Seorang penulis lagu tidak pernah benar-benar berhenti mencari inspirasi, bahkan pada hari pernikahannya sendiri. Hal itu dialami penyanyi pop asal Amerika Serikat, Ashe.
Pada Oktober tahun lalu, ia sedang bersiap menikah dalam sebuah upacara indah di atas bukit di Nashville ketika sebuah inspirasi muncul.
Saat menyaksikan keluarganya berkumpul, musisi tersebut teringat pada pernikahan pertamanya, hampir satu dekade sebelumnya. Perbedaan antara kedua pengalaman itu terasa sangat mencolok.
Ashe menyebut pernikahan pertamanya sebagai pengalaman yang “mengerikan”. Mantan suaminya, yang ia kenal saat masih kuliah, disebutnya melakukan manipulasi emosional dan kekerasan psikologis.
Pria tersebut bersikeras menggelar pernikahan di tepi pantai. Sekilas, gagasan itu terdengar romantis, sampai diketahui bahwa Ashe justru memiliki ketakutan terhadap laut.
Menjelang hari pernikahan, Ashe sempat ingin membatalkannya. Namun, saat itu ia merasa tidak berdaya untuk memperjuangkan keinginannya sendiri.
Pada hari pernikahan keduanya, ia menyadari bahwa situasinya kini berbeda.
“Saya berada dalam hubungan yang bahagia dan sehat, serta memiliki kendali penuh atas hidup saya sendiri,” kata penyanyi yang kini berusia awal 30-an tersebut.
“Saya berpikir, jika sesuatu terasa tidak benar, saya benar-benar bisa menghentikan semuanya. Saya jelas tidak memiliki kebebasan seperti itu saat pernikahan pertama.”
Saat merapikan kerudung pengantinnya dan bersiap berjalan menuju altar, Ashe menyimpan perasaan tersebut dalam ingatannya.
Dua bulan kemudian, ketika kembali bekerja, gagasan itu muncul lagi dan mengalir menjadi sebuah lagu.
Judulnya? Stop the Wedding.
Lagu tersebut berkembang seperti sebuah adegan film. Ashe seolah memohon kepada dirinya yang lebih muda agar memercayai nalurinya sendiri.
“Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan. Kamu tidak perlu menyia-nyiakan hidupmu,” demikian penggalan lirik yang dinyanyikannya, ketika musik dari band pengiring pernikahan perlahan terhenti dengan nada yang penuh ketidakpastian.
“Apakah saya berharap mendapat nasihat seperti itu saat itu? Seribu persen,” kata Ashe.
“Seandainya ada seseorang yang memberi tahu saya bahwa saya tidak terjebak dan bisa pergi, saya mungkin dapat mengubah keadaan lebih cepat. Mungkin bukan tepat di altar, tetapi beberapa pekan sebelumnya. Nasihat seperti itu benar-benar sesuatu yang saya butuhkan.”
Bagaimana dengan lirik yang menyatakan bahwa ia akan “membakar gaun pengantin dan melarikan diri”?
“Saya memang tidak membakar gaun saya,” katanya sambil tertawa. “Namun, setelah meninggalkan mantan suami, saya pernah masuk ke bak mandi sambil mengenakan gaun itu untuk sebuah pemotretan. Gaunnya benar-benar rusak!”
Dirilis pada Agustus, Stop the Wedding pekan ini masuk dalam 10 lagu yang paling banyak diputar di dunia melalui Spotify.
Pada Jumat, lagu tersebut menembus lima besar tangga lagu singel Inggris. Sementara itu, di TikTok, ribuan video menggunakan lagu Ashe untuk menyoroti tanda-tanda bahaya atau red flags dalam hubungan mereka sendiri.
“Saya rasa saya bahkan tidak pernah berani membayangkan hal ini,” kata Ashe mengenai popularitas lagunya.
“Ini adalah sesuatu yang diharapkan ketika pertama kali memulai karier. Namun, setelah berkecimpung di industri musik selama 10 tahun, pencapaian seperti ini terasa cukup mengejutkan.”
Kesuksesan tersebut terasa semakin berarti karena tiga tahun lalu Ashe hampir sepenuhnya meninggalkan dunia musik.
‘Saya Harus Menghentikan Semuanya’
Lahir di San Jose, Ashe tumbuh dalam keluarga konservatif yang selalu menyetel radio ke stasiun-stasiun Kristen.
Kakeknya memperkenalkannya pada musik rock dengan memutar lagu-lagu Tom Petty dan Bob Dylan selama perjalanan jauh menggunakan mobil. Ketika memasuki usia remaja, Ashe mulai menulis lagunya sendiri.
Setelah mempelajari komposisi musik orkestra di Berklee College of Music, Boston, ia pindah ke Nashville dan dengan cepat mendapatkan pekerjaan sebagai penulis lagu.
Salah satu kredit awalnya adalah lagu Demi Lovato berjudul You Don’t Do It for Me Anymore, yang dirilis pada 2017. Namun, seiring waktu, Ashe mulai frustrasi karena lagu-lagu yang ditulisnya justru dinyanyikan oleh orang lain.
Keputusan untuk tampil sebagai Ashe, nama panggung dari Ashlyn Rae Willson, tidak terjadi dalam semalam. Ia sempat menjadi vokalis tamu dalam sejumlah lagu dansa sebelum akhirnya menekuni karier solo.
