Peringatan: Artikel ini memuat deskripsi yang mungkin mengganggu bagi sebagian pembaca.
Foto-foto itu adalah hal pertama yang dilihat Prahlod Thakur setiap kali bangun tidur.
Di dinding rumah kecilnya di Ahmedabad yang dicat hijau terang dan mulai mengelupas, tergantung foto-foto keluarga di antara ikon keagamaan, peralatan kuningan, dan potret lama yang mulai memudar. Salah satu bingkai menampilkan istrinya, Sarlaben. Bingkai lainnya memperlihatkan cucunya, Aadhya, tersenyum mengenakan gaun putih.
Keduanya berada di kompleks asrama BJ Medical College, kurang dari dua kilometer dari Bandara Ahmedabad, ketika pesawat Air India jatuh ke bangunan tersebut pada Juni tahun lalu. Dari total 260 korban jiwa, 241 orang merupakan penumpang dan awak pesawat. Sementara itu, 19 korban lainnya tewas di darat, termasuk Sarlaben dan Aadhya.
Setahun berlalu, tetapi rasa kehilangan itu masih terasa begitu dekat.
“Saya hanya merindukan mereka,” kata Thakur. “Setiap melihat foto-foto itu, saya merasa ingin menangis.”
Dalam waktu dekat, tim investigasi diperkirakan akan merilis laporan resmi mengenai kecelakaan tersebut. Selama setahun terakhir, perhatian publik banyak tertuju pada para penumpang penerbangan menuju London itu dan berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab mengenai detik-detik terakhir sebelum pesawat jatuh.
Namun di Ahmedabad, ada pertanyaan lain yang terus membayangi: bagaimana sebuah tempat melanjutkan hidup setelah tragedi menjadi bagian dari kesehariannya?
Luka yang Masih Terlihat
Berbeda dengan banyak lokasi bencana lain yang lambat laun kembali seperti semula, di BJ Medical College jejak tragedi masih terlihat jelas.
Setahun setelah kecelakaan, bangunan asrama yang dihantam pesawat masih berdiri seperti luka terbuka. Lantai-lantai atasnya robek menghadap langit, beton menggantung dalam bentuk yang tak beraturan, dan tangga yang hangus oleh asap menghilang ke dalam kegelapan.
Jelaga masih membekas di dinding. Koper, pakaian, dan berbagai barang pribadi masih tertimbun debu, puing-puing, serta rangka baja yang terpelintir.
Pemerintah telah menyetujui rencana pembongkaran bangunan yang rusak dan pembangunan asrama baru. Namun untuk saat ini, reruntuhan itu masih tetap berada di tempatnya.
Setiap hari, para mahasiswa berjalan melewati bangunan tersebut saat menuju ruang kuliah. Di atas mereka, pesawat terus melintas menuju dan dari bandara yang berdekatan.
Dulu suara pesawat hanyalah bagian dari latar belakang kehidupan kota. Kini semuanya berbeda.
“Setiap kali pesawat melintas, kami merasakan kesedihan yang sama,” kata Thakur. “Kami bahkan tidak lagi melihat ke langit.”
Makan Siang yang Berakhir Menjadi Tragedi
Selama 15 tahun, keluarga Thakur mengelola layanan katering untuk para dokter di rumah sakit sekitar kampus. Sarlaben memasak dan mengantarkan makanan setiap hari, sementara Aadhya yang baru berusia dua tahun hampir selalu menemaninya.
Saat kecelakaan terjadi, makan siang sedang disajikan di kantin.
Sarlaben sedang bekerja ketika Aadhya ingin ke kamar kecil. Ia membawa cucunya ke lantai atas.
Beberapa saat kemudian, pesawat jatuh menghantam bangunan.
Thakur yang saat itu bekerja di gedung lain langsung berlari menuju kepulan asap.
Yang masih ia ingat kini hanya potongan-potongan memori: ledakan, panas yang menyengat, tabung-tabung gas yang berserakan di dapur, dan dirinya yang berlari dari satu ruangan ke ruangan lain sambil memanggil nama istrinya.
“Sarla… Sarla…”
Di sekelilingnya, para korban yang selamat berusaha keluar dari reruntuhan, sementara banyak lainnya masih terjebak ketika tim penyelamat berjuang menembus asap dan puing.
Selama hampir seminggu, keluarga mereka mencari ke berbagai rumah sakit, ruang perawatan, dan pusat bantuan di Ahmedabad.
Enam hari kemudian, mereka menemukan jenazah Sarlaben dan Aadhya di kamar jenazah sebuah rumah sakit.
Kini, ketika mengenang Aadhya, Thakur teringat bagaimana cucunya selalu berlari menyambut saat ia pulang membawa biskuit. Ketika berbicara tentang istrinya, ia mengingat seorang perempuan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan memberi makan orang lain.
“Semua orang menyukainya,” katanya. “Dia wanita yang sangat baik.”
Kenangan yang Tak Hilang bagi Para Mahasiswa
Pada saat yang hampir bersamaan ketika Thakur berlari menuju lokasi kecelakaan, para mahasiswa yang berada di kantin berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Arman Khan Pathan terlambat datang untuk makan siang. Sahabatnya, Aditya Dayal, bahkan datang lebih lambat lagi.
