Anda terbangun. Kepala berdenyut. Lalu muncul gelombang kedua, rasa takut yang samar tetapi menggerogoti tentang apa yang mungkin telah Anda lakukan.
Anda membuka kembali pesan-pesan semalam, yakin bahwa Anda telah mengatakan sesuatu yang keliru.
Anda memutar ulang percakapan dalam pikiran karena khawatir telah menyinggung seseorang, mempermalukan diri sendiri, atau bahkan keduanya.
“Ini adalah rasa takut yang terus mengganggu,” kata Eleanor Tobin, 25 tahun, yang bekerja di bidang pemasaran dan acara di London.
“Jika hari dimulai dengan saya membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan, lalu dengan panik memeriksa apakah saya membawa tas dan ponsel, saya tahu kecemasan itu akan meresap ke segala hal yang saya lakukan, bukan hanya terus mengingat-ingat malam sebelumnya.”
Inilah yang disebut hang-xiety, istilah slang yang mulai digunakan sekitar satu dekade lalu untuk menggambarkan kecemasan yang dapat menyertai kondisi setelah mabuk.
Dan ya, kondisi tersebut memang nyata.
“Alkohol memengaruhi tubuh dalam banyak cara, termasuk otak, tidur, hormon, dan sistem saraf. Semua hal itu membantu menjelaskan mengapa malam yang dihabiskan untuk minum alkohol dapat diikuti pagi yang dipenuhi kecemasan berlebihan,” kata Celia Morgan, profesor psikofarmakologi di University of Exeter.
Apa yang dilakukan alkohol terhadap otak
Alkohol memengaruhi dua pembawa pesan kimiawi di otak, yaitu GABA dan glutamat.
GABA bekerja sedikit seperti sistem pengereman otak dengan mengurangi aktivitas sel saraf. Sementara itu, glutamat berperan dalam meningkatkan aktivitas dan kewaspadaan.
Alkohol meningkatkan efek GABA dan menekan sebagian aktivitas glutamat. Hal ini membantu menimbulkan perasaan rileks dan berkurangnya hambatan yang biasa dirasakan setelah minum.
Namun, otak terus berusaha mengembalikan keseimbangan. Ketika efek alkohol mulai menghilang, sistem saraf dapat beralih ke kondisi yang lebih waspada dan terangsang.
Hal ini dapat memicu kecemasan. “Semuanya selalu terasa 100% lebih buruk dalam pikiran saya ketika sedang mabuk berat dibandingkan kenyataannya,” kata Tobin.
Sebuah penelitian pada 2023 terhadap lebih dari 5.000 mahasiswa dari Inggris dan Belanda menyimpulkan bahwa 18,3% melaporkan gejala kecemasan ketika mengalami kondisi setelah mabuk.
Faktor genetik turut berperan
Penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua orang mengalami hang-xiety, dan tingkat kecemasan tidak selalu berkorelasi secara langsung dengan seberapa banyak alkohol yang diminum pada malam sebelumnya. Karakteristik psikologis yang sudah ada sebelumnya, dan kemungkinan faktor genetik, tampaknya turut berperan.
Pada 2019, peneliti di University of Exeter mempelajari hal ini pada 97 orang yang mengonsumsi alkohol dalam konteks sosial.
Mereka yang minum alkohol mengalami peningkatan kecemasan pada hari berikutnya dibandingkan kelompok kontrol yang tidak minum. Efek tersebut paling kuat pada orang yang sebelum minum memperoleh skor tinggi dalam tingkat rasa malu atau kecenderungan menghindari interaksi sosial.
Penelitian Morgan menemukan bahwa orang yang pemalu sering kali justru merasa lebih tidak cemas selama malam berlangsung. Alkohol memberikan efek yang mereka harapkan, yakni meredakan kegugupan sosial, tetapi efek berbalik muncul keesokan harinya.
“Orang yang pemalu mengalami dampak yang lebih berat pada keesokan paginya, dengan penanda kecemasan yang meningkat tajam, terutama jika dibandingkan dengan mereka yang secara alami tidak pemalu,” kata Morgan.
Kekacauan hormonal dan psikologis
Ada pula lapisan psikologis dalam kondisi tersebut.
Momen-momen yang sebenarnya tidak berarti apa-apa dapat ditafsirkan kembali sebagai sesuatu yang memalukan. Lelucon yang sepenuhnya normal dapat berubah menjadi kesalahan besar ketika terus diputar ulang di dalam pikiran sendiri.
Pusaran kecemasan tersebut dapat bertahan lebih lama daripada gejala fisik karena terus memperkuat dirinya sendiri. Kekhawatiran mengganggu proses berpikir, sementara pikiran yang terganggu menghasilkan lebih banyak kekhawatiran.
Jika Tobin keluar minum pada Jumat dan Sabtu malam, pada Minggu pusaran pikiran tersebut dapat menjadi sangat berat.
“Tiba-tiba naik kereta bawah tanah bisa terasa seperti sebuah tantangan. Hal-hal normal terasa sulit ketika Anda mengalami ‘Sunday scaries’ yang sangat parah akibat dua kali mabuk berturut-turut,” katanya.
Anda mungkin tertidur dengan cepat setelah minum alkohol, tetapi para peneliti memperingatkan bahwa hal tersebut bukan berarti Anda mendapatkan tidur yang berkualitas.
Alkohol mengganggu tidur, termasuk pola tidur rapid eye movement (REM), yang penting untuk mengatur emosi. Bangun dalam kondisi dehidrasi dan kurang tidur membuat kemampuan menghadapi pikiran-pikiran cemas sudah berkurang.
“Tidur yang ringan dan terputus-putus membuat Anda terbangun dengan perasaan gelisah,” kata Dr. Alanna Hare, Presiden British Sleep Society.
“Meski Anda menghabiskan delapan jam di tempat tidur, Anda belum mendapatkan tidur malam yang benar-benar baik, dan otak yang lelah lebih reaktif terhadap kekhawatiran.”
Apa yang sebenarnya membantu?
Saran dari para peneliti mungkin terdengar sederhana, tetapi konsisten. Mengurangi konsumsi alkohol lebih penting daripada mengandalkan obat atau cara apa pun setelah mabuk. Minum air putih di antara minuman beralkohol dapat membantu, begitu pula makan selama malam berlangsung.
Pedoman Inggris merekomendasikan konsumsi alkohol tidak lebih dari 14 unit per minggu, setara dengan sekitar enam pint bir atau enam gelas wine berukuran sedang, yang dikonsumsi dalam beberapa hari.
Direktur Alcohol Change UK, Andrew Misell, mengatakan penting untuk tidak mengandalkan alkohol untuk mengatasi atau menutupi stres.
“Alkohol berubah menjadi depresan dan dapat memperburuk berbagai masalah yang berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental kita,” katanya. Ia menyarankan orang yang kesulitan keluar dari pusaran tersebut untuk berkonsultasi dengan dokter umum. Berbicara dengan teman dekat juga dapat menjadi langkah awal yang baik.
Dan mungkin salah satu cara paling berguna ketika mengalami hang-xiety adalah mengubah cara memandang pikiran tersebut. Menyadari bahwa hang-xiety merupakan kondisi sementara, bukan bukti bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi dalam kehidupan sosial, dapat mengurangi kekuatannya.
Rasa takut itu nyata. Namun, bencana yang seolah ditunjukkannya biasanya tidak benar-benar terjadi.
Jadi, ketika pusaran pikiran pada Minggu pagi kembali muncul, ingatlah bahwa mungkin itu hanya cara otak dan tubuh Anda berusaha mengembalikan keseimbangan setelah terpapar alkohol.
