“Scientology speedrun” mungkin terdengar seperti istilah aneh yang memunculkan bayangan Tom Cruise berlari dengan celana pendek ketat. Namun tren viral yang sedang ramai di media sosial ini ternyata jauh lebih kacau dari itu.
Fenomena “Scientology speedrun” mulai muncul pada Maret lalu ketika kreator konten bernama Swhileyy merekam dirinya menerobos masuk ke gedung Church of Scientology di Hollywood Boulevard, Los Angeles. Video tersebut sempat meraih 90 juta penayangan sebelum akhirnya dihapus.
Sejak saat itu, kelompok yang sebagian besar terdiri dari pria muda mulai mendokumentasikan aksi mereka menyerbu pusat Scientology di Los Angeles dan mengunggahnya ke TikTok, meraih jutaan penonton.
Tujuan tidak resminya sederhana: melihat seberapa jauh mereka bisa masuk ke dalam gedung.
Tren ini berkembang sangat cepat. Beberapa pengguna bahkan mulai membuat cetak biru bangunan berdasarkan rekaman aksi sebelumnya.
Sebagian lainnya mengambil pendekatan yang lebih absurd, menyerbu lobi dengan kostum Yesus, Minion, hingga meminta bertemu Tom Cruise. Untuk menyamarkan identitas, para “speedrunner” biasanya memakai penutup wajah, topeng kucing, bahkan kostum dinosaurus penuh.
Menyebar dari Los Angeles ke Australia
Awalnya tren ini populer di Los Angeles, tetapi kini mulai muncul di Australia.
Alasan di balik fenomena tersebut tampaknya merupakan kombinasi antara rasa penasaran publik terhadap Scientology dan budaya internet yang menyukai aksi absurd demi viralitas.
Scientology, organisasi yang didirikan penulis Amerika L. Ron Hubbard pada 1950-an, selama bertahun-tahun dituduh sebagai kelompok dengan kontrol ketat atau sekte, tuduhan yang selalu dibantah gereja tersebut.
Ditambah lagi, aksi prank ekstrem hampir selalu menjamin keterlibatan tinggi di media sosial.
Sebelumnya, tren ini sudah menyebar ke Inggris, ketika ratusan remaja mencoba menyerbu gedung Scientology di berbagai lokasi.
Kini giliran Australia.
Pada Sabtu lalu, gedung Scientology di Sydney dan Brisbane dikerumuni kelompok yang sebagian besar terdiri dari anak muda yang menuntut akses masuk.
Di Sydney, “sekitar 100 anak muda” berkumpul di depan gereja di Castlereagh Street sekitar pukul 13.30 waktu setempat, menurut kepolisian New South Wales.
Juru bicara polisi mengatakan petugas, termasuk unit antihuru-hara, membubarkan kerumunan tersebut. Seorang perempuan 19 tahun dan remaja perempuan 17 tahun ditangkap karena tidak mematuhi perintah polisi.
Kerumunan serupa juga mendatangi gedung Scientology di George Street, pusat kota Brisbane.
Menurut polisi Queensland, seorang remaja sempat melompat ke kursi pengemudi mobil polisi sebelum segera keluar lagi, sementara remaja lain mengendarai sepeda BMX melintasi atap kendaraan yang sama. Dua remaja berusia 15 dan 18 tahun didakwa.
Meski sempat menimbulkan kekacauan, baik kelompok di Sydney maupun Brisbane tidak berhasil masuk ke dalam gedung untuk menyelesaikan “speedrun” mereka.
Rumor aksi serupa juga sempat muncul di Australia Selatan.
“Saya melihat tiga anak bertingkah sangat bersemangat di depan sana kemarin,” tulis seorang pengguna Reddit dalam diskusi tentang potensi Scientology speedrun di Adelaide.
Pengguna lain berkomentar: “Biasanya tren TikTok sangat menyebalkan, tapi kali ini saya harus mengakui anak-anak ini cukup lucu.”
Seberapa Besar Scientology di Australia?
Secara keberadaan fisik, Scientology cukup besar di Australia, meski jumlah pengikut sebenarnya tidak jelas.
Organisasi tersebut memang memiliki pengaruh besar di Los Angeles, terutama karena sejumlah selebritas seperti Tom Cruise dan John Travolta diketahui menjadi anggotanya.
Namun jaringan Scientology tersebar secara global.
Di Australia, gereja tersebut memiliki fasilitas besar di Sydney, Melbourne, Brisbane, Adelaide, dan Canberra.
Salah satu figur publik Australia yang diketahui memiliki hubungan dengan Scientology adalah penyanyi Kate Ceberano, yang dibesarkan dalam keluarga Scientology oleh kakek dan neneknya.
Mantan Anggota Kritik Tren Viral Ini
Meski ramai di media sosial, sejumlah mantan anggota Scientology justru tidak terkesan dengan tren tersebut.
Para pembelot organisasi, termasuk aktris Leah Remini, selama ini menuduh Scientology membangun budaya penuh penyalahgunaan.
Remini ikut menanggapi tren speedrun dan menyebutnya “tidak membantu.”
Dalam unggahannya di X, ia mengatakan bahwa “berlari menerobos gedung Scientology” justru memperkuat narasi organisasi tersebut bahwa dunia luar berbahaya, sehingga para anggota semakin menguatkan keyakinan mereka.
“Fokuslah membongkar bahaya Scientology, bukan menjadikannya tontonan,” tulisnya.
Alexander Barnes Ross, aktivis yang memimpin aksi protes terhadap Scientology di Inggris, juga menilai tren speedrun meremehkan perjuangan serius para aktivis.
“Tidak ada yang lucu tentang Scientology. Ini organisasi berbahaya dan merusak,” katanya, sambil menambahkan bahwa aksi masuk paksa justru melemahkan upaya protes yang sah.
Respons Church of Scientology
Dalam pernyataan, pihak gereja mengatakan sejumlah individu telah “berulang kali memaksa masuk ke properti gereja, mengganggu fasilitas keagamaan dan publik, merusak properti gereja, serta membahayakan staf, jemaat, dan pengunjung.”
“Massa dalam salah satu insiden besar menerobos masuk ke gedung tanpa izin. Sejumlah staf terjatuh dalam kekacauan tersebut, dan gereja sedang meninjau seluruh langkah hukum yang tersedia untuk melindungi personel, pengunjung, dan properti,” bunyi pernyataan itu.
Pihak gereja menegaskan fasilitas mereka adalah “ruang damai” yang dibuat untuk menyambut jemaat dan masyarakat umum.
“Menjadikannya target aksi viral bukanlah jurnalisme, protes, ataupun aktivitas sipil,” lanjut pernyataan tersebut.
Scientology juga mengatakan insiden-insiden itu telah dilaporkan kepada aparat penegak hukum dan keamanan di lokasi kini diperketat.
“Gereja menyambut pengunjung yang datang secara sah. Gereja tidak menyambut massa yang memaksa masuk, merusak properti, mengganggu ruang ibadah, atau membahayakan orang demi mencari perhatian internet,” tutup pernyataan itu.
