebut.
“Saya sadar bahwa itu tidak benar”
Asha Steven Mwakilasa, seorang penjahit dan perancang busana berusia 50 tahun di Tunduma, Distrik Momba, juga mengatakan hal serupa mengenai desas-desus yang beredar di media sosial.
“Saya sadar bahwa itu tidak benar,” katanya.
Namun, hal tersebut tidak menghilangkan kecemasannya, terutama ketika suami atau anak-anaknya sedang berada di luar rumah. Meski demikian, ia bersyukur polisi kini meningkatkan patroli.
Komisioner Distrik Momba, Elias Daniel Mwandobo, mengatakan bahwa penyelidikan lokal menunjukkan kemungkinan adanya unsur kriminal yang disengaja dalam beberapa insiden.
“Sejumlah individu bersekongkol untuk melakukan kejahatan dan memicu kepanikan publik demi keuntungan mereka sendiri,” katanya.
Video lain yang direkam di Dar es Salaam, kota terbesar di Tanzania, memperlihatkan kerumunan menggiring seorang pria menyusuri jalan pasar yang berdebu. Massa mendorong, menarik, dan memukul pria tersebut sambil menuntut agar ia mengembalikan alat kelamin yang dituduhkan telah diambilnya. Pria itu terus memohon bahwa dirinya tidak bersalah.
Puluhan rekaman mengenai kekerasan massa, kesaksian yang diklaim berasal dari korban langsung, peringatan tentang insiden yang disebut-sebut terjadi, komentar, dan video yang dikemas sebagai laporan kejadian di wilayah tertentu beredar di TikTok dan Facebook.
Banyak konten yang dianalisis , termasuk beberapa yang memperlihatkan kekerasan massa, masih tersedia secara daring.
“Kami sedang meninjau konten yang dibagikan kepada kami dan akan mengambil tindakan terhadap konten yang terbukti melanggar kebijakan kami,” kata juru bicara Meta
Di antara sejumlah pembuat konten media sosial yang memperingatkan penonton agar waspada, sering kali tidak jelas apakah mereka benar-benar mempercayai klaim tersebut atau terutama sedang mencari interaksi dan keterlibatan pengguna.
Bersamaan dengan unggahan-unggahan tersebut, sebagian pengguna mempromosikan apa yang disebut jimat yang diyakini dapat melindungi seseorang dari pencurian alat kelamin. Sementara itu, para komedian memparodikan klaim tersebut melalui berbagai sketsa lucu.
Ponsel pintar dan media sosial membuat rumor menyebar lebih cepat, menjangkau lebih banyak orang, dan menjadi jauh lebih sulit dikendalikan setelah mulai beredar, kata penulis Julien Bonhomme.
Bukunya, The Sex Thieves: The Anthropology of a Rumor, membahas bagaimana desas-desus mengenai “pencuri alat kelamin” menyebar dan mengapa orang mempercayainya.
Menurutnya, orang tidak hanya mendengar klaim bahwa seseorang kehilangan alat kelaminnya. Mereka juga melihat pria yang tampak tertekan mengatakan hal itu terjadi kepada mereka atau menyaksikan massa bereaksi terhadap tuduhan tersebut.
Video yang dibagikan di media sosial dapat membuat klaim yang belum terverifikasi tampak lebih meyakinkan karena sifatnya yang langsung dan seketika. Bonhomme menyebut hal tersebut sebagai “salah satu perbedaan paling signifikan” antara lingkungan digital saat ini dan wabah rumor pada masa lalu.
Negara yang paling parah terdampak adalah Mozambik. Polisi mengatakan pada Mei bahwa 55 orang telah tewas dalam kurun waktu enam pekan, termasuk seorang polisi, pekerja kesehatan, dan pegawai negeri.
Presiden Mozambik Daniel Chapo secara terbuka mengecam desas-desus dan kematian yang meluas tersebut. Ia mengatakan klaim itu tidak benar dan pemerintah tidak menemukan bukti medis yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar kehilangan bagian tubuhnya.
Dua pekerja kesehatan tersebut diserang di rumah dan tempat kerja mereka pada April di Provinsi Cabo Delgado, wilayah yang berbatasan dengan Tanzania dan telah dilanda pemberontakan kelompok Islam selama hampir satu dekade.
Fasilitas kesehatan di wilayah tempat serangan terjadi terpaksa ditutup selama beberapa pekan ketika pemerintah menjalankan kampanye penyadaran publik untuk membantah klaim tersebut.
Sebagai bagian dari kampanye kesehatan tersebut, pemerintah mengatakan sebagian ketakutan itu mungkin berkaitan dengan sindrom Koro, gangguan mental yang juga dikenal sebagai histeria akibat dugaan hilang atau tertariknya alat kelamin.
Insiden kekerasan terbaru terjadi di Kenya, di mana lima orang tewas dikeroyok massa di wilayah pesisir Kwale dan Mombasa.
Setelah insiden pertama dilaporkan pada Juli, Komisioner Kabupaten Mombasa Mohamed Noor menyalahkan sejumlah pembuat konten yang menyebarkan klaim tersebut demi meningkatkan interaksi “semata-mata untuk menarik jumlah penayangan dan perhatian”.
“Misinformasi semacam itu dapat dengan mudah menyebabkan hilangnya nyawa,” kata Noor
Ia mengatakan polisi kemudian berhasil mengendalikan kekerasan dan menangkap sejumlah orang, termasuk seorang ayah dan anaknya yang dijatuhi hukuman satu tahun penjara setelah mengaku bersalah menyerang seorang perempuan yang mereka tuduh menyebabkan alat kelamin pria menghilang.
Klaim serupa juga memicu serangan massa di Malawi yang menewaskan delapan orang.
Kembali ke Tunduma di Tanzania, sementara mekanik Mgala masih memulihkan diri dari dampak fisik akibat serangan tersebut, luka emosional yang ditinggalkan kejadian itu masih terasa.
“Saya masih sangat terpukul ketika mengingat bagaimana teman saya meninggal dengan cara yang tidak masuk akal itu karena saya masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
“Tiba-tiba Anda mendapati diri dilempari batu tanpa alasan, lalu akhirnya kehilangan nyawa?”
