Salah satu universitas swasta terbesar di India menangguhkan kegiatan perkuliahan setelah tuduhan yang belum terverifikasi bahwa seorang mahasiswi diperkosa di dalam kampus memicu aksi protes yang kemudian berubah menjadi kerusuhan.
Polisi mengatakan telah mendaftarkan kasus dan berupaya memastikan apakah dugaan pemerkosaan yang disebut terjadi pekan lalu di Lovely Professional University (LPU) benar-benar terjadi. Pihak universitas dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Polisi mengatakan belum ada mahasiswa yang datang untuk melaporkan dirinya menjadi korban, penyidik juga belum berhasil mengidentifikasi korban maupun pelaku yang diduga terlibat. Rekaman CCTV yang telah diperiksa sejauh ini juga tidak menunjukkan bukti adanya serangan.
Namun, rumor yang beredar di grup WhatsApp mahasiswa memicu keresahan pada akhir pekan di universitas seluas sekitar 600 hektare di Punjab tersebut. LPU menerima mahasiswa dari berbagai wilayah India dan luar negeri.
Didirikan pada 2005 oleh sebuah keluarga yang bisnisnya bermula dari toko permen kecil, LPU berkembang menjadi kawasan yang sebagian besar berdiri sendiri, terdiri dari asrama dan gedung perkuliahan, dengan ribuan anak muda yang tinggal di dalam kampus.
Gambar dan video yang beredar menunjukkan kendaraan dibakar, kerumunan memenuhi jalan raya utama, serta polisi menggunakan tongkat ketika kerusuhan meluas hingga ke luar gerbang universitas. Kendaraan polisi rusak, sejumlah petugas terluka, dan beberapa bagian kampus mengalami vandalisme.
Pada Senin, jalan raya telah kembali dibuka dan situasi di kampus lebih tenang, tetapi penjagaan polisi masih diperketat.
Pihak universitas menyebut tuduhan yang beredar di media sosial sebagai informasi palsu dan tidak berdasar. Namun, pernyataan tersebut tidak banyak menenangkan mahasiswa. Dalam hitungan jam, asrama mulai kosong. Sejumlah ujian penting ditunda dan mahasiswa diperbolehkan pulang.
Setelah mendapat desakan dari mahasiswa yang berunjuk rasa, polisi mendaftarkan kasus pemerkosaan terhadap “orang yang belum diidentifikasi” dan membentuk tim investigasi khusus beranggotakan tujuh orang, atau Special Investigation Team (SIT), untuk menyelidikinya.
Apa yang terjadi?
Kerusuhan dimulai pada dini hari 27 September, ketika kabar menyebar bahwa seorang mahasiswi telah diperkosa di dalam atau di sekitar salah satu asrama universitas beberapa hari sebelumnya.
Sosok yang diduga sebagai pelaku digambarkan secara berbeda oleh mahasiswa dan sejumlah laporan media, mulai dari tukang ledeng, tukang cat hingga pekerja konstruksi. Beberapa mahasiswa mengatakan penyerangan terjadi pada 23 September dan menuduh universitas tidak mengambil tindakan setelah diberi tahu mengenai kejadian tersebut.
pesan mengenai dugaan pemerkosaan tersebut beredar melalui berbagai grup WhatsApp. Ketika kabar itu menyebar, kerumunan mahasiswa mulai berkumpul.
Ratusan orang kemudian meluber ke National Highway 44, jalur utama yang menghubungkan Delhi dan Punjab, sehingga lalu lintas terhenti selama lebih dari 15 jam. Pada Minggu malam, sejumlah properti universitas rusak, benda-benda dibakar, dan batu dilemparkan ke kendaraan polisi. Video menunjukkan polisi memukul demonstran menggunakan tongkat, meski polisi kemudian membantah telah melakukan pemukulan terhadap massa.
Di balik gerbang kampus, mahasiswa menggambarkan malam yang penuh ketakutan.
“Kami duduk sambil membawa pisau dan gunting,” kata Arya, seorang mahasiswa. Ia mengatakan para mahasiswa diminta mengunci diri di kamar, sementara ada orang-orang yang mengetuk pintu.
“Kami hanya berpikir bagaimana caranya malam itu berlalu dan kami bisa keluar dari sini.”
Polisi kemudian tiba dan membuat mereka merasa lebih aman, katanya. Keesokan harinya, ia ingin meninggalkan kampus.
“Orang tua kami juga ingin kami segera keluar dari sini.”
Lalu mengapa polisi mendaftarkan kasus?
Pembukaan kasus dan penyelidikan terhadap dugaan tersebut merupakan salah satu tuntutan utama para demonstran.
