Para karyawan di perusahaan pembuat sepatu Softstar Shoes di Oregon kini menemukan semangat baru untuk mengelola sumber daya secara lebih efisien dan meningkatkan keuntungan perusahaan.
Perubahan itu dimulai pada Januari lalu ketika perusahaan tersebut resmi dimiliki oleh sekitar 30 karyawannya.
Pemilik tunggal sekaligus kepala eksekutif sebelumnya, Tricia Salcido, memutuskan menjual bisnis itu kepada para karyawan karena pada usia 56 tahun ia mulai mempersiapkan masa pensiunnya.
Salcido, yang masih akan bertahan sebagai direktur keuangan selama beberapa tahun ke depan, mengatakan para karyawan kini jauh lebih aktif memberikan ide mengenai cara terbaik menjalankan perusahaan.
“Saya sekarang menerima banyak email pribadi dari karyawan yang berkata, ‘apakah Anda sudah mempertimbangkan ide ini?'” ujarnya.
“Masukan bisnis seperti ini sebelumnya hampir tidak pernah muncul.”
Salcido termasuk dalam kelompok kecil namun terus bertambah dari para pemilik usaha di Amerika Serikat yang memilih menyerahkan kepemilikan bisnis kepada karyawan mereka, alih-alih menjualnya kepada pembeli dari luar.
Sebuah studi pada 2025 menyebutkan bahwa hingga 600 perusahaan di Amerika Serikat kini dijual kepada para pekerjanya setiap tahun. Dana investasi yang tersedia untuk membantu pembiayaan transaksi semacam itu juga meningkat 78%, dari US$500 juta pada 2024 menjadi US$865 juta tahun lalu. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin banyak perusahaan yang beralih ke model kepemilikan karyawan.
Selain meningkatkan motivasi pekerja yang ikut menanggung risiko dan menikmati hasil kepemilikan, berbagai penelitian menunjukkan perusahaan milik karyawan cenderung lebih produktif, lebih jarang melakukan pemutusan hubungan kerja, dan memberikan upah yang lebih tinggi.
Bagi Salcido, langkah tersebut merupakan cara untuk mempertahankan lapangan kerja lokal sekaligus mencegah keahlian pembuatan sepatu artisan milik perusahaannya dipindahkan ke luar Amerika Serikat, sesuatu yang menurutnya hampir pasti terjadi jika perusahaan dijual kepada pembeli korporasi yang berfokus pada penghematan biaya.
“Ini adalah sesuatu yang telah Anda bangun sepanjang hidup. Sebagian besar pemilik usaha kecil benar-benar peduli,” katanya.
Salcido bukan satu-satunya yang menghadapi dilema tersebut. Jutaan pengusaha Amerika kini mendekati usia pensiun dan harus menentukan masa depan perusahaan mereka.
Laporan perusahaan konsultan bisnis McKinsey & Company yang dirilis tahun ini memperkirakan pemilik generasi baby boomer dari sekitar enam juta usaha kecil dan menengah di Amerika Serikat akan pensiun antara sekarang hingga 2035.
Fenomena ini bahkan dijuluki sejumlah pengamat sebagai “silver tsunami” atau gelombang besar pensiun generasi lanjut usia.
McKinsey menyebut gelombang pensiun tersebut akan menciptakan “transisi kepemilikan bisnis terbesar dalam satu generasi”.
Profesor madya di Harvard Business School, Ethan Rouen, mengatakan hampir setiap minggu ia berbicara dengan pemilik usaha yang ingin menjual bisnisnya.
Menurutnya, banyak anak pemilik usaha yang sudah dewasa tidak tertarik melanjutkan bisnis keluarga.
Rouen dan rekan-rekannya di Harvard meyakini model kepemilikan karyawan dapat membantu banyak perusahaan bertahan hidup. Skema ini juga menarik bagi pemilik yang sangat peduli terhadap nasib para pekerja dan khawatir terhadap dampak penjualan kepada perusahaan besar atau firma investasi.
