Beberapa pekan sebelum membuka perpustakaan kepresidenannya di Chicago, Barack Obama mengungkapkan harapannya terhadap bagaimana bangunan tersebut akan membentuk pemahaman publik atas warisannya.
“Saya ingin orang-orang menempatkan masa kepresidenan saya dalam konteks,” kata Obama dalam wawancara , yang direkam di perpustakaan tersebut dan ditayangkan dalam acara “The Late Show” pada Selasa.
“Saya kira dalam pidato penghormatan nanti, akan disebut bahwa saya adalah presiden Afrika-Amerika pertama,” ujar Obama (64). “Namun yang saya ingin orang pahami adalah bahwa ada perjalanan luar biasa yang ditempuh negara ini untuk sampai ke titik itu, dan saya hanyalah satu bagian dari perjalanan tersebut.”
Masa pascakepresidenan Obama banyak dipengaruhi oleh Donald Trump, presiden ke-45 dan ke-47 Amerika Serikat. Ia semakin sering mengungkapkan kekhawatiran, baik secara publik maupun pribadi, terkait langkah-langkah Trump terhadap institusi-institusi lama Amerika, serta memperingatkan apa yang ia sebut sebagai “gelombang otoritarianisme yang meningkat di seluruh dunia.”
Obama tetap menjadi salah satu tokoh paling populer di Partai Demokrat, sering diminta hadir dalam acara kampanye dan mendukung upaya referendum di California dan Virginia untuk menggambar ulang peta distrik dalam konflik redistricting yang dipicu oleh Trump.
Dalam wawancara dengan The New Yorker yang diterbitkan pada Senin, Obama mengatakan ia berusaha menyeimbangkan aktivitas politiknya dengan keinginan dirinya dan mantan ibu negara Michelle Obama untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama.
“Ini menciptakan ketegangan nyata dalam rumah tangga kami, dan itu membuatnya frustrasi,” katanya soal kegiatan kampanye. “Saya lebih bisa memahaminya, karena saya tahu orang melihatnya seperti itu. Mereka tidak membandingkan saya secara historis dengan presiden lain. Mereka tidak peduli bahwa tidak ada mantan presiden lain yang menjadi juru kampanye utama partai selama empat siklus pemilu setelah meninggalkan jabatan.”
Dalam wawancara dengan Colbert, Obama juga ditanya arah yang ingin ia lihat bagi Partai Demokrat.
“Di dalam Partai Demokrat, dan saya kira juga di kalangan independen serta sebagian Republik, ada keyakinan kuat tentang kesetaraan dan keadilan—bahwa jika Anda bekerja, Anda harus bisa memperoleh upah layak, menghidupi keluarga, dan pensiun dengan martabat,” ujarnya.
Ia juga menyebut Wali Kota New York, Zohran Mamdani, yang baru-baru ini ia temui saat mengunjungi pusat pendidikan anak usia dini di Bronx.
Obama menyebut Mamdani sebagai “talenta luar biasa.”
“Ia ingin orang-orang mampu membeli rumah di New York,” kata Obama. “Saya kira kaum liberal di New York juga menginginkan hal yang sama. Jadi saya tidak terlalu khawatir soal perbedaan di dalam Partai Demokrat. Yang lebih penting bagi saya adalah, apakah Demokrat bisa berbicara dengan masyarakat biasa tanpa terdengar seperti sedang berada di seminar kampus? Bisakah mereka berbicara dengan bahasa yang sederhana?”
Seperti yang kerap terjadi pada mantan presiden lainnya, Obama juga ditanya soal kemungkinan pemerintah menyembunyikan bukti kehidupan makhluk luar angkasa—menindaklanjuti pernyataannya sebelumnya.
“Salah satu hal yang Anda pelajari sebagai presiden adalah bahwa pemerintah sangat buruk dalam menjaga rahasia,” ujarnya, menegaskan bahwa jika ada bukti semacam itu, kemungkinan besar sudah bocor. Ia bahkan bercanda siap menjadi utusan jika suatu saat makhluk luar angkasa benar-benar datang ke Bumi.
