Setiap malam sebelum naik ke panggung, tujuh anggota grup pop XG membentuk lingkaran dan saling bergandengan tangan. Pemimpin grup, Jurin, meneriakkan kata “Hesono”, lalu anggota lainnya menjawab dengan teriakan keras “Oh” sambil mengangkat tangan ke udara.
Ritual sebelum tampil memang bukan hal baru di dunia musik. Namun bagi XG, seruan itu memiliki makna yang sangat pribadi.
Hesono-o, atau へその緒 dalam bahasa Jepang, berarti tali pusar. Kata tersebut melambangkan takdir atau hubungan seseorang sejak lahir. Bagi XG, istilah itu menggambarkan kuatnya ikatan di antara mereka.
“Kami benar-benar terhubung sangat kuat. Kami selalu memikirkan hal yang sama,” kata Chisa, anggota tertua grup.
“Di masa awal dulu, saya bahkan pernah bermimpi kami semua terhubung oleh tali pusar seperti ibu dan anak.
“Lalu saya melempar ide itu sebagai identitas grup. Banyak orang bilang, ‘Ini sangat baru dan menarik’, dan dari situlah konsep Hesono-o lahir.”
XG berbicara sehari setelah penampilan debut mereka yang meriah meski diguyur hujan di acara Capital’s Summertime Ball di Stadion Wembley.
Ketujuh anggota, yakni Maya, Juria, Hinata, Harvey, Cocona, Chisa, dan Jurin, tampil mengenakan busana neon mencolok lengkap dengan detail bulu sintetis dan gesper rumit.
Cocona memakai kalung bertuliskan “rock star”, sementara Harvey mengenakan begitu banyak gelang hingga berbunyi setiap kali berjalan.
Masing-masing memiliki gaya unik, tetapi mereka bergerak sebagai satu kesatuan. Saat menjawab pertanyaan, mereka berdiskusi bersama terlebih dahulu sebelum menunjuk satu orang sebagai juru bicara.
Ikatan itu terbentuk lebih dari satu dekade lalu, ketika beberapa anggota grup masih berusia 11 atau 12 tahun.
Para anggota XG direkrut dari ribuan peserta audisi di seluruh Jepang pada 2016. Sebanyak 21 orang lolos ke tahap pelatihan dan tinggal bersama di asrama sambil menjalani latihan menyanyi, menari, serta belajar berbagai bahasa dari pagi hingga malam.
Sistem pelatihannya terkenal keras. Dalam sebuah dokumenter yang merekam masa-masa awal mereka, para trainee dimarahi karena mengunggah foto dari asrama ke media sosial.
“Kalian tidak akan pernah mendapat rasa hormat kalau melakukan hal seperti itu,” kata seorang pelatih kepada para remaja tersebut.
Adegan lain memperlihatkan mereka dipaksa melakukan squat hingga jatuh sakit atau menangis.
“Itu pengalaman paling berat dan paling sulit yang pernah saya jalani,” kata Maya. “Sebuah pertarungan melawan diri sendiri secara fisik dan mental.”
Kini, Chisa menyebut masa pelatihan itu sebagai bentuk “bertahan hidup murni”. Namun ketika para trainee dibagi menjadi beberapa tim, rasa persaudaraan mulai tumbuh.
“Dalam arti yang baik, kami saling mendorong untuk berkembang, jadi setiap tim menjadi sangat solid,” katanya.
“Menjelang pertengahan hingga akhir masa trainee, kami mulai lebih sering pergi bersama, jalan-jalan, bepergian, mengadakan acara olahraga kecil dan sebagainya.”
“Kami juga sangat suka menonton film bersama,” tambah Hinata. “Terutama film horor, karena kami akan berkumpul di bawah selimut sambil ketakutan bersama.
“Rasanya seperti saudara kandung sungguhan. Perasaan itu yang sangat saya sukai.”
Setelah enam tahun menjalani pelatihan, grup tersebut akhirnya debut pada 2022 lewat singel Tippy Toes.
Dengan beat hip-hop minimalis, lagu itu menampilkan kemampuan mereka berpindah mulus dari rap ke vokal melodis. Liriknya juga memperlihatkan ambisi global mereka.
“Pahami bahwa kami datang bukan untuk bermain-main,” nyanyi Hinata. “Kami datang untuk mendominasi.”
Janji itu mereka buktikan lewat Galz Xypher pada 2022, ketika lini rap grup yang terdiri dari Jurin, Maya, Harvey, dan Cocona membawakan lirik dalam tiga bahasa di atas campuran sampel musik, termasuk lagu One Step Ahead milik Aretha Franklin dan Saoko dari Rosalía.
Lagu tersebut viral dan melahirkan ribuan video reaksi di TikTok serta meraih 49 juta penayangan di YouTube.
Lewat rilisan berikutnya seperti Shooting Star yang enerjik dan Woke Up yang penuh percaya diri, XG semakin memantapkan identitas musik mereka yang memadukan estetika fiksi ilmiah dengan nuansa R&B era 1990-an.
Pada 2025, mereka tampil di Coachella dan menjadi satu-satunya artis Jepang dalam jajaran penampil festival tersebut.