Situasi serupa dialami William Stockwell, yang ingin melindungi masa depan perusahaan manufaktur komponen industri Stockwell Elastomerics di Philadelphia, yang didirikan oleh buyutnya pada 1919.
Stockwell memutuskan menjual perusahaan kepada para karyawan setelah melihat dampak yang dialami perusahaan-perusahaan lain yang diambil alih investor luar.
“Pemilik baru bisa memindahkan bisnis, menutupnya, atau mengubahnya secara drastis. Sementara orang-orang yang tersisa harus menerima akibatnya,” katanya.
Di Amerika Serikat terdapat berbagai skema yang memungkinkan karyawan mengambil alih kepemilikan perusahaan.
Di Softstar Shoes, proses tersebut dilakukan melalui Employee Ownership Trust (EOT).
Dalam skema EOT, sebuah badan perwalian dibentuk untuk memiliki perusahaan atas nama para karyawan. Dengan demikian, pekerja tidak perlu membeli perusahaan menggunakan dana pribadi mereka.
Badan perwalian kemudian membayar harga pembelian kepada pemilik lama secara bertahap menggunakan sebagian keuntungan perusahaan di masa depan.
Konsekuensinya, Salcido harus menunggu cukup lama sebelum menerima seluruh hasil penjualan bisnisnya. Selain itu, ada risiko tambahan karena pembayaran bergantung pada keberhasilan perusahaan di masa depan.
“Saya yang menanggung risikonya. Jika sesuatu terjadi, saya tidak akan dibayar,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku percaya terhadap timnya. Para karyawan juga memperoleh bagian dari keuntungan tahunan perusahaan.
Sementara itu, Stockwell memilih metode berbeda yang dikenal sebagai Employee Stock Ownership Plan (ESOP).
Melalui skema ini, perusahaan juga ditempatkan dalam struktur perwalian. Namun alih-alih menerima pembagian keuntungan tahunan, karyawan memperoleh saham yang hanya dapat dicairkan ketika mereka meninggalkan perusahaan.
Pemilik yang pensiun juga harus menerima pembayaran secara bertahap.
“Saya menerima pembayaran selama 10 tahun,” kata Stockwell, yang mengakui bahwa dirinya harus melakukan “pengorbanan finansial jangka pendek”.
Di Pennsylvania bagian tengah, Paul Silvis juga sedang dalam proses menjual perusahaan manufakturnya, SilcoTek Corporation, kepada para karyawan.
Pria berusia 71 tahun itu yakin telah mengambil keputusan yang tepat.
“Saya sedang bersiap menikmati masa pensiun saya suatu saat nanti,” ujarnya.
Stockwell mengingatkan para pemilik usaha yang ingin menyerahkan perusahaan kepada karyawannya agar mulai merencanakan proses tersebut sejak jauh hari.
Menurutnya, proses transisi kepemilikan bisa memakan waktu bertahun-tahun.
“Ini bukan sesuatu yang bisa Anda mulai pada tahun yang sama ketika ingin pensiun,” katanya.
Rouen menambahkan bahwa saat ini terdapat kemauan politik yang lebih besar di Washington untuk mempermudah proses kepemilikan karyawan karena pemerintah Amerika Serikat mulai mendorong model tersebut.
United States Department of Labor bahkan meluncurkan Employee Ownership Initiative, sebuah program yang bertujuan mempromosikan kepemilikan karyawan sekaligus memberikan panduan bagi perusahaan yang ingin menerapkannya.
Ia juga menyebut adanya dukungan dari kedua partai besar di Kongres Amerika Serikat untuk mencari cara agar penjualan perusahaan kepada karyawan menjadi pilihan yang lebih mudah dan realistis bagi para pemilik usaha.
Karena itu, Rouen optimistis tren ini akan terus berkembang.
“Saya menduga kita akan melihat lebih banyak transisi kepemilikan kepada karyawan yang berhasil dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.
