Ini bukan masa yang menggembirakan bagi siapa pun yang peduli terhadap iklim. Pada 12 Februari, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) di bawah pemerintahan Donald Trump mencabut temuan bahaya (endangerment finding), seolah menafikan pemahaman ilmiah bahwa pembakaran bahan bakar fosil membahayakan kesehatan manusia, sekaligus menghapus mekanisme pembatasan emisi yang telah mengubah sistem bumi.

Badai musim dingin menghantam Amerika Utara saat Arktik—yang memanas empat kali lebih cepat dari rata-rata global—tidak lagi mampu menahan udara dingin dari pusaran kutubnya. Namun di saat yang sama, wilayah barat Amerika Serikat mengalami musim dingin terpanas dalam sejarah, menyisakan sedikit lapisan salju yang seharusnya membantu menahan risiko kebakaran besar di musim panas.

Kekurangan salju itu tampak sepele dibandingkan hujan hitam yang turun di Iran ketika fasilitas minyak dibombardir Israel, melepaskan polutan beracun. Dalam dua pekan pertama perang AS-Israel-Iran, diperkirakan lima juta ton emisi gas rumah kaca dilepaskan—setara dengan kontribusi tahunan negara berukuran menengah terhadap pemanasan global.

Krisis iklim kini bukan lagi peringatan jauh di depan, melainkan kenyataan yang menakutkan. Generasi baru aktivis mungkin menjadi harapan terakhir kita.

Selama 20 tahun meliput lingkungan dan iklim—dari Delhi hingga Nairobi hingga Texas Barat—deretan bencana terasa melelahkan. Lahir pada 1970, perjalanan hidup penulis sejalan dengan munculnya krisis iklim. Tahun itu, jika melihat ke belakang, merupakan puncak harapan bagi planet ini. Senator Gaylord Nelson dari Wisconsin bekerja sama dengan Senator Republik Pete McCloskey dari California dan aktivis Denis Hayes meluncurkan Hari Bumi pertama pada 22 April 1970.

Mereka membayangkan gerakan lingkungan yang dipimpin anak muda, terinspirasi dari protes mahasiswa anti-perang. Tak lama kemudian, pemerintahan Presiden Richard Nixon membentuk EPA dan mengesahkan undang-undang lingkungan yang kuat seperti Clean Air Act dan Clean Water Act.

Pada 1988, saat penulis mencapai usia dewasa secara hukum, klimatolog NASA James Hansen memperingatkan Kongres tentang dampak serius perubahan iklim. “Ini sudah terjadi sekarang,” katanya.

Pesannya nyaris direspons. Presiden Ronald Reagan dan pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev sempat berjanji untuk mengupayakan perjanjian global terkait pemanasan bumi. Namun, kepentingan pasar bebas dan industri bahan bakar fosil terlalu besar untuk dikorbankan, dan tekanan yang tepat membuat AS gagal bertindak.

Momen itu berlalu. Waktu pun terus berjalan.

Bayi-bayi lahir dan tumbuh menjadi dewasa. Pada 2006, saat penulis baru lulus sekolah jurnalisme, Al Gore melalui film An Inconvenient Truth menunjukkan grafik lonjakan karbon dioksida yang terus meningkat. Film itu populer di berbagai kalangan, tetapi emisi tetap naik.

Selama dua dekade terakhir, perhatian publik terhadap iklim naik turun. Kelelahan terhadap isu iklim nyata adanya, sementara meningkatnya otoritarianisme global menyedot perhatian publik dan media, meskipun karbon dioksida terus menyesakkan atmosfer. Namun perubahan iklim tidak akan hilang, dan kemungkinan besar menjadi kisah utama abad ke-21.

Kini, krisis iklim menjadi “aktor diam” di balik berbagai peristiwa besar—mulai dari konflik geopolitik hingga kebutuhan energi pusat data untuk kecerdasan buatan, hingga krisis air yang memicu protes di Iran.

Istilah “kekerasan lambat” (slow violence) yang diperkenalkan akademisi Rob Nixon menggambarkan bencana seperti perubahan iklim yang berlangsung perlahan, sering kali jauh dari sorotan media. Namun kini lajunya semakin cepat. Dulu dianggap masalah orang lain di tempat lain, kini dampaknya dirasakan hampir semua orang.

