Jantar Mantar, Pusat Aksi Protes di India Selama Tiga Dekade, Kini Ditutup untuk Demonstrasi
Apa tujuan sebuah demonstrasi? Menyuarakan penolakan terhadap ketidakadilan? Menarik perhatian terhadap suatu isu? Atau membuat pihak yang berkuasa merasa cukup tertekan hingga bersedia mendengarkan tuntutan masyarakat?
Selama lebih dari tiga dekade, warga India telah berusaha melakukan ketiganya di sebuah jalan sempit yang dikelilingi pepohonan, dekat Jantar Mantar, observatorium astronomi abad ke-18 di Delhi.
Namun, tradisi itu kini terancam berakhir.
Pekan ini, Kepolisian Delhi menyatakan bahwa Jantar Mantar, yang terletak tidak jauh dari gedung parlemen, tidak lagi ditetapkan sebagai lokasi resmi demonstrasi.
Keputusan tersebut diambil beberapa bulan setelah Cockroach Janta Party (CJP), kelompok yang dipimpin generasi Z dan bukan merupakan partai politik resmi, menggelar demonstrasi besar-besaran di lokasi itu. Kelompok yang awalnya terbentuk sebagai lelucon tersebut menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan pemerintah pusat, Dharmendra Pradhan. Puluhan ribu orang menghadiri aksi itu dan Pradhan kemudian mengundurkan diri.
Tidak lama setelah demonstrasi tersebut, polisi memasang barikade di Jantar Mantar untuk mencegah aksi lanjutan. Pekan lalu, upaya pendukung CJP untuk berbaris menuju lokasi itu, kali ini guna menuntut pengunduran diri kepala penyelenggara pemilu India, berakhir dengan tindakan represif polisi.
Para demonstran kini diarahkan ke tiga lokasi lain. Dua di antaranya terletak jauh dari gedung parlemen, sedangkan lokasi ketiga, Lapangan Ramlila yang sangat luas, sering kali sudah dipesan berbulan-bulan sebelumnya. Berbeda dengan Jantar Mantar yang dapat digunakan secara gratis, ketiga lokasi alternatif tersebut mengenakan biaya hingga puluhan ribu rupee per hari.
Kepolisian Delhi mengatakan keputusan itu diambil setelah Mahkamah Agung menyarankan pemerintah untuk menetapkan lokasi alternatif dengan infrastruktur yang memadai. Namun, para pengkritik menilai kebijakan tersebut berpotensi membuat demonstrasi semakin sulit dijangkau masyarakat biasa, menjauhkannya dari pusat kekuasaan, serta memindahkan aksi ke tempat-tempat yang tidak mampu mereka sewa.
Selama bertahun-tahun, Jantar Mantar menjadi saksi berbagai aksi, mulai dari gerakan massa yang mengguncang pemerintahan hingga demonstrasi kecil yang diikuti segelintir orang yang putus asa karena tuntutannya tidak didengar. Petani, mahasiswa, orang tua yang kehilangan anak, dan mantan tentara berkumpul di bawah pepohonannya sambil membawa poster dan meneriakkan slogan.
Tidak semua demonstrasi menjadi berita utama. Namun, bagi banyak orang, Jantar Mantar menjadi tempat untuk menyampaikan aspirasi ketika semua jalur lain telah tertutup.
Ketika mengunjungi lokasi tersebut pekan ini, pemandangan itu terasa seperti kenangan dari masa lalu. Barikade kuning menutup kedua ujung jalan, sementara ratusan personel paramiliter berjaga dengan tongkat pemukul di tangan.
Di sebuah gang di dekatnya, sejumlah petugas berseragam duduk di toko sambil minum teh atau menggulir layar ponsel. Di salah satu dari sedikit toko yang tidak ditempati polisi, pemiliknya merapatkan kedua telapak tangan sebagai tanda penolakan dan mengatakan tidak ingin menjawab pertanyaan apa pun.
