Unit Darurat Militer (UME) dikerahkan untuk menghentikan laju kebakaran, dengan fokus utama melindungi wilayah di sekitar kota El Escorial.
Pihak berwenang juga memantau kebakaran hutan lain di Provinsi Ávila yang berdekatan. Mereka khawatir kebakaran besar di Burgohondo dapat menyatu dengan kobaran api yang terjadi di wilayah Madrid.
Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, mengatakan pemerintah sedang melakukan “segala yang kami bisa” untuk mencegah kedua kebakaran tersebut bergabung.
Menurut otoritas setempat, lebih dari 60.000 orang terdampak di kawasan Madrid. Sebanyak 30.000 warga terpaksa dievakuasi, sementara 20.000 lainnya diminta tetap berada di rumah karena wilayah mereka dikarantina.
Delegasi pemerintah di Madrid, Francisco Martín, memperingatkan jumlah tersebut berpotensi meningkat karena “bara api beterbangan hingga bermil-mil jauhnya dan kebakaran melompat dalam jarak yang sangat jauh.”
Wali Kota El Tiemblo, salah satu wilayah terdampak di Provinsi Ávila, mengatakan kobaran api menyebar dari Navaluenga ke Lembah Iruelas, yang berjarak sekitar 20 kilometer, dalam waktu kurang dari setengah jam.
“Itu mengerikan,” ujar Arturo Varas González kepada stasiun televisi laSexta.
Menurut pejabat setempat, sedikitnya 6.000 hektare lahan telah terbakar di kawasan Madrid, sementara kebakaran di Ávila telah menghanguskan hampir 9.000 hektare.
Delapan wilayah administratif telah dievakuasi, yakni Chapinería, Navas del Rey, Colmenar del Arroyo, Fresnedillas de la Oliva, Robledo de Chavela, Aldea del Fresno, Navalagamella, dan Zarzalejo.
Sejumlah kota lainnya, termasuk San Martín de Valdeiglesias, Pelayos de la Presa, dan Villa del Prado, masih berada dalam status pembatasan pergerakan warga.
“Jika Melawannya, Api Akan Menelan Anda”
Ecologio Cabrera, 86 tahun, terpaksa meninggalkan desanya di sebelah barat Madrid.
“Kalau Anda tidak lari dan mencoba melawannya, api itu akan menelan Anda,” katanya kepada kantor berita AFP dari sebuah gedung olahraga di Desa Vilamanta, tempat ratusan warga mengungsi.
Keluarganya sempat berupaya menyelamatkan rumah mereka dengan menyemprotkan air menggunakan selang taman hingga petugas pemadam kebakaran tiba.
“Mereka datang dan meminta semua orang segera keluar. Saya belum pernah mengalami kejadian seperti ini.”
Presiden Pemerintah Daerah Madrid, Isabel Díaz Ayuso, mengatakan situasi tersebut “benar-benar tidak biasa dan bersifat katastrofik”, dengan prioritas utama saat ini adalah menyelamatkan nyawa warga.
Pemerintah Spanyol menyatakan Perdana Menteri Pedro Sánchez akan mengunjungi pusat koordinasi tanggap darurat di wilayah terdampak pada Sabtu pagi waktu setempat.
Sebelumnya pada Jumat waktu setempat, Sánchez mengatakan masyarakat sedang “mengalami situasi yang dramatis” dan mengimbau seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kepolisian Garda Sipil telah menangkap satu orang dan menyelidiki satu orang lainnya terkait kebakaran di Burgohondo. Menurut laporan media lokal, kebakaran itu diduga dipicu oleh kelalaian penggunaan alat berat ketika pembatasan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran masih diberlakukan.
Kebakaran “XXL” di Prancis Paksa Sekitar 200.000 Warga Mengungsi
Di wilayah barat daya Prancis, sekitar 200.000 orang telah dievakuasi setelah kebakaran hutan melanda kawasan Gironde dan Landes.
Pada Sabtu dini hari waktu setempat, empat kota di dekat Bordeaux dievakuasi sebagai langkah pencegahan.
Keempat kota tersebut adalah Saint-Médard-en-Jalles, Saint-Jean d’Illac, Martignas-sur-Jalles, dan Saint-Aubin de Médoc. Harian Le Monde melaporkan total penduduk di empat kota itu mencapai sekitar 58.400 jiwa.
