Militer Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap Iran untuk “semakin melemahkan” kemampuan Teheran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Serangan tersebut merupakan malam ke-10 berturut-turut operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Operasi itu dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump berjanji akan membalas kematian sejumlah prajurit Amerika.
Sebelumnya, Trump mengatakan Iran telah dihantam “sangat keras” pada malam sebelumnya sebagai bentuk penghormatan kepada tiga prajurit AS yang baru-baru ini tewas, dua di Yordania dan satu di Irak.
Menanggapi gelombang serangan terbaru tersebut, Iran menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak di Selat Hormuz, serta aset militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Informasi itu disampaikan kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya kini sedang menghadapi “perang skala penuh” melawan Amerika Serikat.
Meski demikian, Teheran menyebut komunikasi diplomatik melalui pihak perantara masih terus berlangsung antara kedua negara, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah runtuh.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melalui platform X menyatakan bahwa serangan terbaru menyasar “pusat komando militer, kemampuan maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta sistem pertahanan udara” milik Iran.
CENTCOM juga menyebut kapal-kapal komersial masih tetap melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, menurut IRNA, tim penyelamat Iran sedang mengevakuasi awak dari dua kapal tanker minyak yang diserang ketika berusaha melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena proyektil yang belum diketahui asalnya. Insiden itu memaksa seluruh awak meninggalkan kapal dan berpindah ke sekoci penyelamat.
Belum dapat dipastikan apakah kapal tanker yang dilaporkan UKMTO merupakan salah satu dari dua kapal yang disebutkan oleh pemerintah Iran.
Pada Selasa malam waktu setempat, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengonfirmasi identitas dua prajurit yang tewas akibat serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada akhir pekan lalu.
Kedua prajurit tersebut adalah Prajurit Isabella Gonzales, 19 tahun, asal Texas, dan Letnan Tyler James Feehan, 25 tahun, asal Hawaii.
CENTCOM sebelumnya juga menyatakan satu personel militer lainnya sempat dinyatakan hilang setelah serangan tersebut. Belakangan, jasad yang belum teridentifikasi ditemukan di sekitar lokasi.
Di kawasan lain di Timur Tengah, militer Yordania menyatakan pada Senin malam waktu setempat berhasil menembak jatuh tiga rudal Iran ketika sirene peringatan serangan udara berbunyi di berbagai wilayah negara itu.
Sebelumnya pada hari yang sama, angkatan bersenjata Kuwait juga mengumumkan telah mencegat sejumlah drone Iran.
Sementara itu, pemerintah Bahrain menyatakan drone yang diluncurkan Iran sempat menargetkan sistem navigasi penerbangan negara tersebut. Meski demikian, lalu lintas penerbangan tetap berjalan normal tanpa gangguan.
Terkait serangan Amerika Serikat pada malam sebelumnya, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan beberapa kota di Iran menjadi sasaran, termasuk Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini.
Media pemerintah Iran juga melaporkan dua kapal tanker minyak meledak saat berusaha melintasi Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kedua kapal tersebut melintasi jalur selatan Selat Hormuz yang mereka sebut sebagai rute “tidak aman dan berbahaya”, sehingga mengalami ledakan dan berhenti beroperasi.
Namun, CENTCOM membantah klaim tersebut.
