Ketika penggunaan vape mulai populer di sekolah Gracey Mungulu, ia terang-terangan mengatakan bahwa dirinya merasa jijik terhadap kebiasaan tersebut, sama seperti ketika melihat orang merokok.
“Saya benar-benar dulu sering berkata kepada orang-orang, ‘Ih, kenapa kalian melakukan itu?’” ujarnya.
Namun, Gracey mengatakan kebiasaan tersebut menjadi begitu umum di kalangan teman-teman sekelasnya hingga ia ikut mencobanya pada usia 16 tahun. Padahal, saat pertama kali mencoba, ia justru terbatuk-batuk dan tidak menghirup uapnya.
“Semakin sering melihat orang melakukannya, semakin sering pula kita mulai mencoba. Lama-kelamaan, saya terbiasa dan akhirnya melakukannya sepanjang waktu,” kata Gracey.
Kini, pada usia 21 tahun, ia membeli vape isi ulang setiap hari dan menggunakannya setiap kali tangannya tidak sibuk bekerja sebagai penata rambut maupun menjalankan pekerjaannya di sebuah sekolah.
Gracey termasuk di antara lebih dari satu juta orang di Inggris yang mengaku tidak pernah merokok, tetapi kini menggunakan vape, berdasarkan data survei terbaru Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS). Jumlah tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.
Ketika pertama kali dipasarkan, vape dipandang sebagai alat untuk membantu perokok berhenti mengonsumsi rokok konvensional.
Penggunaan vape yang mengandung nikotin, zat dengan tingkat kecanduan tinggi, dinilai lebih rendah risikonya dibandingkan rokok konvensional. Namun, menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), dampak jangka panjangnya masih belum diketahui secara jelas.
Lantas, mengapa orang seperti Gracey, yang tidak pernah merokok, justru mulai menggunakan vape?
Perempuan asal London itu meyakini vape membantunya ketika mengalami kecemasan dalam situasi sosial.
“Ini soal gerakan tangan. Ada sesuatu yang dipegang, ada sesuatu di dalam mulut,” katanya.
Seperti rokok, vape yang digunakan Gracey mengandung nikotin. Zat adiktif ini dapat memicu gejala putus nikotin, seperti mudah tersinggung dan kecemasan, ketika kadarnya dalam tubuh menurun.
Gracey mengatakan penggunaan vape telah menjadi “kebiasaan yang dilakukan tanpa berpikir”.
Ketika menerima panggilan BBC News untuk membicarakan artikel ini, ia mengaku baru menyadari bahwa dirinya sedang berbaring di tempat tidur dengan vape di satu tangan, sementara tangan lainnya menggulirkan konten di Instagram tanpa memikirkan apa yang sedang dilakukannya.
Dokter umum Helen Wall mengatakan aspek kebiasaan dalam penggunaan vape secara rutin merupakan hal yang sering ia dengar dari pasiennya.
“Ada semacam ketergantungan psikologis pada sesuatu yang lain untuk membantu mengatur emosi mereka,” ujarnya.
Seperti Gracey, Malin Andersson, yang baru-baru ini berhenti menggunakan vape, mengatakan kebiasaan tersebut berjalan beriringan dengan perilaku menggulirkan konten negatif di internet secara terus-menerus atau doomscrolling.
Malin juga pernah mencoba rokok konvensional, tetapi tidak pernah menganggap dirinya sebagai perokok.
Pada usia 33 tahun, ia termasuk dalam kelompok usia yang paling mungkin menggunakan vape. Laporan ONS menunjukkan bahwa hampir satu dari enam orang berusia 25 hingga 34 tahun di Inggris kemungkinan menggunakan rokok elektrik setiap hari atau sesekali.
Aktivis antikekerasan dalam rumah tangga sekaligus mantan peserta acara televisi Love Island itu mulai menggunakan vape ketika menghadapi perpisahan yang penuh tekanan dan mencari sesuatu untuk memberikan kenyamanan. Ia meyakini gerakan fisik saat menggunakan vape menjadi faktor yang membuatnya kecanduan.
“Ini seperti mendapatkan dorongan dopamin. Vape benar-benar seperti empeng versi orang dewasa,” kata Malin.
Ia mengatakan kebiasaan tersebut membuatnya merasa tumpul dan kehilangan motivasi.
Malin akhirnya sangat frustrasi karena terus bergantung pada vape rasa pisang es hingga memutuskan berhenti pada Mei tahun ini.
“Saya sangat kesal karena benda itu selalu ada di tangan saya. Sampai-sampai saya melemparkannya ke seberang ruangan,” ujarnya.
Alex, yang berasal dari Manchester, juga perlahan membentuk kebiasaan menggunakan vape. Awalnya, perempuan itu hanya sesekali menggunakannya ketika pergi keluar pada malam hari. Namun, lama-kelamaan, ia mulai membawa vape pulang.
Perempuan berusia 26 tahun yang tidak ingin menyebutkan nama belakangnya itu mengatakan vape akhirnya menjadi bagian yang terus-menerus hadir dalam kehidupannya. Ia bahkan bekerja sambil “berbaring di tempat tidur dengan laptop di depan saya dan vape di atas dada”.
