Ketika aksi kekerasan terhadap politisi semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia dalam beberapa tahun terakhir, Australia menyaksikannya dengan perasaan yang bertolak belakang. Di satu sisi, masyarakat meyakini serangan semacam itu tidak mungkin terjadi di negara mereka. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa insiden tersebut hanya tinggal menunggu waktu.
Warga Australia kerap menggambarkan negara mereka sebagai masyarakat yang relatif damai dengan ruang diskusi publik yang cenderung santun. Kekerasan yang menyasar politisi juga jarang terjadi. Upaya pembunuhan terhadap pemimpin Partai Buruh, Arthur Calwell, pada 1966 yang gagal karena sejumlah kesalahan pelaku kini hanya menjadi kenangan lama yang jarang dibicarakan.
Namun, para anggota parlemen dan tokoh publik, didukung oleh para pakar, telah berulang kali memperingatkan meningkatnya ancaman terhadap mereka. Peringatan itu muncul ketika kohesi sosial melemah, polarisasi semakin tajam, dan perdebatan politik kian memanas.
Pada Senin, kekhawatiran terburuk mereka tampaknya menjadi kenyataan.
Anggota parlemen independen Helen Haines ditabrak mobil hingga mengalami luka serius di luar kantornya di Wangaratta, sebuah kota regional di negara bagian Victoria.
Polisi mengatakan seorang pria berusia 43 tahun ditangkap di lokasi kejadian dan sebilah pisau disita. Namun, polisi belum menyatakan bahwa Haines sengaja ditabrak.
Perdana Menteri Anthony Albanese dengan cepat menggambarkan insiden tersebut sebagai dugaan serangan yang disengaja.
Albanese telah menerima laporan dari kepolisian federal. Unit antiterorisme kepolisian federal turut membantu aparat kepolisian negara bagian menyelidiki kasus tersebut. Kepada lembaga penyiaran nasional Australia, Albanese mengatakan, “Ini bukan kecelakaan. Tampaknya, ada tindakan yang disengaja.”
Menteri Dalam Negeri Tony Burke mengatakan sejumlah saksi melihat terduga pelaku memutar balik kendaraannya sebelum menabrak Haines, kemudian memundurkan mobil dan kembali menabraknya.
Meski menegaskan bahwa motif pelaku belum dipastikan, Albanese menunjukkan emosi ketika berbicara mengenai meningkatnya ketakutan di kalangan anggota parlemen bahwa mereka akan menjadi sasaran serangan.
Pada awal tahun ini, Albanese sendiri harus dievakuasi dari kediaman resminya akibat ancaman bom. Hingga Agustus, sekitar 20 kasus terkait orang-orang yang dituduh melontarkan ancaman kekerasan terhadap dirinya masih diproses di berbagai pengadilan di seluruh Australia.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah politisi Australia menerima kiriman peluru melalui pos. Anggota parlemen perempuan, bahkan anak-anak mereka dalam beberapa kasus, mendapat ancaman kekerasan seksual. Kantor seorang anggota parlemen Yahudi menjadi sasaran serangan bom api, mobil seorang wali kota Sydney dibakar, dan tempat kerja banyak politisi lainnya dirusak.
Pekan lalu, Menteri Usaha Kecil Anne Aly mengatakan dirinya menerima gelombang ancaman pembunuhan setelah seorang politisi oposisi menyatakan bahwa ia seharusnya “dipermalukan dan dirajam di lapangan” terkait kebijakan perpajakan.
Menurut statistik pemerintah, terdapat 1.067 laporan mengenai “perilaku melecehkan dan mengancam” terhadap para pemegang jabatan tinggi selama periode satu tahun hingga Juni. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kita cenderung mengabaikan masalah ini dan mengatakan, ‘Itu tidak akan terjadi di sini’. Padahal, hal ini sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade,” kata Josh Roose, profesor ekstremisme kekerasan di Deakin University.
Menurut Roose, sejumlah faktor mendorong tren tersebut, termasuk tekanan sosial ekonomi, meningkatnya masalah kesehatan mental di masyarakat, keberadaan para pencari keuntungan yang memanfaatkan dan memperburuk keresahan demi kepentingan politik atau finansial, serta lingkungan daring yang ia gambarkan sebagai “karsinogenik”, atau merusak seperti zat pemicu kanker.