Suaminya saat itu tidak mendukung keputusan tersebut.
“Saya ingat dia pernah berkata, ‘Setelah ini, tidak akan ada lagi orang yang mencintaimu apa adanya. Siapa pun yang kamu temui sekarang akan mengenalmu sebagai Ashe, sedangkan saya mengenalmu sebelum itu’.”
“Itu benar-benar manipulatif dan membuat saya terjebak. Saya terjebak dalam situasi itu untuk waktu yang sangat lama,” ujarnya.
Bukan kebetulan jika lagu yang ditulisnya setelah menandatangani dokumen perceraian justru menjadi hit yang mengangkat namanya.
Lagu Moral of the Story, dengan penggalan lirik utama “kamu bisa mengira sedang jatuh cinta, padahal sebenarnya kamu hanya sedang terluka”, dirilis pada 2019. Lagu tersebut kemudian mencapai satu miliar kali pemutaran setelah muncul dalam film Netflix populer To All the Boys: P.S. I Still Love You.
Ashe tiba-tiba tampil di tempat-tempat konser yang lebih besar dan berduet dengan Niall Horan. Namun, pekerjaan perlahan menyita hampir seluruh kehidupannya.
Ketika saudara laki-lakinya meninggal akibat overdosis pada 2020, Ashe kembali naik panggung hanya dalam waktu satu bulan.
“Saat itu, karier saya sedang melaju sangat cepat dan saya terlalu sering mengatakan ya untuk berbagai hal,” kenangnya.
“Sampai pada titik ketika memikirkan tur saja sudah membuat saya mengalami serangan panik. Saya bahkan tidak sanggup lagi menjalani kehidupan sebagai Ashe, padahal menyedihkan sekali karena saya adalah dirinya.”
Pada 2023, Ashe mengalami gangguan mental serius dan memutuskan menjauh dari industri hiburan.
“Saya harus menghentikan semuanya. Saya membeli rumah di Nashville, berkebun, menemui terapis, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk merindukan musik.”
Selama enam bulan, ia menjalani kehidupan rumah tangga yang tenang dan jauh dari sorotan publik. Namun, ketika penyanyi pop Suki Waterhouse mengundangnya untuk mengikuti sesi penulisan lagu, gairah Ashe terhadap musik kembali tumbuh.
Ia perlahan kembali berkarya melalui album Wilson pada 2024, sebuah album yang sangat personal dan terbuka mengenai kehidupannya. Setelah itu, ia bekerja sama dengan Finneas O’Connell, saudara laki-laki Billie Eilish, untuk membentuk grup The Favors, sebelum menandatangani kontrak baru dengan Atlantic Records.
Pengalaman tersebut membuat Ashe menyikapi kesuksesan Stop the Wedding dengan cara yang sangat berbeda.
“Orang bisa terbawa oleh semua pemberitahuan di ponsel, tetapi kali ini saya berusaha mengelola emosi yang muncul. Saya juga tetap berjalan kaki sejauh sekitar 6,4 kilometer dan menelepon ibu saya.”
“Ada rasa membumi yang nyata,” katanya.
Namun, pendekatan tersebut tidak tercermin dalam album terbarunya, Girl of Your Dreams, yang hadir dengan gaya nyaris berlebihan dan penuh kemegahan.
Stop the Wedding menjadi gambaran awal album tersebut, dengan perubahan tempo mendadak yang menggambarkan gejolak batin Ashe. Lagu Lasso the Moon menghadirkan suasana yang lebih jenaka, dengan memaparkan berbagai persyaratan tidak biasa yang ia inginkan dari pasangan baru.
“Jangan sampai saya menaikkan standar dalam memilih pasangan,” katanya sambil tertawa.
Lagu Love Bomb mengeksplorasi psikologi mantan pasangan yang manipulatif, yang sosoknya mudah ditebak. Sementara itu, Swan Lake menggambarkan sisi posesif Ashe secara komikal, seolah-olah dirinya adalah penjahat dalam sebuah cerita. Lagu tersebut bahkan dilengkapi bagian paduan suara yang mengingatkan pada musikal Bugsy Malone.
Album ini sengaja dibuat dengan pendekatan musikal yang maksimalis, mengingatkan pada aransemen orkestra megah milik ELO dan The Carpenters, sekaligus mengambil inspirasi dari kebangkitan pop klasik yang juga diusung sahabatnya, Laufey.
“Kami sudah sangat bosan membuat musik yang membosankan,” ujarnya.
“Sebagai seorang seniman, saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda dan tidak sekadar mengikuti standar yang sudah ada.”
Album tersebut berakhir dengan kembali mengangkat momen pernikahan keduanya. Lagu penutupnya berfokus pada “cinta yang nyata, tulus, dan konsisten” yang kini ia temukan bersama musisi John Clark Canada.
“Kamu akan menjadi teman saya pada Selasa malam dan dalam perjalanan santai pada Minggu, serta orang yang menyampaikan pidato terakhir di pemakaman saya,” demikian lirik yang dinyanyikannya.
Untuk memperkuat gagasan tersebut, Ashe memasukkan nuansa meriah dari kelompok musik pemakaman khas New Orleans pada bagian akhir lagu.
Sosok yang seolah-olah sedang dimakamkan dalam lagu itu adalah gadis kecewa yang muncul dalam Stop the Wedding.
Album Ashe, Girl of Your Dreams, akan dirilis pada 16 Oktober.
