Apa yang awalnya hanya lelucon di internet kini berubah menjadi gelombang demonstrasi di ibu kota India.
Sejak Sabtu lalu, Abhijeet Dipke, pendiri Cockroach Janta Party yang bernuansa satir, berkemah di pusat Kota New Delhi sambil memimpin aksi massa yang menolak membubarkan diri hingga Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri terkait skandal sistem ujian nasional.
“Kami siap bertahan selama apa pun yang dibutuhkan,” kata Dipke dari lokasi demonstrasi pekan ini, ketika puluhan pendukung berkumpul di sekelilingnya.
“Kami akan tetap di sini sampai Dharmendra Pradhan mundur,” ujarnya.
Dipke, lulusan Universitas Boston berusia 30 tahun, tiba di India awal bulan ini untuk memimpin gerakan generasi Z yang frustrasi. Setelah bertahun-tahun dihantui kebocoran soal ujian, tingginya pengangguran anak muda, dan peluang masa depan yang semakin sempit, kemarahan mereka kini berubah menjadi tuntutan akuntabilitas yang dinilai tidak bisa lagi diabaikan.
Cockroach Janta Party yang digerakkan anak muda baru diluncurkan bulan lalu. Nama partai itu merupakan plesetan dari Bharatiya Janata Party (BJP), partai penguasa pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.
Maskot kecoak dipilih setelah komentar Ketua Mahkamah Agung India yang ditafsirkan sebagian pihak sebagai menyebut anak muda pengangguran sebagai “kecoak”.
Pekan lalu, Dipke berkeliling ke sejumlah kota di India dan bergabung dengan ribuan demonstran yang menuntut pencopotan Menteri Pendidikan.
Puncak aksi terjadi Sabtu lalu dalam demonstrasi di monumen Jantar Mantar, New Delhi. Sejak saat itu, Dipke belum meninggalkan lokasi aksi.
Ratusan orang terus berdatangan sepanjang pekan dengan membawa poster, meneriakkan slogan, dan bernyanyi bersama.
Cockroach Janta Party juga meminta demonstran membawa berbagai properti simbolis berbeda setiap hari.
Untuk menjaga suasana tetap damai, sejumlah demonstran terlihat memberikan bunga mawar kepada polisi yang berjaga.
Banyak peserta aksi juga membawa bendera India dan salinan konstitusi negara tersebut.
Awal pekan ini, demonstran datang membawa thali, piring logam tradisional India, serta sendok yang dipukul ramai-ramai sebagai sindiran terhadap seruan Modi pada masa pandemi Covid-19 yang meminta warga membunyikan peralatan dapur.
Pada Selasa, peserta aksi diminta membawa popok dan menuliskan tuntutan pengunduran diri Pradhan di atasnya.
Menurut Dipke, hal itu merupakan sindiran terhadap kegagalan pemerintah menghentikan kebocoran soal ujian.
“Tidak ada satu pun ujian pemerintah di India yang tidak bocor,” katanya.
“Jadi itu simbol lain, mungkin memakai popok untuk mencegah kebocoran,” ujarnya sambil bercanda.
Sistem ujian di India dikenal sangat kompetitif dan menjadi penentu masa depan jutaan pelajar yang berebut kursi universitas dalam jumlah terbatas.
Setiap tahun, jutaan siswa mengikuti ujian dengan persaingan ketat, di mana selisih nilai sekecil apa pun dapat menentukan masa depan seseorang.
Sistem itu sudah lama diselimuti kontroversi, mulai dari kebocoran soal hingga gangguan teknis. Kondisi tersebut menciptakan tekanan berat bagi siswa dan beban finansial bagi keluarga yang menginvestasikan segalanya demi pendidikan anak mereka.
Bulan lalu, lebih dari dua juta peserta ujian masuk kedokteran terbesar di India diberitahu bahwa hasil ujian mereka dibatalkan setelah muncul dugaan kebocoran soal.
Dalam beberapa pekan terakhir, media India juga melaporkan sejumlah kasus bunuh diri siswa yang diduga terkait tekanan besar akibat ujian tersebut.
Dipke dan para pendukungnya mengenang para korban dengan menyalakan lilin dalam aksi pekan ini.
“Kami hanya ingin memberi penghormatan kepada para siswa yang kehilangan nyawa karena sistem telah gagal melindungi mereka,” katanya.
Dalam wawancara dengan saluran berita India NDTV pekan ini, Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan menyebut Cockroach Janta Party sebagai “tim cadangan kelompok teroris”.
Dipke menyebut komentar itu “tidak masuk akal” dan menegaskan kelompoknya hanya menuntut keadilan bagi para siswa, terutama mereka yang meninggal karena bunuh diri.
“Alih-alih mengambil tanggung jawab moral, dia malah melabeli kami sebagai teroris. Saya rasa tidak ada yang lebih menyedihkan dari itu,” katanya.
Pemerintah India memperketat pengamanan di lokasi pelaksanaan ujian ulang masuk kedokteran pada Minggu lalu. Pesawat militer juga dikerahkan untuk mengangkut lembar soal ujian.
Sementara itu, aksi demonstrasi di New Delhi terus berjalan dengan bantuan sukarelawan yang setiap hari datang membawa makanan, air minum, dan kebutuhan lain.
Saat mengunjungi lokasi pada Selasa dan Rabu, jumlah massa berkisar antara 200 hingga 300 orang pada siang hari dan meningkat menjadi sekitar 500 orang pada malam hari.
Menjelang tengah malam, sekitar 50 demonstran masih bertahan tidur di lokasi aksi.
Ketika ditanya mengenai masa depan gerakan tersebut, Dipke mengatakan Cockroach Janta Party masih berada pada tahap awal.
“Baru satu bulan sejak kami memulai, dan belum genap dua minggu sejak saya kembali ke India,” katanya.
Ia juga mengungkap rencana membangun struktur organisasi resmi di berbagai negara bagian India.
Pada akhirnya, Dipke mengatakan target utama gerakannya adalah mereformasi sistem ujian di India.
“Kami melangkah satu per satu,” ujarnya.
“Kami akan membuat pernyataan besar.”
