Sebanyak 11 orang tewas setelah sebuah pesawat sipil yang membawa penerjun payung jatuh di kota Tomblaine, Prancis timur, menurut keterangan pejabat setempat.
Pilot dan seluruh 10 penumpang pesawat meninggal dunia, termasuk lima instruktur serta lima orang yang tengah bersiap melakukan terjun payung tandem untuk pertama kalinya.
Pesawat yang digunakan oleh sekolah penerjun payung itu lepas landas dari lapangan udara Nancy-Essey sebelum tiba-tiba jatuh sekitar pukul 11.00 waktu setempat pada Minggu.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan kantor kejaksaan Paris telah membuka penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.
Nuñez menambahkan, sejumlah anggota keluarga korban menyaksikan langsung insiden itu karena mereka berkumpul di lapangan udara untuk melihat penerjunan tandem pertama para korban.
Wali Kota Nancy, Mathieu Klein, mengatakan beberapa korban meninggal “di depan mata orang-orang yang mereka cintai”.
Presiden Departemen Meurthe-et-Moselle, Chaynesse Khirouni, menyebut anggota keluarga korban mengalami “trauma psikologis yang sangat berat”.
Nuñez mengatakan terdapat “emosi yang sangat kuat” ketika dirinya mengunjungi lokasi kejadian, sekaligus “solidaritas besar” untuk keluarga korban.
Ia menambahkan tim medis dan psikolog telah dikerahkan untuk memberikan pendampingan kepada keluarga dan para saksi.
Pesawat jatuh di dekat tepi lapangan udara, tidak jauh dari kawasan permukiman dan pusat perbelanjaan. Pejabat setempat mengatakan pesawat nyaris menghantam rumah-rumah di sekitar lokasi.
“Selisih beberapa meter saja dan kecelakaan ini bisa menyebabkan korban tambahan,” kata Prefek Meurthe-et-Moselle, Yves Seguy.
Kepada stasiun televisi BFM, Seguy mengatakan pesawat jatuh “hampir secara vertikal, tepat di dekat kawasan perumahan”.
Separuh dari korban penerjun payung yang meninggal diketahui berprofesi sebagai perawat, kata Thierry Pechey, kepala organisasi perawat lokal, kepada BFM.
“Mereka adalah rekan kerja yang memutuskan mencoba terjun payung untuk pertama kali, kemungkinan untuk melepas penat, karena kami sedang menghadapi masa sulit akibat gelombang panas,” ujarnya.
Menurut kantor berita AFP yang mengutip badan keselamatan penerbangan Prancis BEA, kecelakaan itu merupakan insiden pesawat pribadi paling mematikan dalam sejarah Prancis, di luar penerbangan militer dan komersial.
Seorang saksi mata yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa ia melihat pesawat mulai berbelok tajam ke kanan saat dirinya melintas dengan mobil.
“Jelas ada sesuatu yang tidak beres,” katanya.
Pria itu tidak melihat langsung pesawat menghantam tanah karena terhalang tanggul di sisi jalan, tetapi ia mendengar suara benturannya.
Saat tiba di lokasi, ia mencoba membantu memadamkan puing-puing pesawat yang terbakar.
“Kami langsung tahu semuanya sudah berakhir, bahwa mereka meninggal seketika. Tidak ada gerakan sama sekali, dan benturannya terlihat terlalu keras sehingga mustahil ada yang selamat,” ujarnya.
Wali Kota Tomblaine, Hervé Feron, mengatakan pesawat itu jatuh “dengan cara yang sama sekali tidak dapat dijelaskan”, namun menegaskan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.
“Mungkin kondisi cuaca berperan, atau mungkin sama sekali tidak ada hubungannya. Saya benar-benar belum tahu,” katanya kepada BFM.
Belum diketahui apakah cuaca menjadi faktor penyebab kecelakaan, dan Nuñez menolak berspekulasi sebelum hasil penyelidikan resmi keluar.
Seperti sebagian besar wilayah Eropa lainnya, Prancis tengah dilanda gelombang panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Peringatan cuaca level oranye untuk suhu tinggi diberlakukan di wilayah Meurthe-et-Moselle pada Minggu.
