Clive Davis, produser musik legendaris di balik deretan ikon industri seperti Janis Joplin, Whitney Houston, Billy Joel, hingga Santana, telah meninggal dunia.
Davis, yang dijuluki “the man with the golden ears” karena ketajaman instingnya dalam menemukan bakat musik, wafat dalam usia 94 tahun. Keluarganya mengonfirmasi kabar tersebut melalui unggahan di media sosial, yang juga dibenarkan oleh juru bicara publiknya
Keluarganya mengenang Davis sebagai “figur raksasa yang pengaruhnya mengubah musik selamanya”, sekaligus “pria yang memimpin keluarga kami dengan penuh keanggunan, kedermawanan, dan kebaikan.”
Ia sempat dirawat di rumah sakit pada akhir Mei karena gangguan pernapasan bagian atas, menurut Rolling Stone, sebelum kemudian dipulangkan awal bulan ini.
Dari pengacara Harvard menjadi bos label musik
Lahir di Brooklyn, Davis awalnya tidak merencanakan karier di dunia musik, apalagi membentuk arah selera musik pop global selama beberapa dekade. Setelah kehilangan orang tua di usia remaja, ia lulus dari Harvard Law School dan bekerja sebagai pengacara sebelum bergabung dengan Columbia Records pada 1960.
Dalam lima tahun, Davis naik menjadi penasihat hukum utama label tersebut, sebelum akhirnya diangkat sebagai presiden Columbia.
“Saya seperti didorong ke dalamnya,” katanya pada 2013. “Tanpa pernah tahu bahwa saya sebenarnya memiliki telinga dan bakat alami untuk musik yang kemudian menjadi passion hidup saya.”
Insting tajam menemukan bintang besar
Penandatanganan besar pertamanya adalah Janis Joplin, yang ia lihat tampil di Monterey Pop Festival pada 1967. Dalam memoarnya The Soundtrack of My Life, Davis menggambarkan Joplin sebagai sosok yang “tidak konvensional secara penampilan”, tetapi memiliki vokal yang “bergetar dengan emosi luar biasa”.
Instingnya dalam menemukan talenta kemudian melahirkan daftar panjang bintang besar, termasuk Bruce Springsteen, Carlos Santana, Chicago, Earth, Wind and Fire, Aerosmith, hingga Barry Manilow.
Bruce Springsteen dalam penghormatan di media sosial menyebut Davis sebagai “teman dekat” yang mengubah hidupnya ketika ia menandatangani kontrak saat masih berusia awal 20-an.
“Dia memperlakukan saya dengan rasa hormat dan kebaikan yang sama saat saya masih anak 22 tahun yang bukan siapa-siapa seperti setelah saya sukses,” tulis Springsteen. “Seorang pria yang hebat.”
Billy Joel juga menjadi salah satu kisah sukses Davis. Saat kariernya sedang meredup, Davis menandatanganinya pada 1973. Album Piano Man menjadi titik awal kebangkitan Joel menuju status superstar.
Pada era 1980-an, Davis kembali menemukan salah satu bintang terbesarnya: Whitney Houston. Kolaborasi mereka menghasilkan tujuh single nomor satu berturut-turut, termasuk “Saving All My Love for You”, “How Will I Know”, dan “I Wanna Dance with Somebody”.
Kematian Houston pada 2012 menjadi pukulan besar bagi Davis. Ia meninggal di kamar hotel Beverly Hills pada malam sebelum gala pra-Grammy yang rutin digelar Davis.
Karier panjang penuh pengaruh dan kontroversi
Selain menemukan bintang baru, Davis juga dikenal sebagai sosok yang membangkitkan kembali karier artis seperti Aretha Franklin, Simon & Garfunkel, The Grateful Dead, hingga Rod Stewart.
Namun, perjalanan kariernya tidak lepas dari kontroversi. Ia sempat dikeluarkan dari Columbia Records pada 1973 terkait tuduhan penggunaan dana perusahaan, meski ia menyebut biaya tersebut akan diganti. Ia juga terseret dalam investigasi “payola”, namun dibebaskan dari tuduhan utama, meski tetap menghadapi kasus pajak yang sebagian besar kemudian dibatalkan.
Setelah itu, Davis mendirikan Arista Records dan melanjutkan kesuksesannya, termasuk memperluas label tersebut ke musik country dengan nama besar seperti Alan Jackson dan Brooks & Dunn.
Ia juga berperan dalam perkembangan hip-hop melalui keterlibatan di Bad Boy Records, yang melahirkan artis seperti Notorious B.I.G. dan Faith Evans.
Pada 2000, Davis mendirikan J Records dan meluncurkan karier Alicia Keys, yang album debutnya Songs in A Minor terjual lebih dari 10 juta kopi dan memenangkan lima Grammy Awards.
Davis sendiri meraih empat Grammy dan dilantik ke Rock and Roll Hall of Fame pada tahun yang sama.
Sosok di balik industri musik modern
Dalam beberapa tahun terakhir, Davis tetap aktif di industri musik, termasuk sebagai chief creative officer Sony Music dan penyelenggara pesta pra-Grammy tahunan.
Dalam pernyataan resmi, Sony Music menyebut Davis sebagai sosok yang “bertanggung jawab atas sebagian besar warisan rekaman perusahaan”.
Meski dikenal sebagai legenda industri, Davis sendiri mereduksi kesuksesannya pada keberuntungan.
“Saya tidak sedang merendah, itu keberuntungan saya mendapat kesempatan,” katanya. “Saya pikir hidup adalah tentang menangkap kesempatan itu.”