Jantar Mantar dibangun oleh Maharaja Sawai Jai Singh II pada 1720-an. Tempat itu dahulu lebih dikenal sebagai objek wisata daripada lokasi tempat berbagai gerakan perubahan sosial diperjuangkan.
Sejarahnya sebagai lokasi demonstrasi dimulai pada 1993, ketika pemerintahan Partai Kongres yang berkuasa saat itu melarang demonstrasi di lapangan Boat Club, tepat di seberang gedung parlemen lama.
Sejarawan Harleen Kaur menelusuri bagaimana berbagai pemerintahan India, sejak dekade 1960-an, secara bertahap menerapkan aturan baru yang memindahkan lokasi demonstrasi di Delhi semakin jauh dari gedung parlemen.
“Jantar Mantar, yang berjarak 3 kilometer dari gedung parlemen, memungkinkan pemerintah membatasi kerumunan demonstran pada jarak tertentu dari gedung parlemen dan kediaman perdana menteri,” tulisnya dalam sebuah makalah pada 2023.
Meski demikian, jalan tersebut menjadi lokasi berbagai demonstrasi penuh semangat selama bertahun-tahun.
Rachna Dhingra, seorang aktivis dari Bhopal Group for Information and Action, kelompok advokasi bagi para penyintas bencana kebocoran gas pada 1984, pernah berkemah di Jantar Mantar bersama ratusan orang lainnya selama sekitar lima bulan pada 2008. Mereka berusaha mendesak pemerintah memenuhi sejumlah tuntutan, termasuk membentuk komisi untuk mengalokasikan sumber daya bagi program rehabilitasi.
Di tengah musim panas yang terik, mereka menggelar konferensi pers, menemui para politikus, bahkan merantai diri mereka ke pagar di seberang kediaman perdana menteri saat itu, Manmohan Singh, untuk menarik perhatian terhadap perjuangan mereka.
Jantar Mantar juga menjadi tempat Dhingra membangun solidaritas dengan kelompok-kelompok lain, mulai dari warga Tibet yang memprotes China, aktivis yang menentang penggusuran masyarakat akibat pembangunan bendungan besar, hingga demonstran tunggal yang datang naik kereta dari kampung halaman mereka hanya dengan membawa poster dan keluhan.
“Berunjuk rasa bisa terasa sepi, tetapi tempat itu menjadi rumah bagi begitu banyak orang seperti kami. Kami berbagi cerita, perjuangan, dan kemenangan satu sama lain,” kata Dhingra.
Dipa Sinha, akademisi yang terlibat dalam kampanye Hak atas Pangan, menyaksikan sejumlah undang-undang penting mulai diperjuangkan di Jantar Mantar. Di antaranya adalah program jaminan pekerjaan pedesaan yang bersejarah, Undang-Undang Keamanan Pangan Nasional, dan Undang-Undang Hak atas Hutan.
“Tempat itu memungkinkan kami mendiskusikan berbagai persoalan dengan orang-orang yang datang ke Delhi dari seluruh penjuru negeri,” katanya.
Para demonstran biasanya menggelar aksi di luar kantor-kantor pemerintah, termasuk Komisi Perencanaan yang kini sudah dibubarkan dan Kementerian Pertanian. Mereka kerap ditahan polisi sebelum kembali ke Jantar Mantar untuk berkumpul, berdiskusi, dan menyusun strategi.
Namun, mempertahankan demonstrasi selama berbulan-bulan bukanlah perkara mudah.
Dhingra mengatakan mereka berlindung di bawah terpal ketika hujan turun, menggunakan toilet umum di sekitar lokasi, dan mendatangi gurdwara, tempat ibadah umat Sikh, di dekatnya untuk membersihkan diri.
Pada 2017, Pengadilan Hijau Nasional India memerintahkan penghentian demonstrasi di Jantar Mantar. Putusan itu didasarkan pada minimnya infrastruktur serta keluhan warga yang tinggal di sekitarnya.
