Juara dunia tinju kelas 57 kg asal India, Jaismine Lamboria, mencari nafkah dengan bertarung di atas ring. Namun, ketika menghadapi tekanan, ia justru mengambil inspirasi dari salah satu legenda kriket terbesar India, MS Dhoni.
“Saya sangat mengagumi pola pikir MS Dhoni,” kata Lamboria tentang mantan kapten tim nasional India itu. “Dia dijuluki ‘Captain Cool’ karena suatu alasan, dan saya ingin tetap tenang seperti dirinya.”
Ketenangan tersebut akan menjadi modal penting bagi Lamboria dalam beberapa hari ke depan.
Petinju berusia 24 tahun itu menjadi salah satu harapan terbesar India untuk meraih medali emas cabang tinju pada Commonwealth Games Glasgow. Ia bertekad memperbaiki pencapaiannya setelah hanya meraih medali perunggu pada Commonwealth Games Birmingham 2022.
Setelah menjalani musim 2025 yang gemilang dengan merebut medali emas Piala Dunia di Astana dan Delhi, lalu menjuarai Kejuaraan Dunia di Liverpool, Lamboria datang ke Glasgow dengan target yang sangat jelas.
“Saya ingin mengubah warna medali itu menjadi emas. Itulah tujuan latihan dan seluruh persiapan saya,” ujarnya.
Dengan tinggi badan sekitar 174 sentimeter, Lamboria tergolong tinggi menurut standar petinju India. Debut Olimpiadenya di Paris 2024 berakhir lebih cepat setelah kalah pada pertandingan pertama dari peraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020 asal Filipina, Nesthy Petecio.
Namun, kekalahan tersebut terjadi di kelas yang baru kembali ia tekuni. Setelah hampir tiga tahun bertanding di kelas 60 kg, Lamboria memutuskan turun kembali ke kelas 57 kg selama proses kualifikasi Olimpiade Paris. Keputusan itu terbukti tepat setelah ia merebut gelar juara dunia dengan mengalahkan peraih medali perak Olimpiade Paris 2024 asal Polandia, Julia Atena Szeremeta.
“Kekalahan di Olimpiade Paris 2024 memang mengecewakan, tetapi juga membuka mata saya,” kata Lamboria. “Itu mendorong banyak perubahan dalam diri saya, baik secara fisik maupun mental. Sebagian besar perubahan itu terjadi di Army Sports Institute (ASI) di Pune, tempat saya berlatih.”
Lamboria memuji para pelatih di ASI yang telah meningkatkan kekuatan fisiknya. Ia juga mengakui peran pelatih motivasi dan psikolog olahraga yang membantunya memperkuat mental saat bertanding.
Di luar itu, Angkatan Darat India telah memberikan dukungan kelembagaan yang menjadi fondasi penting dalam perkembangan kariernya.
Setelah meraih medali perunggu pada Commonwealth Games 2022, Lamboria menjadi petinju putri pertama yang direkrut Angkatan Darat India dengan bergabung ke Korps Polisi Militer. Kini ia berlatih di bawah Mission Olympics Wing.
“Merupakan kehormatan besar karena mereka memulai langkah ini bersama saya. Namun, saya juga melihatnya sebagai kesempatan untuk menjadi panutan bagi atlet-atlet perempuan,” ujar Lamboria tentang sistem yang telah melahirkan banyak atlet Olimpiade dan Paralimpiade, termasuk juara lempar lembing Olimpiade, Neeraj Chopra.
Pada awal 2024, Angkatan Darat India meluncurkan Girls Sports Company, sebuah program pembinaan bagi atlet putri berusia 12 hingga 16 tahun di empat cabang olahraga Olimpiade, termasuk tinju. Program ini dirancang untuk membuka jalur menuju kompetisi elite sekaligus peluang bergabung dengan militer.
“Para atlet putri ini juga berkembang sangat baik,” kata Lamboria. “Salah satu petinju bahkan sudah meraih medali emas Kejuaraan Asia, dan itu membuat saya sangat bangga. Mungkin saya adalah petinju putri pertama di Angkatan Darat India, tetapi saya yakin bukan yang terakhir.”
