Saat MV Hondius meninggalkan Ushuaia, kota paling selatan di dunia, pada 1 April lalu, langit kelabu di atas Tierra del Fuego mulai cerah, menyoroti salju segar di puncak-puncak gunung serta hamparan pepohonan musim gugur di dekat pantai.
Sebanyak 88 penumpang dan 61 awak kapal dari 23 negara menaiki kapal kelas polar berukuran kecil itu untuk menjalani “ekspedisi Atlantik” selama 35 hari dari Argentina menuju Tanjung Verde, melewati sejumlah pulau paling terpencil di dunia. Ketika kapal melewati kanal sempit menuju laut lepas, para penumpang sudah disuguhi pemandangan paus bungkuk, lumba-lumba, albatros alis hitam, hingga singa laut Amerika Selatan.
Jake Rosmarin, seorang travel blogger asal Boston, mengatakan kepada para pengikutnya bahwa perjalanan itu akan menjadi “sesuatu yang akan saya kenang selamanya.”
“Awal yang luar biasa,” tulisnya di Instagram.
Namun sedikit lebih dari sebulan kemudian, situasinya berubah drastis. Tiga penumpang meninggal dunia setelah wabah hantavirus merebak — penyakit dengan tingkat kematian tinggi yang hingga kini belum memiliki obat.
Kapal Hondius, yang sebelumnya sempat singgah di Georgia Selatan, Tristan da Cunha, dan St Helena, akhirnya tiba di Tanjung Verde. Namun otoritas setempat menolak mengizinkan para penumpang turun dari kapal.
Pada Senin lalu, Rosmarin yang tampak menangis dan tertekan mengunggah video yang kemudian menyebar luas ke seluruh dunia.
“Kami bukan sekadar berita utama, kami manusia — manusia yang punya keluarga, kehidupan, dan orang-orang yang menunggu kami pulang,” katanya.
“Ada begitu banyak ketidakpastian, dan itu bagian yang paling sulit. Yang kami inginkan sekarang hanyalah merasa aman, mendapatkan kejelasan, dan pulang.”
Enam tahun setelah wabah awal Covid-19 di laut memaksa kapal-kapal pesiar berlayar dari satu negara ke negara lain demi mencari pelabuhan yang bersedia menerima mereka, kini sebuah kapal pesiar kembali menjadi sorotan global karena wabah virus mematikan.
Namun berbeda dengan Covid-19 yang disebabkan oleh jenis baru coronavirus, penyakit di atas Hondius diyakini bukan berasal dari strain hantavirus baru. Meski kasus pada manusia tergolong langka, hantavirus yang dibawa hewan pengerat telah lama ditemukan di sejumlah wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.
Dan tidak seperti Covid-19 yang mudah menular antarmanusia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan lainnya menegaskan bahwa penularan hantavirus dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi sehingga risiko terhadap kesehatan publik dinilai rendah.
Meski begitu, sementara wabah norovirus, flu, dan Covid di kapal pesiar sudah lazim terjadi, ini merupakan wabah hantavirus pertama yang pernah tercatat di atas kapal pesiar. Penyakit tersebut dapat membunuh hingga setengah dari penderitanya, menurut WHO.
Bukan hanya penumpang Hondius yang nantinya akan dipantau ketat saat akhirnya turun dari kapal. Otoritas kesehatan publik dan industri kapal pesiar juga mencermati dengan cemas apakah wabah ini hanya insiden tunggal atau akan menimbulkan dampak lebih luas.
Awal mula wabah
Korban pertama di kapal Hondius adalah seorang pria Belanda berusia 70 tahun. Ia mulai mengalami gejala gangguan pernapasan pada 6 April dan meninggal lima hari kemudian.
Saat itu belum ada tanda bahaya selain rasa simpati kepada keluarganya — termasuk istrinya yang berusia 69 tahun dan turut berada di kapal — sehingga kapten kapal Jan Dobrogowski mengatakan kepada para penumpang:
“Meski ini tragedi, kami meyakini penyebabnya adalah hal yang alami.”
Jenazah pria itu dipindahkan dari kapal pada 24 April ketika Hondius tiba di St Helena. Sang istri juga turun di sana. Tiga hari kemudian, saat kapal mencapai Pulau Ascension, kapten mendapat kabar bahwa wanita tersebut juga jatuh sakit setelah meninggalkan kapal dan meninggal dunia.
Pada hari yang sama, seorang pria asal Inggris jatuh sakit parah di atas kapal dan harus dievakuasi medis ke Afrika Selatan.
Lalu pada Sabtu pekan lalu, seorang perempuan Jerman berusia 80 tahun meninggal di atas kapal, sementara spesialis Afrika Selatan mengidentifikasi patogen yang menginfeksi pria Inggris tersebut sebagai hantavirus.
Saat itu jelas bahwa ini bukan penyakit biasa yang lazim muncul di kapal.
Wabah penyakit di laut sebenarnya bukan hal baru. Menurut Vikram Niranjan, asisten profesor kesehatan masyarakat di University of Limerick, kondisi kapal pesiar memang mendukung penyebaran penyakit.