Perubahan iklim bertindak sebagai “pengganda ancaman”—memperparah risiko keamanan, ekonomi, serta meningkatkan frekuensi dan dampak bencana seperti banjir, kekeringan, badai, dan kebakaran hutan. Kota-kota bisa lenyap dalam semalam, dan komunitas yang berulang kali dilanda bencana hidup dalam trauma kolektif.

Cuaca memang bukan iklim, tetapi sering mencerminkannya—dan kini semakin ekstrem. Bahkan pengalaman kehilangan listrik akibat badai salju besar menjadi bukti nyata perubahan tersebut.

Ketika Masa Depan Menjadi Sekarang

Masalah dengan “kejutan masa depan” adalah kita selalu sedang menjalaninya. Besok menjadi hari ini, lalu menjadi kemarin. Kadar karbon terus meningkat tanpa henti. Prediksi tentang kenaikan permukaan laut dan mencairnya es—bahkan yang dibuat perusahaan bahan bakar fosil sejak 1960-an—kini mulai terjadi, bahkan lebih cepat dari perkiraan ilmuwan.

Namun publik tetap mempertahankan ilusi bahwa perubahan iklim masih jauh, baik secara ruang maupun waktu.

Laporan pemerintah yang penuh dengan target masa depan turut memperkuat persepsi ini. Pada 2018, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) memperingatkan bahwa emisi global harus dipangkas hampir setengahnya sebelum 2030 untuk menjaga kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat Celsius. Tahun lalu, ambang itu sempat tercapai. Target net zero pada 2050 pun masih jauh dari tercapai.

Padahal, ada generasi anak-anak hari ini yang akan hidup hingga 2100. Setiap generasi baru lahir di dunia yang lebih panas, dengan cuaca lebih ekstrem dan titik kritis yang semakin dekat.

Tongkat Estafet Aksi Iklim

Para tokoh yang dulu memperingatkan krisis kini semakin menua. Namun harapan muncul dari generasi muda.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang aktivis iklim remaja di seluruh dunia menunjukkan bahwa mereka tidak hanya peduli, tetapi juga aktif membangun organisasi dan gerakan. Di tengah kebijakan yang merusak, mereka justru menciptakan solusi.

Sebagian dari mereka adalah generasi kedua aktivis. Sophie Kivlehan, cucu James Hansen, menjadi penggugat muda dalam kasus Juliana vs U.S., yang menuduh pemerintah melanggar hak konstitusional generasi muda atas masa depan yang layak.

Di Pennsylvania, Ashley Funk dan kini putrinya menggugat pemerintah atas proyek pembangkit listrik berbasis gas. Bahkan ada penggugat yang masih bayi saat gugatan diajukan. Ribuan kasus iklim kini berlangsung di seluruh dunia, banyak di antaranya atas nama hak generasi muda.

Aktivis lain seperti Xiye Bastida, yang orang tuanya bertemu dalam KTT Bumi 1992 di Rio, menjadi penggerak utama aksi mogok iklim 2019 yang diikuti ratusan ribu orang di New York.

Di seluruh dunia, generasi muda turun ke jalan dan pengadilan, menuntut perubahan ketika kebijakan para pemimpin gagal melindungi mereka.

Suara dari Amerika yang Terabaikan

Di tengah semakin sedikitnya pemimpin yang membicarakan perubahan iklim, aksi hukum dan pembangkangan sipil menjadi alat penting untuk menuntut perubahan. Dalam satu dekade terakhir, jumlah warga Amerika yang merasa khawatir terhadap perubahan iklim hampir dua kali lipat.

Sementara itu, negara lain terus bergerak maju. Afrika menjadi pasar energi surya dengan pertumbuhan tercepat. China mulai menstabilkan emisi sambil memperluas energi terbarukan. India pun membangun ladang surya raksasa meski masih bergantung pada batu bara.

Di AS, tekanan publik melalui aktivisme mungkin menjadi kunci untuk mengubah arah kebijakan. Seperti dikatakan ilmuwan atmosfer Katharine Hayhoe: harapan harus dicari untuk mendorong tindakan, dan itu dimulai dari percakapan.

Bahkan percakapan sederhana dengan tetangga tentang kekhawatiran terhadap iklim bisa berdampak.

Mungkin seorang anak muda akan mendengarnya.

Atau justru mereka yang memulainya.

Pertanyaannya: apakah kita mau mendengarkan—dan bertindak?

Share.
Leave A Reply