Hubungan Lamboria dengan dunia tinju sebenarnya telah dimulai jauh sebelum ia bergabung dengan militer.
Lahir di negara bagian Haryana, India utara, Lamboria tumbuh di Kota Bhiwani, daerah yang dikenal sebagai pusat tinju India dan dijuluki “Mini Kuba” karena tradisi kuat dalam olahraga tersebut.
Kakek buyutnya, Hawa Singh, merupakan salah satu legenda awal tinju India. Bertanding di kelas berat, Hawa Singh memenangkan dua medali emas Asian Games secara beruntun pada 1966 dan 1970. Ia juga menjadi salah satu pendiri Bhiwani Boxing Club, yang kemudian melahirkan banyak petinju hebat, termasuk peraih medali Olimpiade, Vijender Singh.
Meski demikian, bukan koleksi medali Hawa Singh yang paling sering dikenang Lamboria.
“Beliau memang sangat kuat, tetapi juga memiliki kerendahan hati yang luar biasa,” ujarnya.
Pengaruh terbesar Lamboria untuk mulai mengenal tinju justru datang dari kedua pamannya, Sandeep Singh dan Parvinder Singh.
“Saya tumbuh dengan melihat mereka bertanding. Merekalah yang pertama kali memperkenalkan saya pada tinju,” katanya.
Lamboria mulai menekuni tinju secara serius saat berusia sekitar 14 tahun. Ia pertama kali berlatih di akademi milik Sanjay Sheoran, putra Hawa Singh, sebelum melanjutkan pembinaan bersama kedua pamannya.
Walaupun olahraga ini telah mengakar dalam keluarga besarnya, Lamboria dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Jaiveer, bekerja sebagai petugas home guard, sementara ibunya, Joginder, adalah ibu rumah tangga.
“Dukungan mereka menjadi alasan utama mengapa saya menjadi anak perempuan pertama di keluarga inti yang benar-benar menekuni olahraga,” katanya. “Terlebih lagi, saya adalah yang paling muda di antara anak-anak perempuan dalam keluarga.”
Sumber inspirasinya juga tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga.
Sejak kecil, Lamboria mengidolakan peraih medali Olimpiade MC Mary Kom dan Vijender Singh. Seiring perjalanan kariernya, ia juga menjadikan petinju Angkatan Darat India Amit Panghal dan Manish Kaushik, juara Olimpiade Neeraj Chopra, legenda renang Amerika Serikat Michael Phelps, serta legenda lari India Milkha Singh sebagai panutan.
Di dalam tim nasional India sendiri, ia mengaku banyak termotivasi oleh Nikhat Zareen, Lovlina Borgohain, dan Pooja Rani. Menurutnya, bukan hanya prestasi mereka yang menginspirasi, tetapi juga dukungan yang mereka berikan kepada atlet-atlet muda.
“Ketika melihat mereka, secara alami muncul keinginan untuk bisa melakukan hal yang sama seperti mereka,” ujarnya.
Kini, Lamboria perlahan mulai menempati posisi sebagai sosok inspiratif bagi generasi berikutnya.
“Selama bertahun-tahun, tinju dianggap sebagai olahraga yang didominasi laki-laki,” katanya. “Sebagai petinju perempuan sekaligus atlet Angkatan Darat, tampil di panggung dunia, membuktikan kemampuan, dan menginspirasi orang lain melalui penampilan saya memiliki arti yang sangat besar.”
Perubahan tersebut juga tercermin dalam Commonwealth Games. Cabang tinju telah menjadi bagian dari ajang ini sejak 1930, tetapi nomor putri baru mulai dipertandingkan pada 2014. Di Glasgow, pertandingan tinju dimulai pada 24 Juli, sedangkan partai final akan berlangsung pada 31 Juli dan 1 Agustus.
Setelah membawa pulang medali perunggu dari Birmingham empat tahun lalu, Lamboria berharap dapat meninggalkan Glasgow dengan medali emas.
“Ketika bertanding di luar negeri dan lagu kebangsaan diperdengarkan, rasanya benar-benar berbeda,” katanya.
“Saya pernah merasakan momen itu saat menjadi juara dunia di Liverpool tahun lalu. Itulah momen yang ingin saya rasakan kembali di Glasgow.”
