Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor mobil dan truk dari Uni Eropa menjadi 25%, dalam eskalasi tajam ketegangan dagang dengan Brussels.

Trump menuduh Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan yang telah disepakati, dalam unggahan di Truth Social, meski tidak menjelaskan secara rinci pelanggaran yang dimaksud.

“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa… minggu depan saya akan menaikkan tarif yang dikenakan kepada Uni Eropa untuk mobil dan truk,” ujar Trump pada Jumat.

Komisi Eropa merespons dengan menyatakan akan “tetap membuka semua opsi untuk melindungi kepentingan Uni Eropa”.

Pihak Komisi menegaskan bahwa Uni Eropa tetap menjalankan komitmennya, namun juga meminta “kejelasan” dari Amerika Serikat terkait kewajiban yang harus dipenuhi.

Dengan menargetkan sektor otomotif, Trump memilih sektor yang sangat sensitif, mengingat industri mobil merupakan bagian besar dari perekonomian Eropa.

Langkah ini diambil kurang dari setahun setelah AS dan Uni Eropa menyepakati perjanjian di lapangan golf Turnberry milik Trump di Skotlandia, yang menetapkan tarif sebesar 15% untuk sebagian besar barang Eropa.

Kesepakatan tersebut sempat menjadi jalan keluar dari ancaman tarif 30% yang sebelumnya dilontarkan Trump dalam kebijakan luas yang ia sebut sebagai “Liberation Day”. Sebagai imbalannya, Eropa sepakat meningkatkan investasi di AS dan melakukan perubahan yang diharapkan dapat mendorong ekspor Amerika.

Namun, dalam beberapa bulan berikutnya, ketegangan meningkat akibat ancaman Trump untuk mencaplok Greenland, wilayah otonom Denmark. Parlemen Eropa kemudian menangguhkan persetujuan kesepakatan tersebut pada Januari.

Perjanjian akhirnya disetujui pada Maret, namun dengan tambahan klausul yang memungkinkan penangguhan jika pemerintah AS dianggap “melemahkan tujuan perjanjian, mendiskriminasi pelaku ekonomi Uni Eropa, mengancam integritas wilayah negara anggota, kebijakan luar negeri dan pertahanan, atau melakukan tekanan ekonomi”.

Sejak itu, perundingan kembali terhenti akibat sengketa terkait baja dan aluminium. Negara ekonomi besar seperti Jerman dan Prancis menolak rencana AS untuk menyesuaikan tarif terhadap berbagai produk.

Dalam pernyataannya, Komisi Eropa menegaskan bahwa Uni Eropa melaksanakan perjanjian tersebut “sesuai praktik legislatif standar, dengan terus memberi informasi kepada pemerintah AS”.

Seorang juru bicara mengatakan: “Kami tetap berkomitmen penuh pada hubungan transatlantik yang dapat diprediksi dan saling menguntungkan. Jika AS mengambil langkah yang tidak sejalan dengan pernyataan bersama, kami akan mempertimbangkan semua opsi untuk melindungi kepentingan Uni Eropa.”

Saat ditanya bagaimana Uni Eropa gagal menjalankan kesepakatan, Trump tidak memberikan penjelasan tambahan.

“Kami punya kesepakatan dagang dengan Uni Eropa. Mereka tidak mematuhinya. Jadi saya menaikkan tarif mobil dan truk,” katanya kepada wartawan.

Dalam pengumumannya, Trump juga mendesak produsen mobil Eropa untuk memindahkan produksi ke Amerika Serikat.

“Sudah dipahami sepenuhnya bahwa jika mereka memproduksi mobil dan truk di pabrik AS, maka TIDAK AKAN ADA TARIF,” tulisnya di Truth Social.

Ia menambahkan bahwa miliaran dolar kini diinvestasikan dalam pembangunan pabrik kendaraan di seluruh AS, yang ia sebut sebagai “rekor dalam sejarah industri otomotif”.

“Belum pernah ada yang seperti ini terjadi di Amerika,” ujar Trump.

Ketua Komite Perdagangan Internasional Parlemen Eropa, Bernd Lange, mengatakan pernyataan Trump menunjukkan “betapa tidak dapat diandalkannya AS” sebagai mitra dagang.

“Perilaku Presiden Trump tidak dapat diterima,” katanya.

Ia menolak klaim bahwa Uni Eropa tidak memenuhi kesepakatan, dan menyatakan Parlemen Eropa sedang menyusun legislasi yang ditargetkan selesai pada Juni.

Lange mengakui implementasi sempat ditunda karena tekanan AS terkait Greenland serta dampak putusan Mahkamah Agung AS, namun ia menegaskan bahwa AS justru “berulang kali melanggar perjanjian”, termasuk dengan memberlakukan tarif rata-rata 26% pada produk berbahan baja dan aluminium.

“Langkah terbaru ini menunjukkan betapa tidak dapat diandalkannya pihak AS. Kami telah melihat serangan sepihak seperti dalam kasus Greenland. Ini bukan cara memperlakukan mitra dekat,” ujarnya.

Profesor Simon Evenett dari IMD Business School mengatakan: “Mereka yang menilai pemerintahan AS tidak bisa berpegang pada kesepakatan akan merasa terbukti benar.”

Namun ia menambahkan bahwa unggahan media sosial bukanlah hukum, sehingga Brussels kemungkinan akan menunggu rincian resmi sebelum mengambil langkah balasan.

Tarif “Liberation Day” yang diberlakukan Trump sebelumnya berdasarkan undang-undang keadaan darurat ekonomi internasional telah dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung AS, sehingga perusahaan yang telah membayar kini menuntut pengembalian dana.

Namun, tarif khusus sektor otomotif ini berada dalam kerangka hukum yang berbeda dan tidak terdampak oleh putusan tersebut.

Share.
Leave A Reply