Pertumbuhan ekonomi China meningkat dalam tiga bulan hingga akhir September, pulih dari level terendah dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan industri kecerdasan buatan (AI) yang mendorong ekspor menjadi salah satu faktor utama di balik perbaikan tersebut.
Menurut data resmi pemerintah China, ekonomi negara dengan ukuran terbesar kedua di dunia itu tumbuh 4,5 persen pada kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 4,3 persen pada kuartal sebelumnya, tetapi masih di bawah ekspansi 5 persen yang tercatat pada periode Januari hingga Maret.
Pertumbuhan terbaru itu berada di batas bawah target pertumbuhan tahunan Beijing, yakni 4,5 hingga 5 persen. Para analis menilai target tersebut memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengatasi berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi negara tersebut.
Ekspor membantu mengimbangi lemahnya belanja domestik. Namun, ketegangan perdagangan global dan ketidakpastian terkait investasi di sektor AI masih membayangi prospek ekonomi China.
Biro Statistik Nasional China pada Senin mengatakan perekonomian negara itu “mempertahankan pembangunan yang stabil di tengah tekanan” serta menunjukkan “momentum melalui sumber pertumbuhan baru dan struktur ekonomi yang semakin membaik”.
Seiring meningkatnya ekspor, surplus perdagangan China, yakni selisih antara nilai barang dan jasa yang dijual ke luar negeri dengan yang dibeli dari negara lain, diperkirakan melampaui rekor US$1,2 triliun atau sekitar Rp19,8 kuadriliun yang tercatat tahun lalu.
Namun, data resmi juga menunjukkan investasi properti turun lebih dari 20 persen dalam sembilan bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perekonomian China masih kesulitan keluar dari kemerosotan sektor properti yang telah berlangsung lama. Kondisi tersebut terjadi setelah bertahun-tahun pembangunan berlebihan dan praktik pinjaman yang melampaui kemampuan keuangan oleh pengembang swasta.
Investasi pada masyarakat: Dapatkah langkah baru China untuk meningkatkan belanja memulihkan perekonomian?
Faisal Islam: Mengapa China dan AI membuat para petinggi keuangan global khawatir?
Industri teknologi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi China dalam beberapa kuartal terakhir.
Permintaan global terhadap cip komputer dan berbagai komponen lain yang digunakan untuk membangun pusat data AI membantu mengurangi tekanan terhadap Beijing sekaligus meredam dampak lemahnya konsumsi domestik.
Perusahaan-perusahaan China semakin mengandalkan ekspor di tengah kemerosotan sektor properti yang berkepanjangan, pertumbuhan upah yang lemah, serta tingginya pengangguran di kalangan anak muda. Faktor-faktor tersebut terus menekan belanja konsumen di dalam negeri.
Pada September, pemerintah China mengumumkan serangkaian langkah dukungan ekonomi, termasuk penurunan suku bunga bagi sejumlah pelaku usaha dan pemberian subsidi kepada pembeli properti. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mendorong aktivitas ekonomi.
Namun, Beijing menghadapi reaksi keras dari sejumlah negara dan kawasan ekonomi Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Para produsen di wilayah tersebut kesulitan bersaing dengan masuknya barang-barang China dalam jumlah besar dengan harga murah.
Kekhawatiran juga muncul terkait miliaran dolar yang diinvestasikan untuk membangun infrastruktur AI. Pertanyaan utama yang dihadapi industri ini adalah apakah perusahaan-perusahaan yang menggelontorkan dana tersebut mampu memenuhi janji mereka untuk menghasilkan keuntungan yang sangat besar.
