“Silencio!” teriak para petugas penyelamat sambil mengangkat tangan dan mengepalkan tinju ke arah jalan, memberi isyarat agar semua orang diam.
Kendaraan di jalan berhenti bergerak. Percakapan warga terhenti. Mesin alat berat pun mendadak sunyi.
Seorang petugas penyelamat menempelkan telinganya ke lubang yang baru berhasil mereka bor menembus lempengan beton. Petugas lain menyorotkan senter ke dalam celah tersebut.
Mereka mencoba mendengar kemungkinan suara korban selamat yang masih terjebak di bawah reruntuhan gedung 12 lantai di pinggir jalan utama kota pesisir La Guaira.
Wilayah itu menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada Rabu pekan lalu dan menewaskan sedikitnya 1.700 orang. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menyebut bencana tersebut sebagai “bencana alam paling brutal” dalam sejarah negara itu.
Di dekat bangunan yang runtuh, Miguel Oscar Nunez berdiri menahan napas bersama keluarga lain yang kerabatnya masih tertimbun reruntuhan. Anak tunggal Miguel, Angel, 34 tahun, tinggal di gedung tersebut.
Beberapa saat penuh harap berlalu, namun para petugas tidak mendengar apa pun. Kesunyian pun berakhir dan proses pencarian kembali dilanjutkan.
“Anak saya, seperti ratusan orang lainnya, terjebak di bawah reruntuhan. Kami sangat membutuhkan bantuan lebih besar dari pemerintah untuk mengevakuasi mereka. Bisa saja gempa itu tidak membunuhnya, tetapi bayangkan jika dia justru meninggal karena kelalaian pihak berwenang,” kata Miguel dengan wajah penuh amarah.
Kevin Montilla juga tinggal di gedung itu. Saat gempa terjadi, ia sedang bekerja, sementara istrinya, Luzmary, dan putrinya yang berusia 16 tahun, Jhoerliyzmar, berada di rumah.
“Operasi penyelamatan dimulai sangat terlambat dan berjalan lamban. Awalnya hanya warga sekitar yang datang membantu. Polisi hanya datang memeriksa situasi, tetapi tidak ikut menolong. Respons pemerintah sangat mengecewakan dan tidak efektif,” ujar pria berusia 34 tahun itu.
Saat kami mengunjungi lokasi, tim penyelamat dari Venezuela dan Kolombia tengah melakukan operasi pencarian. Dua alat pengeruk dan sebuah derek untuk mengangkat lempengan beton juga terlihat di lokasi.
Namun keluarga korban yang menunggu di pinggir jalan mengatakan hari-hari berharga telah terbuang sebelum upaya penyelamatan benar-benar dimulai.
“Saya belum kehilangan harapan, tetapi saya sangat hancur. Hukum alam mengatakan seorang ayah seharusnya meninggal lebih dulu daripada anaknya. Bayangkan jika anak Anda meninggal mendadak,” ujar Miguel.
Gedung tersebut merupakan bagian dari kompleks milik pemerintah. Faktor itu, ditambah lokasinya yang menonjol, diduga menjadi alasan mengapa bangunan itu mendapat perhatian besar dari tim penyelamat.
Sebab, masih ada sejumlah wilayah di negara bagian La Guaira yang hingga kini belum dijangkau tim pencarian.
Kami bertemu Deilisbeth Herreira di sebuah rumah sakit di kota La Guaira ketika ia memeriksa daftar korban luka dan meninggal dunia. Ia mencari dua putrinya, Greydelys yang berusia 12 tahun dan Graybelys yang berusia 13 tahun.
Sebagai orang tua tunggal, Deilisbeth sedang bekerja saat gempa terjadi.
Ia menduga kedua anaknya berada di rumah ketika bangunan runtuh, namun ia terus mencari ke mana-mana jika ternyata mereka berada di luar rumah dan berhasil selamat.
“Saya tidak mendapat bantuan dari siapa pun. Tidak ada alat berat atau petugas penyelamat yang dikirim untuk menggali reruntuhan. Rasanya seperti dibiarkan sendirian mencari keluarga sendiri,” katanya sambil menangis.
“Anak-anak saya pendiam dan rajin belajar. Saya hanya ingin mereka kembali, apa pun caranya,” tambahnya.
Di hampir setiap lokasi yang kami kunjungi, warga mengaku merasa ditinggalkan oleh negara.
Di sebuah jalan yang membentang di sepanjang garis pantai, dua blok apartemen bertingkat bagian dari kompleks Bello Horizonte runtuh menjadi puing-puing. Kami melihat keluarga korban dan relawan, mengenakan masker serta sarung tangan karet, menggali reruntuhan menggunakan sekop dan linggis.
“Bau mayat di sini sangat menyengat. Tapi saya tetap mencari karena saya sedang mencari paman saya. Kami tidak bisa hanya diam ketika masih ada kemungkinan orang hidup di bawah reruntuhan,” kata William Rodrigues. “Bantuan datang sangat terlambat di banyak tempat, bahkan di beberapa lokasi sampai sekarang belum juga tiba.”
Meski polisi berjaga di sekitar kompleks, mereka tidak terlibat dalam proses evakuasi maupun pencarian korban.
Juan Avendo, 60 tahun, yang tinggal di seberang kompleks Bello Horizonte dan rumahnya juga hancur, mengatakan: “Kami bisa mendengar jeritan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan. Jadi kami mencoba membantu sendiri, menggunakan tangan kosong dan menggali puing-puing dengan kuku kami.”
Juan dan keponakannya, Enyer Musics, menceritakan bagaimana mereka berhasil menyelamatkan seorang perempuan dalam keadaan hidup.
“Kami mendengar dia berteriak pada malam hari. Tapi saat itu gelap dan kami tidak bisa berbuat banyak. Keesokan paginya kami kembali mencarinya. Pertama kami berhasil memberinya sebotol air, lalu kami bekerja keras menariknya keluar,” ujarnya.
Tim penyelamat resmi pertama, yakni petugas pemadam kebakaran Venezuela, baru tiba pada Jumat, hampir dua hari setelah gempa terjadi. Tim dari El Salvador dan Amerika Serikat juga ikut membantu. Beberapa korban selamat sempat ditemukan sebelum operasi akhirnya dihentikan pada Minggu.
Juan memperkirakan masih ada ratusan jasad yang tertimbun di bawah reruntuhan.
Bisa jadi banyak dari mereka tidak akan pernah ditemukan, dan dunia mungkin tidak akan pernah mengetahui besarnya skala sebenarnya dari bencana ini.