“Para mahasiswa menuntut agar FIR [First Information Report] didaftarkan, tetapi mereka tidak dapat memberikan nama korban kepada kami,” kata pejabat senior kepolisian Naveen Singla
Meski demikian, polisi tetap mendaftarkan FIR berdasarkan undang-undang pemerkosaan India terhadap orang yang belum diidentifikasi. FIR secara resmi mencatat sebuah dugaan untuk diselidiki, tetapi tidak membuktikan bahwa tindak pidana telah terjadi.
Singla mengatakan penyidik juga mulai memeriksa rekaman CCTV. Pemeriksaan awal, menurutnya sejauh ini tidak menunjukkan adanya orang dari luar yang memasuki sebuah kamar.
“Saat ini, belum dapat dipastikan apakah pemerkosaan benar-benar terjadi atau tidak,” katanya.
Namun, pemeriksaan rekaman masih terus dilakukan.
“Kampus ini cukup luas, sehingga kami belum dapat melihat semua kamera,” kata Sinha kepada wartawan pada Senin. “Kami awalnya memeriksa lokasi-lokasi yang disebutkan mahasiswa, tetapi kami akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.”
Mengapa protes membesar?
Sulit untuk memastikannya. Apa yang bermula dari dugaan pemerkosaan dengan cepat berkembang menjadi protes yang lebih luas mengenai keamanan, respons universitas, dan kemudian kekerasan yang terjadi.
Ada pula ketidakpastian yang semakin besar mengenai siapa saja yang berada di dalam kampus. Beberapa mahasiswa bersikeras bahwa aksi demonstrasi pada awalnya berlangsung damai dan menyalahkan pihak luar atas setidaknya sebagian dari kekerasan tersebut. Mahasiswa lainnya mengatakan bahwa mereka melihat orang-orang bertopeng atau orang yang tidak mereka kenal di dalam universitas.
“Kami benar-benar ketakutan,” kata Pawan, seorang mahasiswa. “Situasinya berubah menjadi medan pertempuran.”
Mahasiswa lain, Aniket Singh, mengatakan orang-orang dari luar masuk ke asrama perempuan dan mengetuk pintu sambil mengaku sebagai polisi. Polisi kemudian mengonfirmasi bahwa ada orang luar di antara kerumunan, tetapi mengatakan mereka masih berusaha mengetahui identitas serta peran mereka.
Di tengah kebingungan tersebut, upaya universitas untuk membantah dugaan pemerkosaan justru memicu kontroversi baru.
Pada Senin, LPU merilis video tiga perempuan yang tinggal di kamar asrama yang dikaitkan dengan dugaan penyerangan. Mereka mengatakan tidak terjadi apa pun di kamar tersebut dan meminta orang-orang berhenti mengganggu mereka.
Mahasiswa yang sama kemudian menyatakan dalam video lain bahwa pejabat universitas telah menginstruksikan apa yang harus mereka katakan, mengedit rekaman tersebut, dan mengunggahnya tanpa persetujuan mereka. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen. LPU belum memberikan komentar mengenai tuduhan para mahasiswa tersebut.
Klaim lain yang beredar selama protes berusaha mengaitkan dugaan pemerkosaan dengan bunuh diri seorang mahasiswi LPU asal negara bagian Telangana baru-baru ini. Polisi mengatakan penyelidikan mengenai kematiannya telah dimulai sebelumnya dan tidak ada bukti terverifikasi yang menghubungkan kedua kasus tersebut.
Apa yang terjadi sekarang?
Untuk sementara, kehidupan di kampus terhenti. Perkuliahan reguler ditangguhkan selama 10 hari dan ujian ditunda. Mahasiswa diminta pulang setelah berkonsultasi dengan orang tua atau wali mereka.
Mahasiswa yang tetap tinggal di kampus disarankan untuk berada di tempat tinggal masing-masing dan menghindari kerusuhan lebih lanjut.
Komisi Perempuan Negara Bagian Punjab juga meminta salinan FIR, rincian penyelidikan, serta informasi mengenai pengaturan keamanan mahasiswa.
Penyelidikan kini menghadapi dua pertanyaan terpisah: apakah terdapat bukti mengenai dugaan penyerangan yang memicu aksi protes, dan siapa yang bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi setelahnya?
Dalam pernyataannya kepada mahasiswa pada Senin, wakil rektor LPU, Rashmi Mittal, mengatakan dirinya kecewa karena meskipun universitas memiliki banyak saluran bagi mahasiswa untuk menyampaikan kekhawatiran, mereka justru “mempercayai rumor yang beredar”. Ia juga menuduh orang-orang dari luar kampus ikut dalam kerusuhan.
“Saya merasa mahasiswa tidak mungkin melakukan ini,” katanya.