“Mereka menggabungkan beberapa kondisi yang mempermudah penularan: kontak dekat, ruang makan bersama, ruang tertutup, serta sistem udara dan air yang digunakan bersama,” katanya.
Namun di sisi lain, kapal juga menawarkan keuntungan dalam pengendalian wabah.
“Sebuah kapal adalah lingkungan yang terdefinisi jelas. Jadi ketika wabah dikenali, tim kesehatan publik dapat fokus pada populasi dan lingkungan yang sudah diketahui. Itu membuat pelacakan kasus, isolasi, pembersihan, dan investigasi lebih mudah dibandingkan di komunitas terbuka,” ujarnya.
Masalahnya, kondisi itu tentu menyulitkan jika seseorang berada di kapal namun tidak terinfeksi — terutama ketika otoritas pelabuhan menolak mengizinkan penumpang turun.
Meski telah berlabuh lebih dari tiga hari di lepas pantai, Hondius tidak diizinkan bersandar di Praia, ibu kota Tanjung Verde. Kementerian kesehatan negara kepulauan itu mengatakan keputusan tersebut diambil demi “melindungi masyarakat Tanjung Verde.”
Tim medis lokal kemudian naik ke kapal untuk memeriksa penumpang lain yang mulai menunjukkan gejala.
Kepulauan Canary di Spanyol juga sempat keberatan menerima kapal tersebut. Setelah negosiasi dengan WHO, Spanyol akhirnya mengizinkan kapal berlabuh di wilayah otonom itu, namun para pemimpin regional menolak.
Kompromi akhirnya dicapai: kapal boleh tetap berada di lepas pantai Tenerife hingga seluruh penumpang diturunkan. Hondius berangkat menuju Canary pada Kamis dan dijadwalkan tiba di pelabuhan Granadilla, Tenerife, Minggu ini.
Penumpang mulai dievakuasi
“Ini sangat tidak biasa dan menurut saya mencerminkan betapa luar biasanya situasi ini,” kata Raphael Giacardi, kepala konten World of Cruising dan Cruise Trade News.
“Bagi banyak orang, nama ‘hantavirus’ baru kami dengar beberapa hari lalu. Dan saya rasa itulah yang terjadi pada otoritas pelabuhan: mereka menghadapi situasi yang belum dikenal dan harus mengambil keputusan secara cepat.”
Meski protokol penanganan wabah di kapal pesiar telah diperketat sejak pandemi Covid-19, Giacardi mengatakan operator kapal sangat sadar bahwa kelalaian soal sanitasi dan kebersihan dapat memicu sorotan media negatif.
Sementara itu, tidak semua penumpang merasa setakut Rosmarin. Kasem Hato, influencer perjalanan asal Yordania yang dikenal dengan nama Ibn Hattuta, mengatakan media telah membesar-besarkan situasi tersebut.
“Kebanyakan orang di kapal menghadapi situasi ini dengan sangat tenang,” katanya di Instagram.
“Ini bukan virus baru di dunia. Kalau memang ingin menjadi pandemi, itu sudah terjadi sejak lama.”
Namun kekhawatiran serius tetap ada.
Tiga orang dievakuasi medis dari kapal pada Rabu lalu, termasuk Martin Anstee, fotografer dan pemandu ekspedisi asal Inggris yang diterbangkan ke rumah sakit di Belanda untuk menjalani perawatan isolasi.
Istrinya, Nicola, mengatakan kepada Daily Telegraph bahwa beberapa hari terakhir merupakan masa yang “sangat traumatis.”
“Dia lega akhirnya bisa keluar dari kapal,” katanya.
“Awalnya gejalanya ringan lalu memburuk, dan sekarang kondisinya stabil lagi.”
Seorang pramugari KLM juga dirawat di rumah sakit setelah menunjukkan gejala. Kementerian kesehatan Belanda mengatakan perempuan itu sempat melakukan kontak dengan wanita 69 tahun yang meninggal setelah turun dari Hondius di St Helena ketika berada dalam penerbangan di Johannesburg, Afrika Selatan.
Sementara pria Inggris yang dievakuasi ke Afrika Selatan pada 27 April masih dirawat intensif, tetapi kini “membaik,” kata Direktur Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi WHO, Dr. Maria Van Kerkhove.
WHO terus menegaskan bahwa risiko terhadap populasi global tetap rendah.
“Ini bukan awal epidemi. Ini bukan awal pandemi. Ini bukan Covid,” kata Van Kerkhove kepada wartawan pada Kamis.
“Kami memahami mengapa pertanyaan-pertanyaan ini muncul … tetapi ini bukan situasi yang sama seperti enam tahun lalu.”
Meski demikian, para penumpang tampaknya belum akan mendapatkan sambutan hangat saat tiba di Canary.
Menurut kepala perlindungan sipil Spanyol, para penumpang yang dipulangkan ke negara masing-masing “tidak akan meninggalkan kapal sampai pesawat yang membawa mereka pulang sudah tersedia.”
“Mereka akan dibawa melalui jalur darat menuju area terisolasi berpagar, menggunakan kendaraan terisolasi, lalu menuju bagian bandara yang sepenuhnya terpisah,” katanya.
“Tidak ada kemungkinan kontak.”
