Kerala memiliki proporsi penduduk lanjut usia tertinggi di antara negara bagian besar di India. Pada 2036, hampir satu dari empat warga di negara bagian itu, atau sekitar 22,8%, diperkirakan berusia di atas 60 tahun, dibandingkan rata-rata nasional sebesar 14,9%, menurut laporan terbaru Reserve Bank of India.
Penuaan populasi di Kerala mencerminkan kemajuan sosial sekaligus dampak migrasi.
Layanan kesehatan yang lebih baik, meningkatnya harapan hidup, dan menurunnya angka kelahiran menjadikan Kerala sebagai salah satu negara bagian tertua di India. Di saat yang sama, beberapa generasi penduduknya merantau ke Timur Tengah, Eropa, dan berbagai wilayah lain untuk bekerja, sering kali meninggalkan orang tua mereka di kampung halaman.
Kiriman uang dari luar negeri telah meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat. Namun, kondisi itu juga memunculkan tantangan baru: semakin banyak lansia yang menjalani masa tua jauh dari anak-anak mereka.
Bagi keluarga yang tinggal di luar negeri, perpisahan tersebut kerap membawa beban emosional tersendiri.
“Meski saya rutin mengirim uang ke rumah, dukungan finansial saja tidak cukup,” kata seorang profesional IT yang tinggal di Sydney sementara orang tuanya hidup sendiri di Kerala.
“Keberadaan secara fisik pada momen penting, terutama saat keadaan darurat medis atau sekadar memberikan dukungan emosional, adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh uang.”
Saat kedua orang tuanya jatuh sakit, ia hanya bisa mengandalkan panggilan telepon dan video dari jarak ribuan kilometer.
“Saya merasa sangat tidak berdaya.”
Tantangan inilah yang kini coba diatasi pemerintah Kerala.
Kelkar mengatakan negara bagian itu sebenarnya tidak memulai dari nol. Berbagai program seperti pensiun, Vayomithram, yakni sistem perawatan paliatif berbasis komunitas yang banyak dipelajari, serta sejumlah skema kesejahteraan lainnya sudah berjalan.
Namun, menurutnya, yang selama ini belum ada adalah satu sistem terpadu yang dapat menyatukan seluruh layanan tersebut.
“Tidak ada mekanisme kelembagaan tunggal yang bertanggung jawab untuk menyatukan semua sektor ini, mengidentifikasi kekurangan, membangun koordinasi, dan merencanakan langkah ke depan,” ujarnya.
Meski demikian, Kelkar mengakui bahwa infrastruktur dan layanan saja tidak akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan penuaan penduduk.
“Kesepian dan isolasi sosial telah menjadi salah satu tantangan utama penuaan di Kerala,” katanya.
Untuk mengatasinya, pemerintah tengah menjajaki pembentukan jaringan relawan dan program komunitas guna mengurangi isolasi sosial di kalangan lansia.
“Visi kami adalah tidak ada lansia di Kerala yang merasa tak terlihat atau ditinggalkan, terlepas dari di mana anak-anak mereka tinggal.”
Para dokter mengatakan ketakutan menjalani masa tua sendirian kini semakin umum terjadi di berbagai wilayah India.
“Pasien saya sering bertanya, jika mereka menjadi bergantung pada orang lain, siapa yang akan merawat mereka?” kata Dr Prasun Chatterjee, kepala unit geriatri di Apollo Hospital, Delhi.
Sebagian lainnya khawatir terhadap hal yang lebih mendesak, yakni siapa yang akan membawa mereka ke rumah sakit jika mendadak sakit di tengah malam.
Banyak pasiennya hidup sendiri setelah kehilangan pasangan atau karena anak-anak mereka pindah ke tempat lain.
Dr Chatterjee juga menyoroti persoalan yang lebih luas dalam sistem kesehatan India, yakni minimnya dokter spesialis geriatri. Banyak lansia masih bergantung pada layanan kesehatan yang sebenarnya tidak dirancang sesuai kebutuhan mereka.
Menurutnya, India membutuhkan jaringan dukungan yang lebih luas, mulai dari pusat penitipan lansia dan ruang komunitas hingga layanan kesehatan primer yang mudah diakses serta peluang bagi lansia untuk tetap terhubung secara sosial.
“Tidak ada satu departemen pun yang bisa melakukan semua itu sendirian,” katanya.
Di tengah berbagai rencana tersebut, muncul pertanyaan apakah departemen baru di Kerala memiliki sumber daya yang cukup untuk mewujudkan ambisinya.
Tahun ini, pemerintah negara bagian mengalokasikan dana sebesar 100 juta rupee atau sekitar 1,05 juta dolar AS untuk kesejahteraan lansia. Sebagian pihak menilai jumlah itu lebih bersifat simbolis.
Kelkar mengatakan anggaran tersebut ditujukan untuk membangun kapasitas koordinasi, mendukung proyek percontohan, dan mengembangkan sistem data yang dibutuhkan untuk respons jangka panjang.
“Pemerintah memandang isu penuaan bukan sebagai proyek jangka pendek, melainkan prioritas pembangunan jangka panjang,” ujarnya.
Sejumlah pakar juga menilai langkah kebijakan saja belum cukup. Mereka menyoroti perlunya fasilitas swasta dan sistem pengasuhan yang lebih luas.
“Masih belum ada pasar layanan perawatan lansia yang benar-benar diatur dengan baik,” kata CEO Athulya Seniorcare, Srinivasan Govindaraj, yang mengoperasikan fasilitas hunian lansia di beberapa negara bagian termasuk Kerala.
“Ada banyak pelaku kecil, tetapi belum ada standar dan ukuran kualitas yang seragam.”
Menurutnya, populasi lansia Kerala tidak hanya membutuhkan program kesejahteraan, tetapi juga ekosistem layanan perawatan yang tepercaya dan terregulasi untuk membantu keluarga yang tidak mampu membayar layanan swasta.
Bagi MSR Dev, ilmuwan pensiunan berusia 82 tahun, persoalannya juga menyangkut hal yang lebih sederhana, yakni apakah para lansia masih tetap terhubung dengan dunia di sekitar mereka.
Ia menilai Kerala bisa belajar dari negara-negara seperti Swedia, di mana sistem dukungan komunitas membantu lansia tetap aktif dan mandiri.
“Komunikasi itu penting,” katanya.
“Bukan hanya makanan atau layanan kesehatan. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan tempat untuk saling terhubung.”
Di rumah mereka, Dominic dan Martha tidak menunggu kebijakan pemerintah berjalan sempurna. Mereka masih bergantung pada para tetangga seperti yang selama ini dilakukan.
Menurut Martha, yang mereka inginkan sebenarnya sederhana, yakni seseorang yang bisa dihubungi dan benar-benar datang membantu.
Apakah departemen baru Kerala mampu menghadirkan dukungan tersebut di negara bagian yang banyak keluarganya terpisah oleh lautan dan zona waktu, masih harus dibuktikan.
