Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya tidak akan pernah “bertekuk lutut” setelah hampir tujuh bulan berperang dengan Amerika Serikat dan Israel, tetapi tetap siap mencari solusi diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump untuk “melenyapkan” Republik Islam Iran jika kesepakatan tidak segera tercapai, Pezeshkian mengatakan dalam Sidang Umum PBB bahwa “perlawanan rakyat Iran hanya akan meningkat menghadapi sanksi, tekanan yang semakin besar, dan intimidasi yang semakin kuat”.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup penghentian blokade AS yang mencegah kapal-kapal Iran menggunakan jalur perairan strategis di Teluk.
“Tidak bisa semua pihak mendapatkan manfaat dari Selat Hormuz sementara kami justru dilarang mengaksesnya,” katanya.
Belum ada tanggapan langsung dari AS. Delegasi negara tersebut meninggalkan ruang sidang ketika Pezeshkian memulai pidatonya.
Presiden Iran Sebut AS Pelaku Terorisme
“Presiden AS menyebut kami teroris. Kami adalah korban terorisme,” kata Presiden Iran dalam sidang PBB di New York.
Ia kemudian mengangkat foto mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan terhadap kediamannya ketika AS dan Israel melancarkan serangan bersama pada akhir Februari.
Pezeshkian juga menunjukkan foto sejumlah korban dari lebih dari 175 warga sipil, dua pertiganya anak-anak, yang menurut otoritas Iran tewas dalam serangan rudal terhadap sebuah sekolah dasar di Minab dan kompleks olahraga di Lamerd pada hari yang sama. AS membantah menyerang Lamerd dan mengatakan masih menyelidiki apa yang terjadi di Minab.
“Rakyat kami yang tidak bersalah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang diarahkan terhadap negara kami. Dan kami membela diri dengan segenap kekuatan,” kata Pezeshkian.
Pada Rabu, serangan terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz menewaskan seorang pelaut India, menurut kantor berita Agence France-Presse yang mengutip otoritas Oman dan India.
Kementerian Luar Negeri India mengecam serangan tersebut dan menyerukan agar pelayaran tanpa hambatan melalui Selat Hormuz dipulihkan.
Pada Februari, Iran membalas kampanye serangan udara besar-besaran AS dan Israel dengan melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak yang menewaskan sejumlah orang di Israel serta negara-negara Arab di kawasan Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, dengan menyerang kapal-kapal komersial di Teluk, Teluk Oman, dan Laut Arab. AS kemudian memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan kapal Iran pada April.
Pada Juni, AS dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat tersebut. Namun, kesepakatan itu runtuh dalam hitungan pekan setelah serangan Iran terhadap pelayaran kembali terjadi dan AS memberlakukan kembali blokadenya.
Iran ingin mempertahankan tingkat kendali tertentu atas Selat Hormuz dan memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasinya. Namun, AS menolak tuntutan tersebut.
Trump Ancam “Melenyapkan” Iran
Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Selasa, Trump mengatakan dirinya menghadapi “keputusan besar”, yakni berunding untuk mencapai kesepakatan yang memungkinkan rakyat Iran membangun kembali negaranya, atau “melenyapkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat”.
Pezeshkian mengatakan ancaman tersebut merupakan “tanda mentalitas intimidasi”.
“[Trump] harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan meningkat menghadapi sanksi, tekanan yang semakin besar, dan intimidasi yang semakin kuat. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau bertekuk lutut,” katanya.
Namun, ia menambahkan: “Kami siap untuk dialog, diplomasi, dan perundingan tanpa menerima bahasa kekerasan.”
Pezeshkian menegaskan bahwa blokade AS harus dihentikan sebagai bagian dari kesepakatan apa pun.
“Tidak bisa semua pihak mendapatkan manfaat dari Selat Hormuz sementara kami dilarang menggunakan jalur perairan ini untuk pelayaran,” katanya.
Ia juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan melepaskan haknya untuk memiliki program nuklir sipil dan tidak akan berupaya mengembangkan senjata nuklir.
“Kami menyatakannya dengan jelas: tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir untuk tujuan damai.”
Dalam pidatonya, Trump berpendapat bahwa perang tersebut telah mencegah Iran memperoleh bom nuklir dan menuntut para pemimpin Iran “melepaskan ambisi nuklir mereka”.
Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff mengadakan perundingan tidak langsung yang dimediasi Qatar di sela-sela Sidang Umum PBB di New York.
Witkoff mengatakan ia berharap pembicaraan tersebut, yang merupakan perundingan pertama sejak Juni, akan “membuktikan hasil yang konstruktif dan menjanjikan”. Ia menambahkan bahwa para mediator akan melanjutkan upaya mereka.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baqai mengatakan pembicaraan tersebut “bukan sesuatu yang baru” dan Araghchi tetap mempertahankan sejumlah syarat Iran, termasuk penghentian blokade AS serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