Perbedaan beberapa menit itu membuat pengalaman mereka berbeda, tetapi tidak menghapus kenangan yang mereka bawa hingga kini.
Arman baru saja duduk untuk makan ketika suara ledakan dahsyat mengguncang bangunan. Sebagian gedung runtuh di sekitarnya dan sebuah meja menjepit kedua kakinya.
Saat tabung gas meledak dan debu memenuhi ruangan, tim penyelamat sempat terpaksa mundur karena ledakan susulan.
“Semuanya gelap gulita,” kenangnya. “Saya hampir tidak bisa bernapas.”
Dalam upaya menyelamatkan diri, ia memecahkan jendela menggunakan tangannya sendiri.
Ketika akhirnya berhasil dievakuasi, Aditya sudah berada di lokasi.
Ia mengingat asap tebal yang membumbung dari bangunan tempat dirinya dan teman-temannya hampir setiap hari makan bersama.
Bersama mahasiswa lain, Aditya membantu mengangkat Arman menggunakan kasur menuju ambulans.
Trauma yang Tetap Membekas
Sebagai mahasiswa kedokteran, keduanya tidak asing dengan kematian. Namun apa yang mereka lihat hari itu jauh melampaui pengalaman mereka sebelumnya.
Banyak korban mengalami luka bakar sangat parah hingga sulit dikenali.
Bagi Aditya, aroma yang tercium saat itu masih terkadang kembali muncul dalam ingatannya.
“Itu membuat saya ingin muntah,” ujarnya.
Pembicaraan mereka kemudian beralih kepada teman-teman yang meninggal.
Arman mengenang seorang teman sekelas yang merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Harapan besar keluarga itu lenyap hanya dalam hitungan detik.
Hidup Setelah Tragedi
Sebagian korban selamat masih harus menjalani pemulihan hingga sekarang.
Brijesh, yang sedang mengendarai skuter menuju kantin bersama dua temannya ketika pesawat jatuh, masih menjalani fisioterapi akibat luka bakar yang dideritanya.
Ia harus mengenakan pakaian kompresi khusus di tengah panas Ahmedabad dan bahkan kesulitan membalik halaman buku pelajaran.
“Itu sudah terjadi,” katanya. “Apa yang bisa dilakukan?”
Ketika melewati reruntuhan asrama, ia sering memilih memalingkan pandangan.
Ketika Kota Mulai Bergerak, Duka Tetap Tinggal
Dalam beberapa minggu setelah tragedi, perhatian publik perlahan bergeser.
Ambulans pergi. Awak media meninggalkan lokasi. Namun bagi mereka yang tinggal dan bekerja di kampus, proses yang lebih sulit baru saja dimulai.
Dekan BJ Medical College, Meenakshi Parikh, harus memastikan aktivitas kampus tetap berjalan di tengah suasana duka yang mendalam.
Ia mengenang masa itu sebagai gabungan dari banyak tragedi sekaligus: orang tua yang mencari anak mereka, mahasiswa yang menjalani pemulihan, staf yang kelelahan, serta keluarga yang menunggu hasil identifikasi DNA.
Salah satu momen yang paling membekas baginya adalah ketika seorang pria yang kehilangan anak, menantu, dan cucunya bersikeras ingin melihat jenazah mereka sebelum proses identifikasi selesai.
Petugas menjelaskan bahwa tes DNA diperlukan untuk memastikan identitas korban.
Namun pria itu menjawab:
“Mata saya adalah tes DNA.”
Ia yakin tetap bisa mengenali keluarganya dalam kondisi apa pun.
Parikh masih terdiam sejenak setiap kali mengingat percakapan tersebut.
“Saya bisa memahami perasaannya,” katanya.
Belajar Melanjutkan Hidup
Seiring waktu, kehidupan kampus perlahan kembali berjalan. Kuliah dimulai lagi, ujian kembali digelar, dan mahasiswa baru berdatangan.
Menjelang peringatan satu tahun tragedi pada 12 Juni, kampus berencana mengadakan doa bersama, kegiatan donor darah, dan penanaman pohon untuk mengenang para korban.
Namun bagi Parikh, melanjutkan hidup bukan berarti melupakan.
“Tidak pernah ada satu momen ketika saya merasa sudah benar-benar memproses semuanya,” ujarnya. “Ini adalah proses perlahan untuk kembali menjalani kehidupan.”
Di rumahnya, Prahlod Thakur juga berusaha melakukan hal yang sama.
Ia mengambil telepon genggamnya dan membuka sebuah video yang sering ia tonton. Video itu direkam sehari sebelum kecelakaan.
Di dalamnya, Aadhya dengan hati-hati menyuapi neneknya. Sarlaben tersenyum.
Di luar rumah, sebuah pesawat kembali melintas di langit Ahmedabad.
Thakur tidak menengadah.
Karena bagi sebagian orang, tragedi itu mungkin telah menjadi berita lama. Namun bagi mereka yang kehilangan orang yang dicintai di daratan hari itu, luka tersebut masih hidup dalam setiap kenangan, setiap suara pesawat, dan setiap pagi ketika mereka membuka mata.
