Seorang mantan atlet kano Olimpiade didakwa oleh dewan juri di Pengadilan Tinggi Washington DC atas dugaan merusak Reflecting Pool di depan Lincoln Memorial, Amerika Serikat.
David Hearn didakwa pada Kamis dengan satu tuduhan perusakan properti bernilai lebih dari US$1.000, atau sekitar Rp16 juta, menurut dokumen dakwaan. Tuduhan pidana berat itu membawa ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara apabila terbukti bersalah.
Dalam dakwaan disebutkan bahwa dewan juri Washington DC menemukan Hearn “dengan sengaja merusak dan menghancurkan properti tertentu, yaitu material pelapis Reflecting Pool Lincoln Memorial”.
Dakwaan tersebut menandai eskalasi signifikan dari langkah pemerintahan Presiden Donald Trump yang menganggap kerusakan lapisan dasar kolam dan pertumbuhan alga setelah renovasi sebagai tindakan vandalisme serius.
Kantor Jaksa AS untuk Distrik Columbia yang dipimpin Jeanine Pirro sejauh ini memfokuskan tuduhan pidana berat kepada Hearn. Sebelumnya, Trump menyerukan hukuman maksimal bagi pihak-pihak yang dianggap melakukan vandalisme terhadap kolam tersebut.
Dalam konferensi pers, Pirro menuduh Hearn “dengan kasar” merobek sekitar dua kaki persegi, atau sekitar 0,19 meter persegi, bagian dari kolam besar itu. Ia juga menyebut Hearn bersikap kasar dan tidak kooperatif terhadap petugas federal yang menjaga lokasi.
Ketika ditanya apakah dakwaan pidana berat terhadap Hearn dipengaruhi arahan Presiden Trump, Pirro menjawab, “Kasus ini memiliki bukti yang sangat kuat dan bukti itulah yang menentukan langkah kami.”
Pirro menolak menjelaskan bukti tambahan selain kesaksian para saksi di lokasi kejadian yang, menurutnya, “tidak memiliki agenda apa pun” dan hanya melihat adanya “kerusakan pada monumen nasional”.
Pengacara Hearn, Norm Eisen, mengecam dakwaan tersebut.
“Davey Hearn tidak bersalah. Tuduhan ini keterlaluan dan seharusnya mengkhawatirkan setiap warga Amerika. Dakwaan ini mencerminkan upaya pemerintah mengalihkan kesalahan atas kegagalan mereka sendiri,” kata Eisen dalam pernyataannya.
“Menjelang Hari Kemerdekaan negara kami, masyarakat Amerika harus sangat khawatir terhadap penyalahgunaan kekuasaan pemerintah terhadap warga biasa berdasarkan narasi yang direkayasa,” ujarnya.
Sebelumnya, melaporkan melihat lembaran material biru yang sebagian masih menempel di dasar kolam dan mengambang ke permukaan.
Hearn sebelumnya mengatakan bahwa dirinya ditangkap polisi setelah menyentuh lembaran material biru yang terlepas sebagian dari dasar kolam. Reflecting Pool itu baru dibuka kembali bulan lalu setelah menjalani renovasi bernilai jutaan dolar AS atas perintah Presiden Trump.
Menurut Hearn, seorang petugas National Park Service sempat memperingatkannya agar tidak memasukkan tangan ke air sebelum akhirnya ia diborgol oleh Polisi Taman Nasional. Ia membantah melakukan vandalisme dan mengatakan hanya merasa penasaran.
Trump pada akhir bulan lalu memperingatkan bahwa pihak-pihak yang disebutnya telah “merusak” kolam itu dapat menghadapi hukuman penjara yang panjang.
Pirro mengatakan pada Kamis bahwa kantor jaksa AS juga tengah menyelidiki “sekitar setengah lusin” kasus lain terkait insiden tersebut.
“Kami memiliki sekitar setengah lusin kasus lain. Beberapa mungkin akan menjadi pelanggaran ringan, dan sebagian lainnya bisa lebih ringan lagi, seperti pelanggaran administratif,” katanya.
Renovasi kolam yang ditargetkan selesai sebelum perayaan Hari Kemerdekaan AS akhir pekan ini sempat menghadapi berbagai masalah, termasuk pertumbuhan alga dan mengelupasnya cat atau lapisan pelindung sesaat setelah dibuka kembali untuk umum bulan lalu.
Trump juga mengeklaim seseorang telah membuat goresan panjang di kolam menggunakan benda tajam. Namun, pemerintah federal belum memberikan bukti atas klaim tersebut, sementara estimasi Trump mengenai panjang kerusakan di kolam disebut berubah-ubah.