“Saya masih merinding ketika menontonnya kembali,” kata Maya. “Saya langsung berpikir, ‘Ya Tuhan, saya akan bekerja lebih keras sampai bisa kembali ke panggung itu’.”
Di tengah karier XG yang terus melesat, anggota termuda mereka, Cocona, juga mengalami perubahan besar dalam kehidupan pribadinya.
Pada Desember lalu, tepat di ulang tahunnya yang ke-20, Cocona mengumumkan dirinya sebagai transmaskulin dan non-biner melalui unggahan emosional di Instagram.
“Saya ingin membagikan sesuatu yang sudah lama ada di hati saya,” tulisnya.
“Saya lahir dan dipersepsikan sebagai perempuan, tetapi label itu tidak pernah merepresentasikan siapa diri saya sebenarnya. Hal tersulit yang pernah saya hadapi adalah menerima dan merangkul diri saya sendiri.”
Transmaskulin merujuk pada orang yang lahir sebagai perempuan tetapi mengidentifikasi diri secara lebih maskulin, baik sebagian maupun sepenuhnya. Sementara non-biner adalah istilah untuk identitas gender yang tidak sepenuhnya masuk dalam kategori laki-laki atau perempuan.
Pernyataan Cocona dianggap hampir belum pernah terjadi sebelumnya di industri J-pop dan musik idol yang dikenal sangat terkontrol. Namun, ia mendapat dukungan penuh dari rekan-rekan satu grupnya.
Jurin mengambil foto artistik yang menyertai pengumuman tersebut, termasuk menampilkan bekas operasi top surgery milik Cocona, sementara Chisa membantu merias wajahnya.
Para penggemar XG juga merespons dengan dukungan dan cinta yang besar.
“Saya benar-benar sangat bersyukur,” kata Cocona. “Saya berharap dengan mengatakan semua itu, orang lain bisa merasakan harapan, cahaya, atau cinta.
“Memikirkan hal itu membuat saya merasa bisa terus maju dan bekerja lebih keras lagi, jadi saya merasa sangat diberkati.”
Setelah pengumuman tersebut, identitas XG juga berubah. Jika sebelumnya singkatan XG berarti Xtraordinary Girls, kini maknanya menjadi “Xtraordinary Genes”, yang menurut Chisa membawa pesan bahwa “menjadi diri sendiri apa adanya itu tidak masalah”.
“Menghancurkan pemikiran dan prasangka yang kaku adalah bagian besar dari konsep kami,” kata Jurin.
Tema itu juga menjadi inti album terbaru mereka, The Core, yang meninggalkan nuansa R&B retro dari EP awal mereka menuju eksplorasi musik yang lebih luas.
Singel utama Gala menghadirkan beat ballroom bergaya Vogue, sementara Hypnotise terinspirasi dari piano house khas lagu Finally milik CeCe Peniston.
“Ketika pertama kali mendengar suara piano ikonik itu, kami langsung berpikir, ‘Ini harus jadi lagu utama kami’,” kata Maya.
“Lagu itu bukan hanya enak untuk menari, tetapi juga punya nuansa gelap dan misterius yang membuat Anda membayangkan suasana kota di malam hari.”
Salah satu lagu lain yang mencuri perhatian adalah O.R.B, yang memadukan gitar keras dengan pesan solidaritas persaudaraan. Lagu itu juga banyak ditafsirkan sebagai bentuk dukungan terhadap Cocona.
“Kami bilang kepada produser bahwa kami ingin lagu rock bergaya band,” kata Chisa.
“Kami tidak pernah membayangkan demo itu akan masuk album, tetapi ketika mendengarkannya bersama-sama, lagu itu benar-benar mengingatkan kami pada Avril Lavigne dan kami semua merasa, ‘Inilah yang benar-benar ingin kami lakukan’.
“Lagu itu memperluas gravitasi musik kami, semesta musik kami.”
Penggemar di Inggris akan bisa menikmati langsung semesta tersebut ketika XG menggelar konser pertama mereka di Inggris di Wembley Arena pada September mendatang.
Konser itu merupakan bagian dari tur dunia selama setahun penuh. Juria mengatakan pertunjukan tersebut “akan benar-benar merepresentasikan judul album kami. Inti diri kami akan tampil sepenuhnya di atas panggung”.
Meski jadwal mereka semakin padat, XG memastikan ikatan “tali pusar” mereka tidak akan pernah terputus.
“Memiliki batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat itu sangat penting,” kata Hinata. “Bagi saya, menghabiskan waktu santai bersama anggota lain membantu saya tetap seimbang.”
Untuk bersantai, Hinata menonton anime. Jurin yang pernah menjadi atlet snowboard profesional kembali bermain snowboard saat punya waktu. Sementara Harvey ternyata diam-diam memiliki bakat bermain trombon.
“Bagaimana kalian tahu soal itu?!” katanya sambil tertawa.
“Saya memang sudah lama tidak bermain serius sejak kelas tiga SMP, tetapi saya masih membawa mouthpiece trombon ke mana-mana. Jadi suatu hari saya ingin bermain trombon bersama grup, hanya untuk melihat apakah saya masih bisa melakukannya.”
