Putri salah satu korban serangan di Bondi Beach mengungkap bahwa sejak penembakan terjadi, ia menerima pesan-pesan yang menyatakan dirinya juga seharusnya ikut dibunuh.

Sheina Gutnick menjadi saksi pertama yang memberikan keterangan di hadapan komisi kerajaan Australia tentang antisemitisme. Komisi ini dibentuk setelah penembakan dalam acara Hanukkah pada Desember lalu yang menewaskan 15 orang.

Pelaku penembakan, Sajid Akram (50), tewas ditembak polisi di lokasi kejadian. Sementara putranya, Naveed Akram, yang diduga sebagai pelaku kedua, mengalami luka kritis sebelum akhirnya dipindahkan dari rumah sakit ke penjara.

Pria berusia 24 tahun itu kini didakwa dengan 59 tuduhan, termasuk 15 dakwaan pembunuhan dan satu tuduhan melakukan aksi terorisme.

“Saya melihat orang-orang mencoba membenarkan kejadian ini hanya sebagai tindakan anti-Zionis,” kata Gutnick dalam sidang terbuka di Sydney pada Senin, sambil menjelaskan berbagai pengalaman yang membuatnya merasa tidak aman di negaranya sendiri.

Ayahnya, Reuven Morrison, tewas saat berusaha menghentikan para penyerang dengan melemparkan benda ke arah mereka.

Gutnick juga menyampaikan bahwa ia melihat perubahan besar dalam antisemitisme sejak Oktober 2023.

“Saya merasa seolah-olah antisemitisme kini dibiarkan muncul ke permukaan,” ujarnya. “Tiba-tiba, komentar antisemit menjadi sesuatu yang dapat diterima secara sosial dan moral dalam diskursus publik.”

Menurut kesaksiannya, Morrison adalah sosok yang “sangat bangga” menjadi warga Australia. Ia melarikan diri dari Uni Soviet saat berusia 14 tahun dan kemudian bertemu dengan ibu Gutnick di Bondi Beach.

Namun kini, Gutnick mengaku memiliki perasaan yang “rumit” terhadap Bondi, meskipun menyimpan kenangan masa kecil yang indah di pantai tersebut.

Saksi lain yang hanya disebut sebagai AAL menceritakan bahwa ia pindah ke Australia dari Afrika Selatan pada 1980-an dan langsung mencintai negara itu.

“Saya menganggap Australia sebagai rumah sejak hari pertama saya turun dari pesawat,” kata AAL dengan suara bergetar. “Namun saya harus mengakui, keadaan telah berubah—saya harus mempertimbangkan dengan sangat serius apakah ini masih negara yang tepat untuk cucu-cucu saya.”

Komisi kerajaan menyebut hingga Senin pagi telah menerima hampir 7.500 pengajuan. Sesi dengar pendapat publik tahap pertama, yang berlangsung hingga 15 Mei, akan berfokus pada pengalaman langsung terkait antisemitisme.

Pekan lalu, mantan hakim Mahkamah Agung Australia, Virginia Bell, yang memimpin komisi tersebut, merilis laporan sementara berisi 14 rekomendasi. Di antaranya adalah prioritas reformasi senjata api serta perluasan pengamanan polisi dari hari besar keagamaan Yahudi ke berbagai acara komunitas lainnya.

Menjelang sidang publik, Bell menyoroti adanya lonjakan tajam antisemitisme yang juga terjadi di negara-negara Barat lain, dan mengaitkannya dengan perkembangan situasi di Timur Tengah.

“Penting bagi masyarakat untuk memahami betapa cepat peristiwa-peristiwa tersebut dapat memicu ekspresi kebencian terhadap warga Yahudi Australia hanya karena mereka adalah Yahudi,” ujarnya.

Komisi tersebut dijadwalkan menyerahkan laporan akhir bertepatan dengan peringatan satu tahun tragedi penembakan tersebut.

Share.
Leave A Reply