Kebakaran di Gironde, yang oleh Prefek Sophie Brocas disebut sebagai “kebakaran XXL”, telah menghanguskan lebih dari 19.000 hektare hutan dan menghancurkan sekitar 80 rumah.
Pihak berwenang juga mengevakuasi seluruh Semenanjung Cap Ferret di pesisir barat daya. Ratusan orang melarikan diri menggunakan perahu setelah api melalap kawasan wisata populer tersebut.
Wilayah itu memiliki sekitar 8.000 penduduk tetap sepanjang tahun. Namun, jumlah tersebut dapat meningkat hingga sepuluh kali lipat selama musim liburan musim panas.
Kepala pemadam kebakaran dan penyelamatan, Marc Vermeulen, mengatakan kondisi saat ini lebih parah dibandingkan kebakaran besar yang melanda kawasan tersebut pada 2022. Kekeringan membuat api terus menyebar sepanjang malam.
“Kami belum pernah melihat kebakaran konvektif sebesar ini,” kata Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, kepada stasiun televisi TF1.
Ia menambahkan sekitar 50 petugas pemadam kebakaran mengalami luka-luka.
Menurut Nuñez, kobaran api kini mampu mempertahankan dirinya sendiri dan terus berubah arah. Pada Jumat malam waktu setempat, api bergerak ke arah timur menuju Bordeaux.
“Kami akan mengatur ulang strategi penanganan agar dapat memadamkan api dari darat dan mencegahnya bergerak menuju Bordeaux,” ujarnya.
Lebih jauh ke selatan, kebakaran lain di dekat Biscarrosse, wilayah Landes, memaksa lebih dari 23.000 orang meninggalkan rumah, area perkemahan, panti jompo, dan perkemahan musim panas.
Prefek Landes, Gilles Clavreul, mengatakan kebakaran tersebut tidak akan dapat dipadamkan hingga akhir Jumat. Angin bertiup dengan kecepatan mencapai 50 kilometer per jam, sementara suhu udara berada di kisaran 36 hingga 37 derajat Celsius.
Wali Kota Lège-Cap Ferret, Philippe de Gonneville, yang wilayahnya termasuk paling terdampak, mengatakan daerah tersebut telah mengalami cuaca ekstrem selama satu setengah bulan terakhir tanpa hujan dan dengan suhu di atas rata-rata.
“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Baik kami maupun para petugas pemadam kebakaran belum pernah menyaksikan situasi seperti ini,” katanya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menggambarkan situasi kebakaran hutan di negaranya sebagai “sangat tegang”, terutama di wilayah Gironde.
Ia mengatakan Prancis telah mengaktifkan mekanisme perlindungan sipil Uni Eropa dan akan menerima bantuan tambahan, termasuk dua helikopter Black Hawk dari Republik Ceko dan Slovakia.
Kondisi Ekstrem Melanda Eropa Selatan
Uni Eropa telah mengerahkan pesawat dan helikopter untuk mendukung upaya pemadaman kebakaran di Spanyol dan Prancis, ketika sebagian besar wilayah Eropa Selatan menghadapi gelombang panas berulang serta kekeringan berkepanjangan.
Menurut Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa, Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Sejak 1980-an, suhu di benua tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata kenaikan suhu global.
Kondisi yang semakin panas dan kering menyebabkan vegetasi kehilangan kelembapan sehingga menjadi bahan bakar yang memudahkan kebakaran hutan menyala dan menyebar lebih cepat.
Meski percikan api tetap menjadi pemicu awal, yang paling sering berasal dari aktivitas manusia, baik karena kelalaian maupun kesengajaan, atau akibat sambaran petir, suhu ekstrem, vegetasi yang kering, dan angin kencang membuat kebakaran berlangsung jauh lebih cepat dan semakin sulit dikendalikan.
Menurut European Forest Fire Information System, luas wilayah yang terbakar di Eropa sepanjang tahun ini telah melampaui rata-rata tahunan dalam dua dekade terakhir.
Sementara itu, European Environment Agency menyatakan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan risiko kebakaran hutan di seluruh Eropa, dengan ancaman terbesar diperkirakan terjadi di kawasan Eropa Selatan.
