Peringatan: Artikel ini memuat detail yang dapat mengganggu pembaca
Polisi di negara bagian Mississippi, Amerika Serikat, mengatakan mereka meyakini seorang perempuan kulit hitam telah meninggal sebelum jenazahnya “ditata” dan ditempatkan dalam posisi tergantung di sebuah pohon.
Pengungkapan tersebut disampaikan seorang detektif dalam persidangan pada Jumat. Ia juga mengatakan polisi meyakini Tasia Fortune, ibu empat anak, tewas dalam perselisihan yang berkaitan dengan narkoba.
Jenazah perempuan berusia 29 tahun itu ditemukan tergantung di sebuah pohon di sebuah rumah terbengkalai di Jackson pada Agustus.
Penemuan tersebut memicu kekhawatiran luas di kota yang mayoritas penduduknya berkulit hitam itu, mengingat sejarah panjang kekerasan rasial dan praktik hukuman mati dengan cara digantung atau lynching di negara bagian tersebut. Setelah berminggu-minggu muncul spekulasi dan desakan agar informasi diberikan kepada publik, polisi melakukan beberapa penangkapan.
Dalam siaran pers, polisi mengatakan pemeriksa medis telah menetapkan bahwa kematian Fortune merupakan pembunuhan dan bahwa “lokasi kejadian serta aksi penggantungan tersebut telah ditata”.
Pejabat belum mengungkap penyebab pasti kematian Fortune atau menjelaskan alasan mereka meyakini aksi penggantungan tersebut sengaja direkayasa.
Ibu Fortune mengatakan bahwa ia mengingat petugas koroner mengatakan kepadanya, “kami tidak menangani ini sebagai [kasus] penggantungan yang sebenarnya.” Menurut penjelasan yang diterimanya, putrinya telah meninggal sebelum ditempatkan di pohon tersebut.
Spivey juga mengingat polisi mengatakan kepadanya bahwa insiden tersebut “berkaitan dengan narkoba”.
Berbicara kepada wartawan di luar Departemen Kepolisian Jackson pada Jumat, Spivey menggambarkan bagaimana ia yakin putrinya berjuang mempertahankan hidup hingga akhir.
“Saya tahu dia melakukannya. Saya mengenal putri saya,” kata Spivey kepada wartawan. Fortune meninggalkan empat anak yang masih kecil, masing-masing berusia 7, 5, 4, dan 1 tahun, tambahnya.
Mengenakan kaus bertuliskan “Justice for Tasia Fortune”, Spivey menegaskan bahwa ia tidak ingin ada orang yang tidak bersalah dipenjara.
“Saya hanya berharap mereka menangkap orang yang tepat,” katanya.
Sejauh ini, tiga orang telah ditangkap terkait kasus tersebut dan semuanya merupakan warga kulit hitam. Salah satunya adalah Jarques Ratliff, 51 tahun, yang telah menyatakan tidak bersalah. Ia masih ditahan tanpa jaminan pembebasan.
Tersangka kedua, Earnest Lloyd Jr, 25 tahun, ditangkap terkait kasus tersebut pekan ini.
Tersangka ketiga, Eric Clark, 45 tahun, menyerahkan diri kepada pihak berwenang pada Jumat dan didakwa melakukan pembunuhan. Ia dijadwalkan menjalani persidangan pada Senin.
Kematian perempuan berusia 29 tahun tersebut merupakan salah satu dari sejumlah kasus dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong anggota parlemen meminta Departemen Kehakiman dan FBI menyelidiki seluruh kasus kematian warga kulit hitam yang ditemukan tergantung di Amerika Serikat.
Anggota DPR AS Ayanna Pressley dari Partai Demokrat, Massachusetts, menyebut setidaknya 10 insiden yang terdokumentasi dalam suratnya kepada Kongres pada September. Surat tersebut ditandatangani oleh lebih dari 50 anggota parlemen AS.
Insiden terbaru terjadi di Prince George’s County, wilayah pinggiran Washington DC yang mayoritas penduduknya berkulit hitam, pada Minggu. Kematian tersebut dinyatakan sebagai bunuh diri.