Profesor Sarah Jackson dari Kelompok Riset Alkohol dan Tembakau University College London (UCL) mengatakan angka terbaru ONS mungkin memunculkan kekhawatiran. Namun, sebagian orang dalam kelompok tersebut kemungkinan akan mulai merokok jika sebelumnya tidak beralih menggunakan vape.
“Dalam hal itu, penggunaan vape telah mengalihkan mereka dari perilaku yang lebih berbahaya, dan itu merupakan kabar baik. Di sisi lain, ada pula orang-orang yang justru terpapar risiko lebih besar dibandingkan jika mereka tidak menggunakan vape,” ujarnya.
Jackson merujuk pada penelitian para peneliti UCL pada 2024 yang menemukan bahwa penggunaan nikotin di kalangan orang dewasa muda di Inggris meningkat, meskipun jumlah perokok konvensional menurun.
“Kita dapat menyimpulkan dari temuan itu bahwa sebagian orang yang menggunakan vape mungkin tidak akan merokok jika tidak mulai menggunakan vape,” kata Jackson.
Laporan ONS menyebutkan sekitar 5,4 juta orang berusia 16 tahun ke atas menggunakan vape di Inggris Raya. Sementara itu, jumlah perokok dari berbagai kelompok usia terus menurun secara bertahap. Saat ini, sekitar 4,9 juta orang dewasa di Inggris menggunakan rokok konvensional.
Inggris berupaya menekan angka merokok sekaligus mengurangi daya tarik vape bagi anak-anak dan kaum muda.
Pemasaran vape, yang selama ini menampilkan warna-warna cerah dan beragam rasa manis, sedang ditinjau. Pemerintah baru-baru ini menggelar konsultasi mengenai sejumlah langkah baru dan diperkirakan akan menyampaikan tanggapannya dalam waktu dekat.
Hazel Cheeseman dari organisasi amal Action on Smoking and Health mengatakan bahwa di antara 1,1 juta pengguna vape yang tidak pernah merokok, “kemungkinan ada kelompok yang tidak akan menggunakan vape jika pemasaran produk tersebut tidak begitu gencar”.
NHS memperingatkan orang yang tidak merokok serta mereka yang berusia 17 tahun ke bawah agar tidak menggunakan vape. Membeli vape juga ilegal bagi siapa pun yang berusia di bawah 18 tahun.
Vape sekali pakai, yang dianggap sebagai salah satu faktor utama peningkatan penggunaan vape di kalangan anak muda, telah dilarang sejak tahun lalu. Wall mengatakan pemasaran vape yang gencar dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat “kesalahpahaman” bahwa produk tersebut aman dan tidak menyebabkan kecanduan.
Gracey berpendapat bahwa vape seharusnya dijual menggunakan kemasan polos dengan standar yang sama seperti rokok konvensional karena tampilannya akan membuat produk tersebut “terlihat menakutkan”.
“Vape memiliki begitu banyak rasa dan warna yang menarik. Hal itu justru membuat kita semakin tertarik untuk menggunakannya,” katanya.
Gracey mengatakan penggunaan vape dianggap jauh lebih dapat diterima secara sosial oleh generasinya dibandingkan merokok. Meski demikian, ia menganggap kebiasaannya sendiri bermasalah dan telah mempertimbangkan untuk berhenti demi menghemat biaya sebesar 35 pound sterling (sekitar Rp750 ribu) per minggu.
Namun, sama seperti berhenti merokok, menghentikan penggunaan vape juga bisa menjadi perjuangan tersendiri. Dalam kasus Alex, penggunaan vape justru membawanya kembali ke kebiasaan merokok.
Ia mengatakan sempat berhasil berhenti menggunakan vape selama bepergian selama beberapa bulan. Namun, karena tidak memiliki akses terhadap vape, ia justru mulai merokok untuk pertama kalinya.
Para ahli tidak menganggap rokok konvensional sebagai cara yang sehat atau efektif untuk menghentikan penggunaan vape. NHS sangat menyarankan masyarakat untuk berhenti merokok, yang hingga kini masih menjadi penyebab utama penyakit yang dapat dicegah dan kematian dini di Inggris.
Untuk berhenti menggunakan vape, NHS menyarankan beberapa langkah, antara lain mengurangi kadar nikotin dalam vape secara bertahap, memperpanjang jeda waktu antara setiap sesi penggunaan, atau beralih ke produk terapi pengganti nikotin yang sesuai.
Namun, dukungan profesional untuk membantu orang berhenti menggunakan vape masih belum merata. Sebuah survei terbaru menemukan bahwa kurang dari separuh penyedia layanan kesehatan di Inggris, yakni 45 persen, menawarkan dukungan untuk menghentikan penggunaan vape. Ketersediaan layanan serupa di wilayah lain di Inggris Raya juga masih beragam.
Wall mengatakan penurunan jumlah perokok merupakan perkembangan positif. Namun, bagi orang-orang seperti Gracey yang langsung beralih ke vape tanpa pernah merokok, sebagian pesan kesehatan masyarakat tampaknya belum tersampaikan dengan baik.
“Vape sejak awal hanya dimaksudkan oleh NHS sebagai pengganti rokok konvensional.”
