Jurnalis Amerika Serikat Evan Gershkovich mengatakan dirinya menyadari telah dijebak Rusia ketika ditangkap agen FSB dan dituduh sebagai mata-mata.
Dalam wawancara dengan program Today di Radio 4, Gershkovich menceritakan momen ketika menyadari dirinya telah “dipancing masuk ke dalam jebakan” setelah sejumlah pria bertopeng mengepungnya di sebuah restoran pada 2023 dan menangkapnya.
“Saya tidak diinterogasi, saya tidak disiksa… Saya dituduh melakukan spionase,” katanya. Ia mengaku justru merasakan kelegaan karena menyadari, “Mereka menjebak saya dan membuat kasus palsu agar saya bisa menjadi sandera yang berharga, pion dalam permainan yang lebih besar.”
Gershkovich, yang kini berusia 34 tahun, dijatuhi hukuman 16 tahun penjara, tetapi dibebaskan setelah menjalani 16 bulan dalam pertukaran tahanan tingkat tinggi.
Gershkovich telah tinggal di Rusia sejak 2017 dan saat ditangkap menjabat sebagai koresponden asing The Wall Street Journal di Moskow. Kini ia berbasis di Berlin, Jerman. Ia dan perusahaannya sejak awal selalu menyatakan bahwa tuduhan terhadapnya tidak benar.
Pada hari penangkapannya, Gershkovich berada di Yekaterinburg, sekitar 1.600 kilometer di sebelah timur Moskow, untuk bertemu seseorang yang diyakininya sebagai sumber berita.
Mereka duduk di ruang makan yang hampir kosong ketika “sekitar setengah lusin pria bertopeng masuk dan berkata, ‘Saya rasa kami memesan meja itu’.” Gershkovich mengatakan kalimat tersebut terdengar aneh, tetapi jika dipikir kembali, itu merupakan cara yang cerdik karena “membuat Anda terpaku di tempat”.
Kedua pria tersebut berdiri dan Gershkovich diberi tahu bahwa dirinya ditangkap oleh FSB, badan keamanan dalam negeri Rusia yang terkenal sekaligus memiliki kekuasaan besar.
“Pada saat itulah Anda menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang sangat serius… Kalau FSB yang datang, Anda tahu semua ini sudah direncanakan.”
Lalu bagaimana dengan pria yang ditemuinya? Gershkovich melihat orang tersebut menghilang di tengah kerumunan.
Tidak lama setelah ditangkap, sang jurnalis mengatakan dirinya menyadari bahwa fakta dirinya tidak diinterogasi atau disiksa, yang merupakan taktik umum yang digunakan aparat keamanan Rusia terhadap mata-mata, kemungkinan menunjukkan bahwa dirinya diperlakukan lebih sebagai komoditas daripada musuh negara yang sebenarnya.
“Saya mengalami momen aneh, rasa lega yang membanjiri diri saya,” katanya. “Saya menyadari mereka tidak memperlakukan saya seperti mata-mata sungguhan. Mereka menjebak saya dan membuat kasus palsu agar saya bisa menjadi sandera yang berharga, pion dalam permainan yang lebih besar. Itu berarti prosesnya akan memakan waktu, tetapi saya tidak akan berada di sini selama 12 sampai 20 tahun.”
Kesadaran tersebut membantunya tetap “stabil dan disiplin selama di penjara”, sekaligus memberinya cara unik untuk memperkirakan apa yang mungkin terjadi selanjutnya. Salah satu perkiraannya adalah pertukaran tahanan.
“Saya berasumsi hal ini akan menjadi berita besar, akan memicu kegemparan global. Maksud saya, dia adalah koresponden asing The Wall Street Journal,” katanya, dan perkiraan itu terbukti benar.
Organisasi media di seluruh dunia memberitakan kasus tersebut, wajahnya terpampang di sebuah papan iklan di Times Square, dan Presiden AS saat itu, Joe Biden, mengatakan tidak ada “prioritas yang lebih tinggi” baginya selain membawa Gershkovich pulang.
