Merapikan rumah bagi Dilly Carter bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk kepedulian.
Pakar penataan rumah dari acara Sort Your Life Out, itu pernah membantu mantan kekasihnya membersihkan dan menata rumah sang ibu setelah meninggal dunia.
“Itu cara saya membantu dia,” kata Carter. “Dan dari situ kami akhirnya kembali bersama.” Kini keduanya telah menikah.
Tumbuh di rumah yang kacau dengan kedua orang tua yang sama-sama bekerja membuat Carter sejak kecil lebih menyukai kerapian dan keteraturan.
Ia sempat bekerja sebagai asisten pribadi bagi para eksekutif perusahaan. Selain mengatur jadwal kerja mereka, Carter juga mulai membantu menata rumah para kliennya.
Dalam podcast video terbaru bertajuk Sort Your Life Out Unpacked, ia mewawancarai sejumlah tokoh terkenal seperti Sophie Ellis-Bextor dan Lorraine Kelly mengenai barang-barang favorit mereka sekaligus memberi saran agar rumah tetap bebas dari tumpukan barang.
Carter mengungkap empat kesalahan paling umum yang membuat rumah berantakan dan cara mengatasinya.
Meja dapur dianggap tempat menyimpan semua alat
Bread maker, air fryer, blender, juicer, hingga alat pengiris mandoline lengkap dengan sarung tangan antipotong kini makin banyak memenuhi dapur modern.
Namun menurut Carter, banyaknya peralatan dapur justru membuat meja dapur terasa sempit dan penuh sesak.
“Saya menganggap dapur seperti properti bernilai tinggi,” katanya. “Semua barang di dapur harus benar-benar layak menempati ruang di sana.”
Ia sering menemukan dapur yang dipenuhi alat-alat yang jarang dipakai tetapi justru mengambil “ruang premium” di meja dapur. Menurutnya, barang semacam itu sebaiknya disimpan di laci, lemari, atau bahkan loteng jika sudah lama tidak digunakan.
“Periksa dapur Anda secara rutin. Lihat apa yang benar-benar dibutuhkan, apa yang sering dipakai, dan apa yang tidak.”
Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak terlalu banyak membeli alat dapur khusus dengan fungsi tunggal.
Menurutnya, lebih baik memilih produk multifungsi. Blender, misalnya, dinilai lebih fleksibel dibanding juicer karena jus juga bisa dibuat dari hasil blender yang disaring menggunakan kain atau saringan biasa tanpa perlu alat tambahan.
Lemari penuh pakaian tetapi laci tetap tidak cukup
Menggulung kaus memang dianggap cara efisien menghemat ruang di laci. Namun Carter menilai metode itu justru menyulitkan saat memilih pakaian.
Ia lebih menyarankan metode file folding, yakni menyusun pakaian secara berdiri menyamping sehingga warna pakaian tetap terlihat meski gambar di bagian depan tidak tampak jelas.
“Kita biasanya menggulung atau melipat pakaian saat berusaha memaksimalkan ruang laci,” ujarnya.
Namun Carter mengingatkan tidak semua jenis pakaian cocok disimpan dengan metode tersebut.
Ia menyarankan mempertimbangkan usia dan bahan pakaian sebelum menentukan cara penyimpanannya.
“Saya rasa kemeja dan blus sebaiknya digantung, sedangkan kaus masih bisa disusun dengan metode file folding.”
Semua mainan dimasukkan ke satu kotak besar
Bagi keluarga dengan anak kecil, mainan yang berserakan di lantai menjadi pemandangan sehari-hari.
Karena alasan praktis, banyak orang tua memilih menyimpan seluruh mainan dalam satu kotak besar di sudut ruangan. Namun Carter menilai cara itu justru memperparah kekacauan.
“Saat anak mencari satu mainan tertentu, bagaimana mereka bisa menemukannya? Mereka harus mengeluarkan semua isi kotak dulu,” jelasnya.
“Lalu Anda akan stres karena semua mainan akhirnya berantakan di mana-mana.”
Sebagai solusi, ia menyarankan penggunaan beberapa kotak kecil yang dikelompokkan berdasarkan jenis mainan.
Cara itu dinilai memudahkan anak menemukan barang yang dicari sekaligus mengurangi kekacauan setelah bermain.
“Entah itu kotak kardus, keranjang, atau wadah transparan, yang penting sistemnya masuk akal untuk Anda dan memudahkan anak menemukan mainannya.”
Tumpukan dokumen dibiarkan menyebar
Tagihan listrik, pajak, lisensi televisi, dan berbagai dokumen rumah tangga lainnya sering kali menjadi sumber kekacauan tersendiri.
Berbeda dengan mainan, Carter justru menyarankan agar semua dokumen penting dikumpulkan di satu tempat.
Menurutnya, dokumen sering kali terasa membebani secara mental karena identik dengan kewajiban dan tagihan.
“Bagi banyak orang, dokumen itu sesuatu yang negatif. Tagihan, invoice, hal-hal yang harus diselesaikan,” katanya.
Saat dokumen tersebar di berbagai sudut rumah, mulai dari meja dapur hingga tas tangan, beban itu terasa lebih besar.
“Rasanya seperti ada 15 tumpukan masalah berbeda yang harus diurus.”
Dengan mengumpulkannya di satu tempat, tugas tersebut terasa lebih ringan dan mudah dikelola.
“Rasanya jadi seperti, ‘Oke, saya hanya perlu mengurus satu kotak dokumen ini.’ Itu membuat semuanya jauh lebih mudah.”
Bagi Carter, manfaat psikologis dari rumah yang rapi dan terorganisasi sangat jelas terasa.
“Kalau dibiarkan berantakan, semua kekacauan itu hanya akan terus menatap balik kepada kita, bukan?” katanya.
