Arab Saudi mengecam apa yang disebutnya sebagai serangan Iran terhadap kapal tanker supermilik perusahaan Saudi pada Senin malam yang menewaskan dua pelaut asal Filipina.
Perusahaan pelayaran nasional Arab Saudi, Bahri, pada Rabu mengonfirmasi bahwa kapalnya, Sidr, “terlibat dalam insiden keamanan saat sedang melintas di Selat Hormuz”.
Sidr terkena proyektil di sebelah utara Semenanjung Musandam, Oman, menurut sejumlah perusahaan keamanan maritim. Kapal tanker super berbendera dan dimiliki perusahaan Korea Selatan, Senegal Prosperity, juga dilaporkan terkena serangan di sebelah timur Musandam pada waktu yang hampir bersamaan.
Iran belum menanggapi tuduhan Arab Saudi tersebut. Namun sebelumnya Iran mengatakan dua kapal tanker terbakar setelah menabrak ranjau ketika menggunakan jalur yang tidak diizinkan untuk melintasi selat tersebut.
Kabar mengenai kematian kedua pelaut itu muncul setelah militer AS melancarkan gelombang serangan udara ke Iran dan pasukan Iran menargetkan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Arab tetangga dengan rudal dan drone dalam baku tembak terbesar sejak Juli.
Pada Rabu, Menteri Kesehatan Iran mengatakan 18 orang tewas dan 108 lainnya terluka dalam serangan AS. Iran menuduh AS melakukan “kejahatan perang” setelah sebuah serangan menewaskan empat orang, termasuk dua anak, dalam sebuah pesta pernikahan di kota Sirik, wilayah selatan Iran. Militer AS mengatakan sedang menyelidiki laporan tersebut.
Dalam pernyataannya, perusahaan pelayaran Bahri mengatakan “insiden keamanan” yang tidak dirinci dan melibatkan Sidr terjadi di Selat Hormuz sekitar pukul 23.40 waktu setempat pada Senin, atau pukul 19.40 GMT.
“Dengan kesedihan mendalam, Bahri mengonfirmasi kehilangan dua pelaut Filipina akibat insiden tersebut,” kata perusahaan itu. “Perusahaan menyampaikan belasungkawa terdalam dan simpati yang tulus kepada keluarga, orang-orang terkasih, serta rekan-rekan mereka dalam masa sulit ini.”
Kemudian, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan kecaman kerajaan atas “tindakan Iran yang menargetkan kapal tanker Saudi, Sidr, ketika sedang melintasi Selat Hormuz”.
Kementerian tersebut juga mengecam serangan Iran baru-baru ini terhadap Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Riyadh menegaskan “perlunya menghentikan eskalasi dan menghormati keamanan serta keselamatan pelayaran internasional”, sekaligus menjamin keamanan pasokan energi global, kedaulatan nasional, dan hukum internasional.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah perusahaan manajemen risiko maritim dan intelijen Marisks dan Kpler melaporkan bahwa dua kapal tanker, yang masing-masing memuat dua juta barel minyak mentah Saudi, terkena proyektil yang belum diketahui dalam selang waktu beberapa menit saat berlayar keluar melalui Selat Hormuz pada Senin malam.
Menurut Marisks, Sidr terkena “proyektil yang belum diketahui” pada pukul 19.52 GMT, sekitar 16 mil laut atau 30 kilometer di timur laut Khasab, Oman. Sementara itu, Senegal Prosperity terkena “tiga proyektil yang belum diketahui” sekitar 17 mil laut atau 31 kilometer di sebelah timur Khasab.
Badan UK Maritime Trade Operations juga melaporkan dua insiden di lokasi yang sama.
Pada Rabu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dua kapal tanker minyak berusaha “atas desakan militer AS untuk melintas melalui jalur ilegal” di Selat Hormuz sebelum “menabrak ranjau dan meledak”. Kedua kapal tersebut, tambahnya, “saat ini sedang terbakar”.
Militer AS belum memberikan komentar. Namun, pihaknya mengatakan serangan terbaru terhadap Iran dilakukan setelah “upaya serangan baru-baru ini oleh IRGC terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan personel militer Amerika”.
Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, secara efektif ditutup sejak perang AS dan Israel melawan Iran dimulai pada Februari akibat serangan rudal dan drone Iran terhadap kapal-kapal komersial serta blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
AS dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat tersebut pada Juni, tetapi kesepakatan itu runtuh dalam hitungan pekan setelah serangan Iran terhadap pelayaran kembali terjadi dan AS memberlakukan kembali blokadenya.
Iran bersikeras tidak akan melepaskan sebagian kendalinya atas jalur perairan tersebut dan telah menargetkan kapal-kapal yang menggunakan jalur selatan melalui perairan Oman untuk menghindari jalur yang lebih disukai Iran melalui wilayah perairannya.
Meski terjadi serangan Iran, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz “terbuka” dan militer AS membantu kapal-kapal menavigasi jalur selatan.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan 17 juta barel minyak diangkut melalui Selat Hormuz menggunakan kapal pada Senin, jumlah harian tertinggi sejak perang dimulai.