Sang jurnalis meyakini semua itu merupakan bagian dari rencana Moskow untuk memiliki tahanan terkenal yang dapat ditukar dengan salah satu warga mereka, yaitu Vadim Krasikov, seorang pembunuh bayaran yang menjalani hukuman penjara seumur hidup di Jerman.
“Mereka [Moskow] berhasil lolos dalam arti tidak ada sanksi yang dijatuhkan. Jadi, kalau dipikir secara sinis, mereka memainkan ini dengan sangat cerdas.”
Gershkovich ditahan di penjara Lefortovo yang terkenal di Moskow, tempat sejumlah tahanan paling terkenal di Rusia pernah ditahan selama bertahun-tahun, termasuk tahanan politik dan pembangkang. Pada masa Great Terror di bawah pemerintahan Joseph Stalin pada 1930-an, penyiksaan dan eksekusi menjadi hal yang lazim di tempat tersebut.
Ia menggambarkan penjara itu sebagai “pengalaman yang benar-benar mengisolasi”, dengan ruang yang sangat kecil.
“Kondisi itu secara psikologis membebani Anda,” kata Gershkovich. Namun, ia menambahkan bahwa dirinya diperlakukan dengan cukup baik. “Saya diizinkan tidur, makanannya baik-baik saja.”
Foto-foto Gershkovich yang tersenyum ke arah kamera saat menghadiri persidangan di Moskow disiarkan ke seluruh dunia. Ia mengatakan hal tersebut memang disengaja, sebagai cara untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Saya ingin menunjukkan semacam perlawanan ini… Kita tahu bahwa ini adalah kasus yang dibuat-buat, jadi jika ini adalah permainan teater, jangan biarkan [Moskow] menjalankannya sesuai dengan keinginan mereka.”
Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman setiap orang yang ditahan di penjara Rusia tidak seperti yang dialaminya.
“Sebagian orang… disiksa. Mereka dihancurkan sebagai manusia, tidak diberi makanan, tidak diberi air panas untuk mandi, diberi tahu bahwa mereka tidak akan pernah bertemu keluarga lagi. Saya diperlakukan dengan cara yang sama sekali berbeda.”
Gershkovich membandingkan pengalamannya dengan kasus jurnalis Ukraina Viktoriia Roshchyna, yang meninggal dalam tahanan Rusia pada 2024 dalam usia 27 tahun. Beberapa bulan kemudian, ketika jenazahnya akhirnya dikembalikan, jenazah tersebut dilaporkan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan sejumlah organnya telah diambil.
Gershkovich mengetahui adanya rencana pertukaran tahanan tiga minggu sebelum pertukaran itu berlangsung. Ia menyebut masa tersebut sebagai periode yang “menyiksa”, “karena sekarang setiap hari terasa sangat panjang dan menyakitkan”.
Ketika pertukaran itu akhirnya berlangsung pada 1 Agustus 2024, ia merasakan “kebahagiaan murni”. Namun kemudian, “kebahagiaan itu memudar, adrenalin mereda, dan Anda dihadapkan pada kenyataan bahwa Anda harus kembali menjalani kehidupan normal.”
Gershkovich mengatakan periode tersebut sulit dan terkadang terasa sangat berat. Ia tidak bisa tidur, mengalami serangan panik di tengah kerumunan besar, dan menjadi mudah marah karena berusaha memendam emosinya.
Ia telah menemui terapis yang berspesialisasi dalam gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan mengatakan menulis buku mengenai pengalamannya juga membantunya.
Lalu, bagaimana dengan kemungkinan kembali ke Rusia? Gershkovich memiliki sejarah panjang dengan negara tersebut. Orang tuanya pindah ke Amerika Serikat dari Uni Soviet pada 1970-an. Ia tumbuh dalam keluarga yang menggunakan bahasa Rusia, memiliki nama Rusia, pindah ke Rusia ketika berusia 25 tahun, dan memiliki banyak teman di sana, termasuk kekasihnya yang berkewarganegaraan Rusia.
“Saya berharap suatu hari bisa kembali, tetapi saya kira kita harus melihat apa yang terjadi setelah [Presiden Rusia Vladimir] Putin. Dan belum sepenuhnya jelas apakah pemerintahan berikutnya akan menjadi lebih baik.”