Ia mengatakan situasi tersebut memburuk secara drastis sejak pandemi.
Namun, Roose menambahkan bahwa kalangan politisi juga harus bertanggung jawab atas peran mereka dalam perkembangan situasi ini.
“Kita melihat adanya kesediaan untuk melanggar batas-batas yang sebelumnya dianggap sakral, seperti tidak menargetkan individu dan tidak menyerang keluarga mereka. Namun, sekarang kita melihat hal itu menjadi bagian dari kehidupan politik Australia,” ujarnya.
“Fenomena ini terjadi di kedua ujung spektrum politik.”
Roose dan para pakar lainnya memperingatkan bahwa ancaman tidak hanya membahayakan politisi. Jurnalis, akademisi, pejabat pengadilan, dan tokoh publik lainnya juga rentan menjadi sasaran.
Kepala badan intelijen domestik Australia, Asio, Mike Burgess, telah bertahun-tahun memperingatkan bahwa ancaman kekerasan politik semakin membayangi Australia.
“Sebagaimana perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem tanpa bisa memprediksi badai tertentu, kekerasan yang bermotif politik, termasuk aksi terorisme, semakin mungkin terjadi meskipun kita tidak dapat memprediksi serangan tertentu,” kata Burgess dalam penilaian ancaman tahunan untuk 2026.
Kepolisian federal juga menyatakan bahwa ideologi bukan satu-satunya faktor yang mendorong kasus-kasus semacam ini belakangan ini. Perasaan diperlakukan tidak adil atau menyimpan keluhan, yang disebut grievance, juga dapat mendorong seseorang menuju radikalisasi.
“Mereka merasa terasing, merasa sendirian, dan mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan agar hidup mereka memiliki makna dan tujuan,” kata Komisaris Kepolisian Federal Australia Krissy Barrett kepada ABC awal bulan ini.
Setelah serangan terhadap Haines, sejumlah anggota parlemen mengungkapkan bahwa mereka menyamar ketika berada di tempat umum, mengunci pintu kantor, dan mengamati setiap kerumunan untuk mencari kemungkinan ancaman.
Anggota parlemen perempuan menghadapi ketakutan yang lebih besar, kata Georgie Purcell, anggota parlemen negara bagian Victoria yang sebagian daerah pemilihannya sama dengan wilayah Haines.
“Menjadi perempuan dalam politik mengubah cara kita menjalani kehidupan sehari-hari. Kami mempertimbangkan tempat memarkir mobil, rute perjalanan pulang, dan apakah kami akan mengadakan acara publik,” katanya dalam sebuah pernyataan.
“Bagi banyak dari kami, berita ini adalah mimpi buruk terburuk kami.”
Senator dari koalisi oposisi, James Paterson, mengatakan kepada News24, “Saya ingin mengatakan bahwa saya terkejut, tetapi sebenarnya saya sama sekali tidak terkejut.”
Sejumlah anggota parlemen di Canberra juga menyuarakan kekecewaan karena pengaturan keamanan dinilai belum menyesuaikan diri dengan perubahan situasi. Jika penyelidikan memastikan bahwa serangan terhadap Haines bermotif politik, salah satu prinsip terpenting dalam budaya politik Australia bisa berada dalam bahaya.
Di Australia, bukan hal yang aneh jika warga bertemu anggota parlemen daerah mereka ketika berbelanja atau berbincang dengan mereka saat menonton pertandingan olahraga. Banyak anggota parlemen juga membuka kantor mereka bagi konstituen yang ingin menyampaikan keluhan atau berbagi gagasan.
Albanese mengatakan pada Senin malam bahwa Haines dikenal luas dan dihormati karena keterbukaannya dalam berinteraksi dengan masyarakat.
“Di Australia, merupakan hal yang baik jika para politisi dapat menjalani kehidupan bermasyarakat dan berinteraksi dengan warga,” katanya.
“Saya tidak ingin melihat sistem politik ketika seseorang tidak bisa lagi berbincang dengan politisi di supermarket, di jalan, dalam pertemuan warga, atau forum publik. Itu merupakan bagian penting dari demokrasi kita.”