Setahun kemudian, Mahkamah Agung membatalkan keputusan tersebut dengan mengacu pada hak atas kebebasan berbicara dan berkumpul secara damai yang dijamin konstitusi.
Ketika ditanya apakah kedekatan Jantar Mantar dengan gedung parlemen berpengaruh terhadap perjuangan mereka, Dhingra mengingat perkataan rekan-rekan demonstrannya yang baru pertama kali datang ke Delhi.
“Itu rumah presiden? Apakah perdana menteri tinggal di sana? Bagaimana mungkin mereka tidak mendengarkan kami ketika kami sudah berada tepat di depan gerbang mereka?” kenangnya menirukan perkataan mereka.
Sinha menambahkan bahwa Jantar Mantar juga terletak dekat dengan sejumlah institusi, seperti Press Club dan Constitution Club. Kedekatan itu memudahkan demonstran mendapatkan liputan media serta memungkinkan para politikus datang menemui mereka.
Saat itu, prosedurnya jauh lebih sederhana. Terkadang, mereka baru meminta izin kepada polisi pada pagi hari sebelum demonstrasi dimulai.
Namun, aturan tersebut kini menjadi jauh lebih ketat.
Dalam beberapa tahun terakhir, ketika Dhingra mencoba menggelar demonstrasi di Jantar Mantar, ia diberi tahu bahwa tidak seorang pun boleh bermalam di lokasi itu.
“Ke mana ratusan orang yang telah menempuh perjalanan jauh ke ibu kota untuk berdemonstrasi harus pergi?” tanyanya.
Meskipun Jantar Mantar memiliki banyak pendukung, sebagian orang mengenang budaya demonstrasi yang jauh lebih semarak pada masa sebelumnya.
Mary E John, seorang akademisi bidang studi gender yang pernah tinggal di Delhi sebagai mahasiswa maupun akademisi, mengatakan bahwa sebelum 1993, ia menghadiri demonstrasi di Boat Club untuk memperjuangkan berbagai isu, mulai dari hak-hak pekerja dan persoalan perempuan hingga masalah internasional.
“Kami hidup dalam suasana ketika demonstrasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, kami menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa,” katanya.
Ketika lapangan luas Boat Club digantikan oleh Jantar Mantar sebagai lokasi demonstrasi, tempat baru itu justru terasa “menyesakkan”, ujarnya.
Ia menekankan bahwa dirinya dan para demonstran dari generasi sebelum maupun sesudahnya tidak hanya beraksi di Jantar Mantar. Mereka juga menggelar demonstrasi di berbagai tempat, termasuk universitas, perguruan tinggi, dan jalanan.
Menurutnya, pola tersebut masih terlihat dalam demonstrasi petani yang berkemah selama berbulan-bulan di perbatasan Delhi, serta aksi warga yang menduduki kawasan Shaheen Bagh untuk menuntut pencabutan undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial.
Bahkan, demonstrasi menentang pemerkosaan pada 2012 tidak terbatas di Jantar Mantar. Aksi tersebut hampir mencapai kompleks kediaman presiden India yang dijaga ketat dan meluas ke berbagai wilayah lain di Delhi.
Masa depan Jantar Mantar sebagai lokasi demonstrasi kini belum jelas. Mahkamah Agung sedang memeriksa sejumlah permohonan yang menentang pencabutan statusnya sebagai tempat resmi untuk berunjuk rasa.
Pemimpin oposisi Rahul Gandhi dan para pemimpin CJP menyatakan bahwa Jantar Mantar adalah milik rakyat dan berjanji akan merebutnya kembali.
Di tengah perdebatan yang terus berlangsung, Jantar Mantar kini berada dalam keadaan paling sunyi selama beberapa dekade terakhir. Akankah slogan-slogan demonstran kembali menggema di sana?
