Kepala Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC) pada Selasa memperingatkan bahwa wabah Ebola yang sedang berlangsung di Democratic Republic of the Congo (DRC) berpotensi menjadi yang terburuk dalam sejarah jika tidak segera dikendalikan.
Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, mengatakan bahwa saat ini puluhan ribu orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien Ebola masih belum berhasil dilacak oleh otoritas kesehatan.
“Jika kita tidak segera menghentikan wabah ini, situasinya akan menjadi lebih buruk dibandingkan yang pernah terjadi di Afrika Barat maupun di bagian timur DRC,” kata Kaseya dalam pertemuan virtual para kepala negara Afrika yang berlangsung di Burundi.
Peringatan tersebut menggarisbawahi besarnya tantangan yang dihadapi otoritas kesehatan dalam mengendalikan penyebaran virus mematikan tersebut, terutama karena masih banyak kontak erat pasien yang belum teridentifikasi dan dipantau.
Kaseya merujuk pada wabah Ebola besar yang melanda Afrika Barat pada periode 2014 hingga 2016, yang menyerang Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.
Wabah tersebut menjadi epidemi Ebola paling mematikan yang pernah tercatat, dengan lebih dari 11.000 korban jiwa.
Ia juga membandingkannya dengan wabah Ebola yang terjadi di wilayah timur Kongo pada 2018, yang meskipun lebih kecil, tetap menimbulkan dampak kesehatan yang serius.
Menurut Africa CDC, keberhasilan pelacakan kontak merupakan salah satu faktor paling penting dalam memutus rantai penularan Ebola. Kegagalan menemukan dan memantau orang-orang yang pernah berinteraksi dengan pasien dapat mempercepat penyebaran virus ke wilayah yang lebih luas.
Peringatan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa wabah Ebola terbaru di Republik Demokratik Kongo dapat berkembang menjadi krisis kesehatan besar apabila langkah-langkah pengendalian tidak segera diperkuat.
